Keuangan

Bursa Asia Bergerak Variatif Jelang Rilis Inflasi China, Saham Uniqlo Melonjak Lebih dari 7 Persen

JAKARTA, Mureks – Pasar saham Asia-Pasifik menunjukkan pergerakan campuran pada perdagangan Jumat (9/1/2026), di tengah kehati-hatian investor menanti rilis data inflasi China. Di sisi lain, saham Fast Retailing, induk merek fesyen global Uniqlo, berhasil melonjak lebih dari 7 persen, menjadi sorotan utama di tengah sentimen pasar yang variatif.

Menurut pantauan Mureks, rilis data inflasi konsumen China untuk bulan Desember menjadi perhatian utama. Survei ekonom memproyeksikan inflasi tahunan (year on year/yoy) berada di level 0,8 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan angka November yang tercatat 0,7 persen. Ekspektasi ini memengaruhi keputusan investor di seluruh kawasan.

Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id

Kinerja Pasar Regional dan Lonjakan Uniqlo

Di Jepang, indeks acuan Nikkei 225 menguat 0,54 persen, sementara Topix naik 0,46 persen. Kinerja positif ini didorong oleh lonjakan saham Fast Retailing yang melesat lebih dari 7 persen. Perusahaan pemilik Uniqlo tersebut melaporkan laba operasional kuartalan melonjak sekitar sepertiga, sekaligus menaikkan proyeksi kinerja setahun penuh.

Fast Retailing menjelaskan bahwa penjualan global yang kuat mampu mengimbangi dampak tarif Amerika Serikat. Perusahaan juga menegaskan berada di jalur pertumbuhan laba untuk lima tahun berturut-turut, ditopang penjualan yang solid di China serta ekspansi agresif di Amerika Utara dan Eropa.

Sementara itu, di Korea Selatan, indeks Kospi turun 0,41 persen, dan Kosdaq melemah 0,21 persen. Pasar Australia juga bergerak terbatas, dengan S&P/ASX 200 sedikit di bawah level penutupan sebelumnya. Saham Rio Tinto anjlok lebih dari 5 persen setelah perusahaan tambang tersebut mengumumkan telah memasuki pembicaraan awal akuisisi dengan Glencore. Jika terealisasi, merger ini berpotensi melahirkan raksasa pertambangan dengan valuasi mendekati USD 207 miliar.

Di Hong Kong, Hang Seng Index diperkirakan dibuka menguat, dengan kontrak berjangka di level 26.312, dibandingkan penutupan sebelumnya di 26.149,31. Investor juga mencermati saham Hang Seng Bank setelah pemegang saham menyetujui rencana pemilik mayoritas, HSBC, untuk melakukan privatisasi.

Sentimen Geopolitik dan Pasar Global

Tim redaksi Mureks mencatat bahwa saham sektor pertahanan di kawasan Asia menguat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global. Sentimen ini muncul setelah operasi AS yang menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro, serta dorongan Presiden AS Donald Trump terkait penguasaan Greenland.

Di Wall Street, kontrak berjangka saham AS bergerak relatif datar pada awal perdagangan Asia. Investor menantikan laporan penting data tenaga kerja AS bulan Desember, serta potensi putusan Mahkamah Agung AS terkait legalitas tarif yang diterapkan Presiden Trump. Putusan tersebut dinilai berpotensi memengaruhi kebijakan perdagangan dan kondisi fiskal AS.

Pada perdagangan sebelumnya di Wall Street, Dow Jones Industrial Average menguat 270,03 poin atau 0,55 persen ke level 49.266,11. Namun, Nasdaq Composite tertekan 0,44 persen ke 23.480,02 akibat aksi jual di saham teknologi. S&P 500 naik tipis 0,01 persen dan ditutup di 6.921,46, dengan sektor teknologi informasi menjadi yang terlemah dengan penurunan lebih dari 1 persen.

Mureks