Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan kondisi iklim di Indonesia sepanjang tahun 2026 akan cenderung normal dan stabil. Meskipun demikian, awal tahun diprediksi masih akan dipengaruhi oleh fenomena La Nina lemah sebelum berangsur netral hingga akhir tahun.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam unggahan di akun Instagram resmi @infobmkg, Sabtu (10/1/2026), menyatakan, “Informasi Pandangan Iklim 2026 ini diharapkan menjadi panduan umum dalam penetapan perencanaan, langkah mitigasi dan antisipasi serta kebijakan jangka panjang bagi berbagai sektor yang terdampak iklim.”
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Suhu Lebih Hangat dan Curah Hujan Normal
Menurut catatan Mureks, suhu rata-rata tahunan di Indonesia pada 2026 diperkirakan berkisar antara 25-29 derajat Celcius. Angka ini menunjukkan peningkatan kehangatan sebesar 0,2-0,6 derajat Celcius di sebagian wilayah jika dibandingkan dengan rata-rata periode 1991-2020.
Beberapa wilayah dataran tinggi seperti Bukit Barisan, Pegunungan Latimojong, dan Pegunungan Jaya diproyeksikan memiliki suhu lebih rendah, yakni sekitar 19-22 derajat Celcius. Sebaliknya, wilayah dengan suhu di atas 28 derajat Celcius meliputi sebagian selatan Sumatra, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, pesisir utara Jawa, dan sebagian Papua Selatan.
Untuk curah hujan, BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia, sekitar 94,7%, akan mengalami curah hujan normal, yaitu antara 1.500-4.000 mm per tahun. Musim hujan disebut akan lebih bersahabat. Namun, 5,1% wilayah lainnya diprediksi menerima hujan lebih tinggi dari biasanya, termasuk Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jawa Barat, Jawa Timur, hingga Bali.
Potensi Bencana dan Dampak Kesehatan
BMKG juga memberikan peringatan terkait potensi bencana dan dampaknya. Pada awal tahun, khususnya Januari hingga Maret, saat periode akhir La Nina lemah, masyarakat perlu mewaspadai potensi banjir dan tanah longsor.
Memasuki pertengahan tahun, saat periode kering, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu diantisipasi. Meskipun curah hujan yang cukup dapat membantu membersihkan polusi udara secara alami, warga tetap harus waspada terhadap potensi kabut asap akibat karhutla dan polusi industri saat musim kemarau.
Dari sektor kesehatan, kombinasi suhu hangat dan kelembapan tinggi dapat membuat udara terasa lebih gerah dan tidak nyaman. Kondisi ini juga berpotensi meningkatkan kasus demam berdarah (DBD) akibat genangan air yang menjadi sarang nyamuk.






