Tidur sering kali dianggap sebagai aktivitas yang bisa dikompromikan, terutama di tengah kesibukan pekerjaan atau godaan hiburan. Banyak individu merasa mampu beraktivitas normal meski hanya tidur beberapa jam setiap malam. Namun, anggapan ini keliru dan berpotensi membahayakan kesehatan jangka panjang.
Padahal, tidur memegang peranan krusial dalam menjaga keseimbangan fungsi tubuh. Saat seseorang mendapatkan istirahat yang cukup dan berkualitas, tubuh secara aktif melakukan berbagai proses pemulihan, mulai dari perbaikan sel, penyeimbangan hormon, hingga penguatan sistem kekebalan. Sebaliknya, kekurangan tidur secara terus-menerus dapat memicu serangkaian masalah kesehatan serius, baik fisik maupun mental, yang berisiko berkembang menjadi kondisi kronis.
Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id
Delapan Dampak Serius Akibat Kurang Tidur
Mureks merangkum dari laman Everyday Health, delapan masalah kesehatan berikut dapat muncul akibat kurang tidur:
-
1. Penurunan Kesehatan Otak
Gangguan tidur memiliki korelasi kuat dengan penurunan kemampuan kognitif, khususnya pada kelompok usia lanjut. Kurang tidur dapat secara signifikan memengaruhi daya ingat, konsentrasi, dan kapasitas berpikir secara menyeluruh. Beberapa studi bahkan mengindikasikan bahwa kualitas tidur yang buruk berkaitan dengan penuaan otak yang lebih cepat. Dalam sebuah penelitian jangka panjang, individu dengan gangguan tidur tercatat memiliki usia otak rata-rata yang lebih tua dibandingkan mereka yang tidur dengan baik. Penuaan otak dini ini meningkatkan risiko penurunan fungsi kognitif serta berhubungan dengan penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan demensia.
-
2. Depresi dan Gangguan Kecemasan
Dampak kurang tidur juga sangat terasa pada kesehatan mental. Orang yang menderita insomnia kronis diketahui memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami depresi dan gangguan kecemasan. Sekitar 40% penderita insomnia juga dilaporkan mengalami depresi klinis. Hubungan antara tidur dan kesehatan mental bersifat dua arah; gangguan emosional dapat memperburuk kualitas tidur, sementara kurang tidur dapat memperparah kondisi suasana hati. Dalam beberapa kasus, perbaikan pola tidur bahkan dapat membantu meringankan gejala depresi dan kecemasan.
-
3. Risiko Diabetes Tipe 2
Tidur yang kurang atau tidak berkualitas dapat mengganggu kemampuan tubuh dalam meregulasi kadar gula darah. Kondisi ini berpotensi meningkatkan resistensi insulin, yang merupakan salah satu faktor utama pemicu diabetes tipe 2. Penelitian menunjukkan bahwa kualitas tidur yang buruk berkaitan erat dengan sindrom metabolik, kadar gula darah tinggi, serta gangguan kerja insulin. Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, risiko seseorang untuk mengembangkan diabetes akan semakin besar.
-
4. Kenaikan Berat Badan dan Obesitas
Kurang tidur turut memengaruhi keseimbangan hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Ketika tubuh tidak mendapatkan istirahat yang cukup, hormon yang merangsang rasa lapar akan meningkat, sementara hormon yang memberi sinyal kenyang justru menurun. Akibatnya, individu cenderung makan lebih banyak dan kesulitan mengontrol nafsu makan. Meskipun kurang tidur dapat membuat tubuh membakar lebih banyak kalori, peningkatan asupan makanan biasanya jauh lebih besar, sehingga berat badan mudah naik dan risiko obesitas meningkat.
-
5. Hipertensi, Penyakit Jantung, dan Stroke
Tidur merupakan salah satu faktor esensial dalam menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah. Bahkan perubahan kecil dalam durasi tidur dapat memengaruhi risiko penyakit kardiovaskular. Tidur kurang dari lima jam per malam secara rutin dikaitkan dengan risiko penumpukan plak di pembuluh darah yang lebih tinggi. Selain itu, gangguan tidur seperti sleep apnea juga berhubungan dengan tekanan darah tinggi, serangan jantung, dan stroke.
-
6. Gangguan pada Kesehatan Ginjal
Hubungan antara tidur dan fungsi ginjal masih terus menjadi objek penelitian. Meskipun mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami, sejumlah bukti menunjukkan bahwa kualitas tidur yang buruk berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit ginjal kronis. Gangguan ritme biologis tubuh akibat pola tidur yang tidak teratur diduga berperan dalam menurunnya fungsi ginjal. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memperburuk kesehatan ginjal secara keseluruhan.
-
7. Sistem Kekebalan Tubuh Melemah
Tidur berperan vital dalam menjaga daya tahan tubuh. Individu yang tidur kurang dari tujuh jam per malam memiliki risiko lebih tinggi untuk terserang infeksi, termasuk flu dan berbagai penyakit lainnya. Selain itu, kurang tidur juga dapat mengurangi kemampuan tubuh dalam membentuk antibodi setelah vaksinasi. Akibatnya, perlindungan tubuh terhadap penyakit menjadi kurang optimal.
-
8. Kesehatan Usus Terganggu
Tidur juga memengaruhi keseimbangan mikrobioma usus, yaitu kumpulan bakteri baik yang hidup di saluran pencernaan. Perubahan pola tidur dapat mengganggu keseimbangan bakteri ini. Penelitian menunjukkan bahwa gangguan tidur dapat mengubah komposisi mikrobiota usus. Sebaliknya, kondisi usus yang tidak sehat juga dapat memengaruhi kualitas tidur, sehingga menciptakan siklus yang saling berkaitan dan saling memperburuk.
Melihat berbagai dampak serius di atas, kurang tidur bukanlah masalah sepele yang bisa diabaikan. Efeknya dapat memengaruhi hampir seluruh sistem tubuh, mulai dari fungsi otak, kesehatan jantung, metabolisme, hingga sistem imun dan pencernaan. Tidur bukan sekadar waktu untuk beristirahat, melainkan fondasi penting bagi kesehatan jangka panjang. Menjaga kualitas dan durasi tidur yang cukup merupakan langkah sederhana namun krusial untuk melindungi tubuh dari berbagai masalah kesehatan di masa depan.






