Otomotif

BMW Pangkas Harga Puluhan Model di Cina hingga 24 Persen Demi Bersaing dengan Produk Lokal

Produsen mobil mewah asal Jerman, BMW, secara resmi memberlakukan penyesuaian harga besar-besaran untuk lebih dari 30 model utamanya di pasar Cina. Kebijakan ini mulai berlaku sejak 1 Januari 2026, sebagai respons terhadap persaingan ketat dari produk-produk otomotif lokal yang menawarkan harga sangat terjangkau.

Langkah strategis ini diambil BMW untuk tetap kompetitif di tengah gempuran kendaraan roda empat asal Tiongkok. Menurut laporan Carnewschina pada Senin (05/01), “BMW Cina secara resmi mengumumkan penyesuaian besar-besaran terhadap harga jual eceran yang direkomendasikan untuk lebih dari 30 model utama.”

Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.

Penurunan harga yang diterapkan BMW terbilang agresif, dengan sebagian besar model mengalami penyesuaian sekitar 10 persen. Diskon ini berlaku untuk berbagai segmen, mulai dari model premium hingga kelas paling bawah.

Detail Penurunan Harga Signifikan

Salah satu contoh paling mencolok adalah model BMW i7 M70L. Kendaraan ini yang semula dibanderol 1,899 juta yuan (sekitar Rp 4,5 miliar), kini turun menjadi 1,598 juta yuan (setara Rp 3,8 miliar). Penurunan ini mencapai sekitar 16 persen, angka yang cukup besar untuk produk dari Benua Biru.

Mureks mencatat bahwa penurunan harga terbesar terjadi pada model iX1 eDrive25L. Pada tahun 2025, mobil listrik (EV) ini dijual seharga 299.900 yuan (sekitar Rp 717,9 juta). Namun, mulai tahun ini, konsumen dapat memperolehnya dengan harga 227.900 yuan (sekitar Rp 545,8 juta), atau terkoreksi sebesar 24 persen.

Bukan Perang Harga, Melainkan Peningkatan Nilai

Meski demikian, BMW menampik anggapan bahwa langkah ini merupakan “perang harga.” Pabrikan asal Jerman tersebut menegaskan bahwa keputusan ini adalah bagian dari strategi peningkatan nilai secara sistematis. Mereka menilai, langkah ini krusial agar tetap kompetitif di pasar Tiongkok dan menarik lebih banyak konsumen untuk membeli kendaraan BMW.

Tidak dapat dimungkiri, persaingan harga di Cina memang sangat sengit. Banyak pabrikan rela memangkas keuntungan demi menawarkan produk dengan banderol yang sangat terjangkau. Situasi ini, menurut beberapa pengamat, dinilai tidak sehat karena dapat mengancam keberlangsungan bisnis di masa depan jika keuntungan terus tergerus.

Mureks