Berita

BNPB Perpanjang Status Tanggap Darurat Agam, Longsor Susulan Masih Ancam Warga

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali memperpanjang status tanggap darurat di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Keputusan ini diambil menyusul masih terjadinya bencana longsor susulan hingga beberapa hari terakhir.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa perpanjangan status ini khusus untuk Agam, sementara kabupaten/kota lain di Sumatera Barat telah beralih ke masa transisi darurat.

Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.

“Untuk kabupaten kota di Sumatera Barat, ini masih ada perpanjangan status tanggap darurat di satu kabupaten, yaitu Agam. Kabupaten Agam ini yang beberapa kali hingga tiga hari yang lalu itu masih ada bencana longsor susulan,” kata Abdul Muhari, dikutip dari YouTube BNPB Indonesia, Senin (5/1/2026).

Selain longsor, banjir lumpur yang kerap disertai batu-batu besar, atau yang dikenal warga lokal sebagai Galodo, juga masih melanda. Mureks mencatat bahwa fenomena ini terjadi akibat adanya rekahan di bagian hulu sungai. Kondisi ini menyebabkan hujan dengan intensitas sedang namun berdurasi lama dapat memicu longsor susulan.

“Jadi banjir lumpur diikuti oleh batu-batu besar yang di daerah disebut Galodo itu masih terjadi. Karena memang di bagian hulunya terdeteksi ada rekahan-rekahan yang kalau ada hujan dengan intensitas sedang tapi durasi lama ini masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan,” jelas Abdul Muhari.

Saat ini, BNPB terus melakukan pemantauan intensif dan langkah-langkah mitigasi guna meminimalkan potensi bencana susulan di Agam. Sementara itu, wilayah lain di Sumatera Barat sudah tidak lagi berada dalam status tanggap darurat, melainkan telah memasuki fase transisi darurat.

Upaya modifikasi cuaca juga masih terus digencarkan hingga hari ini. Langkah ini diambil untuk mengurangi potensi bencana susulan, mengingat kapasitas daya tampung sungai di wilayah tersebut masih sangat terbatas akibat tingginya sedimentasi.

“Karena saat ini kondisi atau kapasitas daya tampung dari saluran-saluran air utama ini sungai dan lain-lain ini masih sangat terbatas karena tingginya sedimentasi dan lain-lain sehingga hujan intensitas sedang pun kalau dia berlangsung lebih dari 2 jam itu bisa membuat luapan air,” ungkap Abdul Muhari.

Abdul Muhari menambahkan bahwa kondisi serupa telah terjadi beberapa kali, tidak hanya di Aceh, tetapi juga di beberapa lokasi di Sumatera Barat seperti Agam, Padang, dan Batu Busuak. Laporan visual menunjukkan luapan air yang cukup deras karena kapasitas daya tampung saluran utama yang belum optimal.

“Inilah yang terjadi beberapa kali tidak hanya di Aceh tapi juga Sumatera Barat, Agam, Padang, Padang di beberapa kali juga di Batu Busuak yang kita lihat ada sempat beberapa kali laporan visual yang cukup deras karena ini memang kapasitas daya tampung dari saluran utama ini belum optimal,” lanjutnya.

Pemerintah, melalui BNPB, terus mempercepat normalisasi saluran di darat, khususnya pada jalur sungai baru yang kerap menimbulkan luapan air saat hujan. Untuk penanganan banjir jangka panjang, pemerintah berencana melakukan pengerukan sungai dari muara ke hulu.

“Jadi tidak hanya di badan sungai yang ada di darat tapi juga nanti mulai dari muara naik ke atas dengan menggunakan kapal dredging yang lebih besar sehingga proses pendalaman saluran ini bisa lebih cepat,” pungkas Abdul Muhari.

Mureks