Nasional

Budaya Belajar Berbasis Hasil: Mengapa Anak SD Semakin Takut Salah?

Fenomena mengkhawatirkan tengah terjadi di ruang-ruang kelas sekolah dasar (SD) Indonesia. Banyak anak kini menunjukkan keraguan dan ketakutan untuk berbuat salah, sebuah kondisi yang dinilai menghambat proses belajar mereka. Bellaa Alpiptria, seorang Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Pamulang, menyoroti bagaimana budaya belajar yang terlalu menekankan hasil akhir telah membentuk mentalitas ini sejak dini.

Menurut Bellaa Alpiptria, ada sesuatu yang terasa mengganjal ketika memperhatikan suasana belajar anak SD saat ini. Banyak anak terlihat sangat berhati-hati dalam bersikap. Mereka ragu mengangkat tangan, menjawab dengan suara pelan, dan sering memilih diam meskipun sebenarnya memiliki pendapat. Kesalahan kecil seolah menjadi sesuatu yang harus dihindari, bukan bagian dari proses belajar. Padahal, sekolah dasar seharusnya menjadi ruang paling aman bagi anak untuk mencoba dan keliru.

Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id

Akar Ketakutan di Ruang Kelas

Ketakutan ini, menurut Bellaa, tidak muncul secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari kebiasaan yang terus berulang di ruang kelas. Kesalahan sering kali langsung dikoreksi tanpa memberi ruang bagi anak untuk menjelaskan cara berpikirnya. Jawaban salah segera dibenarkan, sementara jawaban benar diberi pujian. Dari situ, anak belajar bahwa yang dihargai bukan proses memahami, melainkan hasil akhir yang tepat.

Perlahan, anak mulai menyesuaikan diri dengan cara belajar yang aman: diam, mengikuti, dan tidak mengambil risiko. Bellaa Alpiptria mempertanyakan kembali peran sekolah dasar sebagai ruang belajar yang ramah bagi anak. Ia berpendapat bahwa anak SD berada pada fase paling wajar untuk melakukan kesalahan. Mereka masih membangun logika, mengenal pola, dan belajar memahami dunia di sekitarnya. Namun, tekanan untuk selalu benar membuat proses belajar terasa kaku dan menegangkan, bahkan sejak usia yang seharusnya dipenuhi rasa ingin tahu dan eksplorasi.

Tekanan untuk “bisa” sejak dini juga mendorong anak lebih mengandalkan hafalan daripada pemahaman. Anak belajar agar tidak salah, bukan agar benar-benar mengerti. Bellaa melihat bagaimana keberanian untuk mencoba perlahan menghilang, tergantikan oleh keinginan untuk aman di hadapan guru dan teman. Dalam kondisi seperti ini, bertanya menjadi risiko, dan diam terasa sebagai pilihan paling selamat.

Bukan Kurang Percaya Diri Bawaan

Yang lebih mengkhawatirkan, rasa takut ini kerap dianggap sebagai kurang percaya diri bawaan anak. Padahal, menurut Bellaa Alpiptria, ketakutan tersebut lebih tepat dipahami sebagai respons terhadap lingkungan belajar yang tidak memberi ruang aman. Anak-anak ini bukan tidak mampu, melainkan terbiasa menahan diri karena kesalahan sering dikaitkan dengan rasa malu atau penilaian negatif. Mereka belajar sejak awal bahwa tampil “aman” lebih penting daripada berpikir jujur.

Ia juga menyoroti bagaimana orang dewasa, baik guru maupun orang tua, sering kali tanpa sadar memperkuat situasi ini. Pertanyaan anak yang dianggap sepele dijawab singkat. Jawaban keliru langsung dibetulkan tanpa dialog. Proses berpikir anak jarang diberi waktu. Niatnya mungkin agar anak cepat paham, tetapi dampaknya justru membuat anak ragu pada pikirannya sendiri dan enggan mencoba di kemudian hari.

Dampak Jangka Panjang dan Peran Pendidikan

Dampak dari kondisi ini tidak berhenti di bangku sekolah dasar. Mureks mencatat bahwa fenomena ini tidak hanya berdampak pada proses belajar di sekolah dasar, tetapi juga membentuk karakter siswa di jenjang pendidikan selanjutnya. Anak yang terbiasa takut salah akan membawa sikap itu ke jenjang berikutnya. Mereka tumbuh menjadi siswa yang pasif, enggan berpendapat, dan takut mengambil keputusan. Ketika dewasa, mereka sering dinilai kurang berani atau kurang kritis, tanpa pernah menelusuri akar masalahnya pada pengalaman belajar paling awal.

Jika sejak sekolah dasar anak sudah terbiasa menahan pendapat dan takut keliru, maka sekolah kehilangan salah satu perannya yang paling penting: membantu anak mengenal cara berpikirnya sendiri. Pendidikan lalu berubah menjadi latihan kepatuhan, bukan proses pertumbuhan. Sekolah dasar seharusnya menjadi tempat pertama di mana anak memahami bahwa salah bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian alami dari proses belajar yang manusiawi.

Mureks