Nasional

Bukan Sekadar Ramalan: Tarot Jadi Cermin Refleksi Diri Anak Muda di Tengah Badai Ketidakpastian Hidup

Di tengah riuhnya informasi dan laju kehidupan yang serba cepat, generasi muda kerap dihadapkan pada ketidakpastian. Dalam pencarian makna, sebuah fenomena lama kembali menarik perhatian: kartu tarot. Kini, tarot tidak lagi sekadar dipandang sebagai alat ramalan, melainkan ruang refleksi dan pencarian makna diri.

Banyak individu, terutama anak muda, membuka kartu tarot bukan untuk mengetahui masa depan secara mutlak. Sebagian besar justru datang dengan rasa penasaran yang lebih mendalam: tentang diri sendiri, pilihan hidup, atau sekadar ingin memahami kegelisahan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!

“Manusia adalah makhluk pencari makna,” tulis Viktor Frankl dalam Man’s Search for Meaning. Kalimat ini terasa semakin relevan di tengah kehidupan modern. Ketika jawaban rasional tak selalu memberikan ketenangan, banyak orang mulai melirik cara lain untuk membaca hidup, termasuk melalui simbol-simbol tarot.

Tarot di Era Digital: Dari Mistis ke Populer

Tarot sebenarnya bukan hal baru. Namun, belakangan ini, kartu-kartu bergambar simbolik tersebut kembali ramai dibicarakan, terutama di media sosial. Video pembacaan tarot mudah ditemukan di lini masa, dibagikan sebagai hiburan, bahan obrolan, bahkan teman berpikir di sela rutinitas harian.

Yang menarik, tarot hari ini tidak selalu diposisikan sebagai sesuatu yang sakral atau mistis. Ia hadir dengan wajah yang lebih santai, kadang sebagai konten digital, kadang sebagai percakapan ringan, dan tak jarang pula sebagai cara menata pikiran di tengah hiruk-pikuk.

Sosiolog Anthony Giddens menyebut masyarakat modern hidup dalam manufactured uncertainty—ketidakpastian yang justru lahir dari sistem itu sendiri. Pendidikan tidak selalu menjamin pekerjaan, jalur karier tidak selalu bergerak lurus, dan relasi sosial semakin kompleks. Dalam situasi seperti ini, manusia cenderung mencari narasi yang bisa memberi pegangan.

Tarot, dengan simbol dan metaforanya, menawarkan cerita alternatif. Bukan jawaban pasti, melainkan kemungkinan. Bukan kepastian, melainkan sudut pandang baru yang bisa membantu seseorang memahami situasi.

Peran Media Sosial dan Tantangan Interpretasi

Peran media sosial dalam mempopulerkan tarot tidak bisa diabaikan. Tarot kini tampil dalam format singkat, visual, dan mudah dicerna. Ia berpindah dari ruang privat ke ruang publik, dari praktik sunyi ke konsumsi bersama yang lebih luas.

Fenomena ini sejalan dengan pandangan Stuart Hall tentang budaya populer sebagai ruang negosiasi makna. Tarot tidak lagi memiliki satu arti tunggal. Bagi sebagian orang, tarot merupakan hiburan; bagi yang lain, alat refleksi; sebagian lainnya menganggapnya sekadar tren sesaat.

Namun, menurut Mureks, di titik ini pula muncul tantangan. Ketika tarot dikonsumsi secara instan, ada risiko penyederhanaan makna. Kartu ditarik, jawaban diterima mentah-mentah, lalu dijadikan pegangan tanpa refleksi lebih lanjut yang mendalam.

Tarot—seperti praktik simbolik lainnya—tidak berdiri sendiri. Ia selalu berinteraksi dengan nalar, pengalaman hidup, dan keputusan personal. Masalah muncul ketika kartu dianggap menggantikan tanggung jawab manusia atas pilihannya sendiri.

Di sinilah batas perlu ditegaskan. Tarot bisa membuka percakapan internal, tetapi tidak seharusnya menjadi penentu tunggal keputusan hidup. Ia bisa membantu membaca perasaan dan memberi perspektif, tetapi tidak menggantikan proses berpikir kritis dan pengambilan keputusan yang matang.

Carl Jung pernah menyinggung simbol sebagai jembatan antara alam sadar dan bawah sadar. Dalam konteks ini, tarot bisa dibaca sebagai bahasa simbolik: bukan kebenaran mutlak, melainkan cermin yang memantulkan kondisi batin.

Anak muda tidak datang pada tarot karena ingin tahu masa depan secara mutlak, tetapi karena mereka hidup di masa kini yang penuh ketidakpastian. Di antara simbol, kartu, dan narasi yang terbuka untuk ditafsirkan, mereka menemukan satu hal yang sering hilang: kesempatan untuk mendengarkan diri sendiri sebelum dunia kembali menuntut jawaban.

Mureks