Keuangan

Cadangan Melimpah, Gas Bumi Jadi Kunci Transisi Energi Indonesia Menuju Net Zero Emission 2060

Gas bumi dinilai memegang peran strategis dalam masa transisi dari energi fosil menuju energi terbarukan. Sumber energi ini dianggap lebih bersih dibandingkan batu bara, serta memiliki cadangan yang cukup besar untuk menopang kebutuhan energi nasional dalam beberapa dekade ke depan.

Direktur Eksekutif Indonesian Petroleum Association (IPA), Marjolijn Wajong, menegaskan bahwa di tengah komitmen global untuk mengurangi emisi dan mencapai target Net Zero Emission 2060, gas menjadi energi fosil paling realistis untuk menjembatani peralihan dari energi konvensional ke energi terbarukan.

Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id

“Pada masa transisi ini, gas sangat dibutuhkan karena jauh lebih bersih daripada batu bara. Beruntungnya, potensi remaining (cadangan) Indonesia memang lebih banyak gas,” ujar Marjolijn Wajong, dalam acara “Naratama by Amir Sodikin (AMR): Masihkah Migas Dibutuhkan di Era Renewable Energy?”, dikutip Rabu (7/1/2025).

Indonesia Perlu Maksimalkan Eksplorasi dan Produksi Gas

Mureks mencatat bahwa berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), per 1 Januari 2025, Indonesia menyimpan cadangan gas bumi mencapai 55.852 Billion Standard Cubic Feet (BSCF). Angka ini menunjukkan potensi besar yang perlu dimaksimalkan.

Marjolijn Wajong, yang akrab disapa Meity, menekankan pentingnya Indonesia untuk memaksimalkan eksplorasi dan produksi gas. Hal ini guna memastikan pasokan energi dalam negeri tetap aman, seiring dengan meningkatnya kebutuhan listrik, industri, dan petrokimia.

Ia menegaskan bahwa energi fosil, khususnya gas, tidak bisa serta-merta ditinggalkan sebelum energi terbarukan benar-benar siap menggantikan perannya secara penuh. Gas juga masih dibutuhkan sebagai bahan baku industri strategis, seperti pupuk dan petrokimia.

“Energi fosil tidak cuma mau eksis demi eksis. Tugasnya adalah menjaga agar sebelum renewable cukup, kebutuhan energi Indonesia yang naik bisa terpenuhi. Kita menjaga jangan sampai peralihannya tiba-tiba, sementara kita belum siap,” ungkap Meity.

Tantangan Pengelolaan Gas dan Peran Pemerintah

Meski demikian, Meity mengingatkan bahwa pengelolaan gas memiliki tantangan tersendiri. Berbeda dengan minyak, gas membutuhkan perencanaan infrastruktur yang matang sejak tahap eksplorasi. Perencanaan ini mencakup aspek transportasi, pasar tujuan, hingga keekonomian proyek.

“Kalau mau eksplorasi gas, sudah harus lihat dulu nanti mau dibawa ke mana, transportasinya pakai apa, ekonomis atau tidak. Infrastruktur jadi penting,” kata dia.

Menurut Meity, pemerintah perlu memiliki perencanaan wilayah yang jelas terkait pengembangan gas. Ini termasuk kemungkinan membangun kawasan industri di dekat sumber gas. Integrasi kebijakan lintas Kementerian ESDM, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Keuangan juga diperlukan agar gas dapat dimanfaatkan secara optimal di dalam negeri.

“Pemerintah sebaiknya memikirkan daerah mana yang bakal jadi penghasil gas di masa depan, apakah mungkin membangun daerah industri di situ. Serta integrasi yang lebih baik antara kementerian diperlukan untuk membicarakan bagaimana membawa gas ke pasar,” papar Meity.

Referensi penulisan: money.kompas.com

Mureks