Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah sebenarnya mampu menekan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga nol persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, langkah tersebut berisiko besar menyebabkan perekonomian nasional berantakan.
“Sebetulnya kalau mau saya buat nol defisit juga bisa, saya potong anggarannya, tapi ekonomi morat-marit,” ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTa edisi Desember di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Purbaya menjelaskan, pilihan untuk menjaga defisit nol persen dapat dilakukan dengan menekan belanja negara secara drastis. Namun, kebijakan semacam itu dinilai akan membawa dampak negatif yang signifikan bagi stabilitas ekonomi.
Defisit APBN 2025 Melebar dari Asumsi Awal
Sepanjang tahun 2025, Mureks mencatat bahwa APBN Indonesia mengalami defisit sebesar Rp 695,1 triliun. Angka ini setara dengan 2,92 persen terhadap PDB, lebih besar dari asumsi awal APBN 2025 yang diproyeksikan sebesar Rp 616,2 triliun atau 2,53 persen terhadap PDB.
Defisit ini terjadi karena realisasi belanja negara melampaui pendapatan yang berhasil dihimpun. Realisasi pendapatan negara mencapai Rp 2.756,3 triliun, atau 91,7 persen dari target 2025 sebesar Rp 3.005,1 triliun.
Sementara itu, belanja negara pada periode yang sama menembus angka Rp 3.451,4 triliun, atau 95,3 persen dari target Rp 3.621,3 triliun.
Rincian Pendapatan dan Belanja Negara
Purbaya merinci, pendapatan negara per 31 Desember 2025 sebagian besar berasal dari penerimaan pajak sebesar Rp 1.917,6 triliun. Kontribusi lainnya datang dari kepabeanan dan cukai yang menyumbang Rp 300 triliun.
Selain itu, pendapatan negara bukan pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp 534,1 triliun, serta penerimaan hibah sebesar Rp 4,3 triliun.
Untuk sisi belanja negara, sebagian besar terserap oleh belanja pemerintah pusat, dengan realisasi mencapai Rp 2.602,2 triliun atau 96,3 persen dari target. Sementara itu, transfer ke daerah terealisasi Rp 894 triliun, atau 92,3 persen dari pagu APBN 2025 sebesar Rp 919,9 triliun.
Meski defisit APBN melebar, Purbaya menyebut posisi keseimbangan primer masih mencatat surplus Rp 180,7 triliun. Angka ini menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan outlook sebelumnya yang memproyeksikan defisit sebesar Rp 109,9 triliun.






