Internasional

China Resmi Perketat Ekspor Perak Mulai Jumat Ini, Miliarder Dunia Khawatir Dampak Industri Global

Pemerintah China secara resmi memberlakukan pengetatan kontrol ekspor perak mulai Jumat, 2 Januari 2026. Kebijakan ini, yang menaikkan status perak dari komoditas biasa menjadi material strategis, segera memicu kekhawatiran di kalangan miliarder dunia, termasuk bos Tesla, Elon Musk, terkait dampaknya pada manufaktur global.

Melalui platform media sosial X, Musk menyatakan keprihatinannya terhadap dampak pembatasan tersebut pada proses manufaktur global. “Ini tidak baik. Perak sangat dibutuhkan dalam banyak proses industri,” tulis Musk menanggapi laporan mengenai kebijakan baru Beijing tersebut.

Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Kementerian Perdagangan China telah mengumumkan kontrol ini sejak Oktober lalu, namun baru berlaku efektif hari ini. Dengan aturan baru ini, perak kini disetarakan dengan logam tanah jarang (rare earths) dalam hal pengawasan regulasi. Selain perak, aturan baru di tahun 2026 ini juga membatasi ekspor tungsten dan antimoni, dua material krusial yang pasokan globalnya didominasi oleh China dan digunakan secara luas dalam teknologi pertahanan canggih.

Langkah Beijing ini merupakan bagian dari dinamika hubungan dagang dengan Amerika Serikat (AS). Saat pengumuman awal Oktober lalu, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sempat menyepakati gencatan senjata tarif selama satu tahun, namun pengawasan terhadap logam langka tetap diperketat oleh pihak China.

Dampak Global dan Reaksi Pasar

Pengetatan ekspor ini terjadi di tengah lonjakan harga perak yang signifikan. Sepanjang tahun 2025, harga perak tercatat naik lebih dari dua kali lipat, menuju performa tahunan terbaiknya sejak 1979. Awal pekan ini, harga perak sempat menyentuh rekor di atas US$ 80 (sekitar Rp 1,3 juta) per ounce sebelum diperdagangkan di kisaran US$ 73 (sekitar Rp 1,2 juta).

Lonjakan harga perak ini berbanding terbalik dengan performa Dollar AS. Indeks Dollar AS (DXY) anjlok hampir 9,5% sepanjang 2025, menjadi kinerja terburuknya sejak 2017. Analis pasar, Mureks mencatat bahwa kenaikan harga emas dan perak mencerminkan pergeseran investor yang mulai meninggalkan Dollar AS.

Profesor Ekonomi di George Mason University, Tyler Cowen, menegaskan, “Lonjakan harga ini adalah peringatan keras bagi ekonomi AS.”

Dampak pembatasan China mulai terasa di pasar fisik. CEO Kuya Silver yang berbasis di Kanada, David Stein, mengonfirmasi kepada CNBC International bahwa beberapa perusahaan China dan pembeli dari India mulai berebut pasokan fisik perak. Mereka bahkan berani menawar dengan harga premi US$ 8 (sekitar Rp 130 ribu) hingga US$ 10 (sekitar Rp 160 ribu) di atas harga pasar.

Dominasi China di Pasar Perak

Data menunjukkan betapa dominannya China dalam pasar ini. Dalam 11 bulan pertama tahun 2025, China mengekspor lebih dari 4.600 ton perak, jauh melampaui angka impornya yang hanya sekitar 220 ton.

Mureks