Internasional

Bentrokan Mematikan Pecah di Aleppo, Pasukan Pemerintah dan Pejuang Kurdi Saling Tuduh, Korban Sipil Berjatuhan

Ketegangan di Suriah utara memuncak pada Selasa (6/1/2026), ditandai dengan pecahnya bentrokan paling mematikan antara pasukan pemerintah Suriah dan pejuang Kurdi. Insiden berdarah ini terjadi di wilayah Aleppo yang diperebutkan, di tengah kebuntuan upaya integrasi pasukan Kurdi ke dalam militer nasional.

Korban Berjatuhan dan Saling Tuduh

Kantor berita pemerintah Suriah, SANA, melaporkan bahwa seorang tentara tewas dan tiga lainnya luka-luka akibat serangan yang dituduhkan kepada Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung Amerika Serikat. Media pemerintah juga menyebutkan tiga warga sipil tewas dan sembilan pegawai Direktorat Pertanian Aleppo terluka akibat penembakan yang diklaim dilakukan oleh SDF.

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Namun, SDF dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Melalui pernyataan resminya, SDF mengklaim bahwa proyektil yang jatuh di lingkungan al-Midan berasal dari faksi-faksi yang berafiliasi dengan pemerintah Damaskus. SDF justru menuding balik militer pemerintah telah meluncurkan serangan drone yang menewaskan seorang penduduk di wilayah Sheikh Maqsoud serta melukai dua anak-anak.

“Penembakan membabi buta ini merupakan serangan langsung terhadap area pemukiman dan membahayakan nyawa warga sipil secara serius,” tulis pernyataan SDF, sebagaimana Mureks mencatat.

Dampak Tragis pada Warga Sipil

Dampak pertempuran ini sangat dirasakan oleh warga sipil. Di Rumah Sakit Al-Razi Aleppo, suasana haru menyelimuti keluarga korban. Ahmad Abu Sheikh, seorang ayah, menunggu dengan cemas putrinya yang berusia 4 tahun, Fatima, yang harus menjalani operasi berjam-jam akibat terkena serpihan peluru.

“Saya hanya ingin tahu, apa yang harus saya katakan pada putri saya saat melihatnya nanti? Di mana matanya pergi?” ujarnya pilu setelah mengetahui Fatima harus kehilangan satu matanya.

Sejarah Konflik dan Kebuntuan Integrasi

Konflik ini merupakan cerminan dari sulitnya menyatukan kekuatan militer di Suriah pasca-runtuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024 lalu. Sejatinya, pemerintahan transisi di bawah Presiden Interim Ahmad al-Sharaa telah menandatangani kesepakatan pada Maret 2025 untuk melebur SDF ke dalam tentara nasional. Namun, implementasinya terhambat oleh sejarah permusuhan yang mendalam.

Banyak faksi dalam tentara nasional Suriah yang baru merupakan mantan pemberontak dukungan Turki, yang secara historis merupakan musuh bebuyutan pasukan Kurdi. Turki sendiri menganggap SDF sebagai organisasi teroris karena hubungannya dengan PKK.

Kementerian Pertahanan Suriah menuduh SDF mencoba menggagalkan kesepakatan 10 Maret dan menyeret tentara ke dalam pertempuran terbuka. Sebaliknya, SDF menyebut serangan pemerintah sebagai pelanggaran berat hukum humaniter internasional yang secara sistematis menargetkan infrastruktur penting seperti air dan listrik.

Meskipun ketenangan sempat kembali pada Selasa malam, bentrokan dilaporkan kembali berkobar hanya dalam hitungan jam, menandakan rapuhnya stabilitas di wilayah utara Suriah.

Mureks