Keuangan

Bahlil Lahadalia Desak PLN Percepat Pembangunan Pembangkit Listrik, Soroti Penurunan Investasi Sektor ESDM

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendesak PT PLN (Persero) untuk segera mempercepat pembangunan pembangkit listrik. Permintaan ini menyusul penurunan signifikan realisasi investasi sektor energi pada tahun 2025, khususnya di bidang kelistrikan.

Bahlil menyatakan akan segera berkoordinasi dengan PLN untuk mendorong percepatan proyek-proyek pembangkit baru yang telah disetujui dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2025 di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.

Penurunan investasi sektor ESDM menjadi perhatian utama. Mureks mencatat bahwa realisasi investasi pada tahun 2024 mencapai 32,3 miliar dollar AS, namun angka tersebut terkoreksi menjadi 31,7 miliar dollar AS sepanjang tahun 2025. “Di mana koreksinya? Di listrik,” tegas Bahlil, menyoroti sektor kelistrikan sebagai penyebab utama penurunan.

Rincian realisasi investasi tahun 2025 menunjukkan bahwa sektor mineral dan batu bara menyumbang 6,7 miliar dollar AS, sementara sektor minyak dan gas bumi mencapai 18,0 miliar dollar AS. Sektor energi baru, terbarukan, dan konservasi energi mencatat 2,4 miliar dollar AS. Adapun sektor listrik hanya berada di angka 4,6 miliar dollar AS.

Menanggapi data tersebut, Bahlil mengungkapkan, “Ini saya lihat memang ada terjadi butuh effort dan kerja keras agar bisa tercapai.”

Pemerintah sendiri menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 gigawatt (GW). Dari total tersebut, 42,6 GW atau 61 persen akan berasal dari energi baru dan terbarukan (EBT). Fasilitas penyimpanan energi direncanakan sebesar 10,3 GW (15 persen), dan pembangkit berbasis fosil diproyeksikan sebesar 16,6 GW (24 persen).

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, sebelumnya menjelaskan bahwa pelaksanaan RUPTL membutuhkan investasi sekitar Rp 3.000 triliun dalam kurun waktu sepuluh tahun. Program ambisius ini diharapkan tidak hanya menciptakan lapangan kerja skala besar, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional, menekan emisi gas rumah kaca, serta mendorong transisi dari energi impor ke sumber domestik.

Menurut Darmawan, pengembangan sistem kelistrikan tersebut juga menuntut pembangunan jaringan transmisi sepanjang 48.000 kilometer dan penambahan kapasitas gardu induk hingga 109.000 MegaVolt-Ampere.

Mureks