Internasional

CIA Akui Peran Gulingkan PM Mohammad Mosadegh Demi Kuasai Minyak Iran

Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) secara terbuka mengakui keterlibatannya dalam kudeta tahun 1953 yang menggulingkan Perdana Menteri Iran terpilih, Mohammad Mosadegh. Pengakuan ini terungkap melalui dokumen-dokumen CIA yang dipublikasikan pada 19 Agustus 2013, memberikan rincian upaya destabilisasi pemerintahan Iran yang mengubah hubungan kedua negara selamanya.

Keterlibatan AS dan Inggris dalam penggulingan Mosadegh didorong oleh kepentingan minyak Iran yang melimpah. Sebelum kudeta, hubungan Amerika Serikat dan Iran terbilang dekat pada era 1950-an, di bawah monarki Shah Reza Pahlavi. Iran sendiri merupakan negara pertama di Timur Tengah yang menemukan minyak pada tahun 1908 oleh William d’Archy.

Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id

Setahun setelah penemuan itu, The Anglo Persian Company didirikan dan kemudian pada tahun 1951 bertransformasi menjadi British Petroleum (BP), dengan 51 persen sahamnya dimiliki oleh pemerintah Inggris. Namun, situasi berubah drastis ketika Mohammad Mosadegh terpilih secara demokratis sebagai perdana menteri Iran pada tahun 1951. Salah satu kebijakan utamanya adalah menasionalisasi semua perusahaan minyak asing yang beroperasi di Iran.

Kebijakan nasionalisasi ini tidak disambut baik oleh Inggris. Bersama dengan Amerika Serikat, Inggris kemudian berkomplot untuk menjatuhkan Mosadegh. Operasi rahasia ini dipimpin oleh Kepala CIA, Kermit Roosevelt.

Menurut Stephen Kinzer, penulis buku “All the Shah’s Men”, Kermit Roosevelt dengan cepat menguasai pers Iran melalui suap dan menyebarkan propaganda anti-Mossadegh. Ia juga merekrut sekutu di kalangan ulama Islam dan menyebarkan berita palsu yang menggambarkan Mosadegh sebagai ancaman bagi masyarakat.

Upaya awal untuk menggulingkan Mosadegh sempat mengalami kegagalan. Sebuah upaya dramatis untuk menangkapnya di rumahnya pada tengah malam diketahui oleh Mosadegh, yang kemudian melakukan perlawanan. Keesokan paginya, ia bahkan mengumumkan kemenangannya melalui radio.

Namun, AS dan Inggris tidak menyerah. Dengan terus mendekati kelompok oposisi dan para demonstran, mereka secara konsisten menciptakan propaganda yang menyatakan Mosadegh sebagai ancaman bagi masyarakat Iran. Dalam catatan Mureks, upaya ini membuahkan hasil.

Hanya dalam tempo empat hari, CIA dan M16 (intelijen Inggris) berhasil menggulingkan Mosadegh pada 19 Agustus 1953. Perdana Menteri yang sebenarnya disukai rakyatnya itu kemudian menjadi pesakitan, menghadapi dakwaan di pengadilan.

Pasca-kudeta, Amerika Serikat kembali mengangkat Raja Pahlavi ke tampuk kekuasaan. Perusahaan-perusahaan minyak negara-negara barat yang sebelumnya dinasionalisasi diizinkan kembali masuk dan beroperasi melalui Konsorsium Minyak Iran (IOP). Mureks merangkum, konsorsium ini dipimpin oleh British Petroleum (BP, yang sebelumnya dikenal sebagai Anglo-Persian Oil Company).

Komposisi Konsorsium Minyak Iran

  • British Petroleum (BP): 40%
  • Lima perusahaan Amerika (The “Seven Sisters”): 40%
  • Perusahaan minyak Belanda (Royal Dutch Shell): 14%
  • Perusahaan minyak Prancis (Compagnie Française des Pétroles): 6%

Mereka bersama-sama mengoperasikan minyak Iran dengan pembagian keuntungan 50-50 dengan pemerintah Iran.

Namun, era Shah Reza Pahlavi kembali berakhir pada tahun 1979 melalui Revolusi Islam Iran. Perusahaan-perusahaan minyak barat pun kembali hengkang dari Iran. Momen ini menandai babak baru dalam hubungan Iran dengan negara-negara barat, khususnya Amerika Serikat, yang terus diwarnai ketegangan dan saling ancam hingga kini.

Dokumen-dokumen CIA yang terbit pada 2013 juga mengungkapkan bahwa Kermit Roosevelt mengatur bukan hanya satu, melainkan dua upaya untuk menggoyahkan pemerintahan Iran, yang secara fundamental mengubah dinamika hubungan antara Iran dan AS.

Mureks