Sektor properti, khususnya pasar perkantoran, diproyeksikan akan memasuki fase pemulihan secara bertahap mulai tahun 2026. Meskipun proses rebound ini dinilai masih bertahap, arah pergerakannya semakin jelas menunjukkan sinyal positif.
Kepala Departemen Riset Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengungkapkan bahwa optimisme pelaku usaha terhadap kondisi ekonomi mulai menguat. Kepercayaan bisnis kembali terbentuk setelah periode penyesuaian yang panjang.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id
“Dan ini menjadi sinyal penting bahwa kepercayaan bisnis mulai pulih. Dan pelaku usaha juga sudah mulai melihat bahwa tahun 2026 ini lebih optimistis dibandingkan tahun sebelumnya. Tapi di sisi lain, hampir tidak ada gedung baru yang masuk pasar,” kata Ferry secara virtual pada Rabu (7/1/2026).
Kepercayaan bisnis yang membaik ini menjadi dorongan awal bagi pasar perkantoran, membuat pelaku usaha mulai berani merencanakan ekspansi ruang kerja. Di sisi lain, pasokan gedung baru yang sangat terbatas turut menjaga keseimbangan pasar.
Saat ini, pemilik gedung lebih fokus untuk mempertahankan penyewa eksisting dan meningkatkan kualitas bangunan. Kenaikan harga sewa pun dilakukan secara terbatas dan selektif.
“Pemilik gedung sekarang ini lebih fokus untuk menjaga penyewa yang ada di gedung mereka dan juga di saat yang bersamaan memperbaiki kualitas gedung. Mereka tidak menaikkan harga secara agresif,” ujar Ferry.
Kondisi tersebut membuat pasar masih berpihak pada penyewa. Namun, menurut pantauan Mureks, gedung perkantoran kelas A dan segmen premium mulai menunjukkan kinerja yang lebih kuat dibandingkan segmen lain.
“Jadi memang pasarnya sekarang ini masih condong ke penyewa atau tenants market, tapi gedung-gedung grade A dan gedung-gedung premium ini mulai menunjukkan performer kinerja yang lebih kuat atau lebih bagus,” lanjut Ferry.
Tren lain yang semakin terlihat jelas adalah meningkatnya minat terhadap gedung dengan akses transportasi publik. Kedekatan dengan MRT menjadi faktor penentu utama dalam pemilihan lokasi kantor.
“Trend lain yang makin jelas adalah kantor yang dekat dengan transportasi publik, terutama MRT. Ini jadi incaran, kemudian aksesibilitas sekarang ini benar-benar jadi faktor pembeda,” ungkap Ferry.
Permintaan juga mulai datang dari sektor teknologi, kendaraan listrik, serta industri baterai kendaraan listrik. Kehadiran perusahaan asal China dan Eropa turut memperkuat dinamika pasar perkantoran Jakarta.
“Selain itu juga permintaan dari sektor teknologi, kemudian kendaraan listrik yang berkantor juga, kemudian baterai untuk kendaraan listrik, jadi sesuatu yang berhubungan dengan electric vehicle, sehingga perusahaan asli dari China dan Eropa juga mulai masuk ke sini,” tambah Ferry.






