Dunia dikejutkan oleh operasi militer kilat Amerika Serikat (AS) yang berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, pada Sabtu dini hari, 3 Januari 2026. Washington dengan cepat meluncurkan narasi bahwa penangkapan ini adalah kemenangan bagi demokrasi dan penegakan hukum terhadap “narkoterorisme”.
Namun, bagi para analis ekonomi politik global, dakwaan pidana tersebut hanyalah lapisan tipis yang menutupi motif utama yang jauh lebih besar: Penyelamatan sistem Petrodollar yang sedang mendapat ancaman serius dari blok ekonomi BRICS+.
Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Ancaman Petrodollar dan Urgensi Venezuela
Untuk memahami urgensi di balik penangkapan Maduro, kita harus menengok kembali pada 15 Agustus 1971. Saat itu, Presiden Richard Nixon mencabut standar emas dari dolar AS (Nixon Shock). Sejak saat itu, dolar tidak lagi didukung oleh emas, melainkan oleh “rasa percaya” dan—yang paling penting—oleh minyak. Kesepakatan AS-Arab Saudi tahun 1974 memastikan bahwa minyak global dijual secara eksklusif dalam dolar, menciptakan permintaan global yang tak terbatas terhadap mata uang Amerika. Selama dunia butuh minyak, dunia butuh dolar.
Namun, di tahun 2026, sistem yang telah bertahan selama setengah abad ini menghadapi ancaman eksistensial dari blok ekonomi baru BRICS+ (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, dan anggota baru).
Mengapa Venezuela menjadi begitu krusial? Jawabannya terletak pada data cadangan energi global. Berdasarkan laporan U.S. Energy Information Administration (EIA) tahun 2025, peta kekuatan minyak dunia sangat timpang:
- Venezuela: Memiliki 18% cadangan dunia (303 Miliar Barel)—terbesar di planet bumi.
- Arab Saudi: Memiliki 16% cadangan.
- Iran & Irak: Gabungan keduanya mencapai ~17%.
- Amerika Serikat: Hanya memiliki ~4% cadangan.
Secara strategis, jika AS berhasil mengamankan pemerintahan di Venezuela yang patuh pada sistem moneter Washington, AS secara efektif akan mengontrol atau mendikte arus cadangan sebesar 22% dunia (gabungan cadangan domestik dan Venezuela). Ini adalah langkah checkmate terhadap negara-negara yang mencoba keluar dari orbit dolar.
Sejarah Intervensi dan Reaksi Keras BRICS+
Sejarah menunjukkan bahwa Washington tidak pernah berkompromi dengan pemimpin yang mencoba mendiversifikasi mata uang perdagangan minyak mereka:
- Irak: Saddam Hussein beralih ke Euro pada tahun 2000; tiga tahun kemudian ia digulingkan.
- Libya: Muammar Gaddafi mengusulkan dinar emas untuk minyak; rezimnya berakhir dalam hitungan bulan setelah intervensi.
- Venezuela: Maduro secara aktif mempromosikan perdagangan minyak dengan Yuan Tiongkok dan Rubel Rusia, serta meluncurkan mata uang kripto “Petro”. Bagi Gedung Putih, langkah Maduro bukan sekadar pembangkangan politik, melainkan juga upaya “pembunuhan” terhadap nilai dolar.
Blok BRICS+ melihat operasi ini sebagai upaya neokolonialisme ekonomi. Kementerian Luar Negeri Rusia di Moskow segera mengeluarkan pernyataan yang menyebut tindakan ini sebagai “penculikan negara” (state kidnapping). Bagi Rusia, Venezuela adalah mitra strategis di mana perusahaan minyak negara Rusia, Rosneft, telah menanamkan investasi miliaran dolar. Moskow melihat ini sebagai langkah AS untuk memutus pengaruh Rusia di belahan bumi barat dan mengambil alih aset energi yang sah secara paksa.
Tiongkok, sebagai kreditor terbesar Venezuela, menanggapi dengan nada yang lebih dingin, tetapi tajam. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyatakan bahwa “kedaulatan energi suatu bangsa tidak boleh ditentukan oleh pengadilan domestik negara lain.” Tiongkok memiliki kontrak jangka panjang dengan Venezuela yang dibayar dalam Yuan. Jika AS mengontrol minyak Venezuela, strategi “Petroyuan” Tiongkok akan mengalami pukulan telak. Analisis dari Shanghai Institute for International Studies (2025) menunjukkan bahwa Tiongkok melihat penangkapan ini sebagai pesan dari AS kepada negara-negara berkembang: “Jangan mencoba meninggalkan dolar, atau pemimpin Anda akan berakhir di penjara Amerika.”
“Exorbitant Privilege” dan Dampak Ekonomi
Di balik drama penangkapan di Caracas, terdapat istilah ekonomi yang sangat ditakuti di Washington: “Exorbitant Privilege” (Hak Istimewa yang Berlebihan). Istilah ini merujuk pada kemampuan AS untuk mencetak uang demi membiayai defisit anggarannya karena dunia selalu membutuhkan dolar untuk membeli energi.
Hingga akhir 2025, perdagangan minyak global dalam dolar masih bertahan di angka ~80%, turun dari 90% pada dekade sebelumnya. Penurunan 10% ini, menurut catatan Mureks, telah menyebabkan inflasi yang signifikan di pasar domestik AS. Dengan menguasai Venezuela, AS berharap dapat memaksa angka 80% ini naik kembali, atau setidaknya mencegahnya merosot lebih jauh ke bawah 50%—titik di mana dolar akan kehilangan statusnya sebagai mata uang cadangan dunia.
Mekanisme Ekspor Inflasi
Sejak era Nixon, AS telah mengekspor inflasinya ke seluruh dunia. Ketika Federal Reserve mencetak triliunan dolar, nilai mata uang tersebut tidak langsung jatuh karena dolar tersebut segera diserap oleh bank sentral negara lain untuk cadangan devisa agar mereka bisa membeli minyak. Jika Venezuela—pemilik 18% cadangan dunia—berhasil memigrasikan perdagangannya ke Yuan atau mata uang BRICS, triliunan dolar yang selama ini “terparkir” di luar negeri tidak lagi memiliki kegunaan. Dolar-dolar ini akan mengalir kembali ke pasar domestik AS, yang hasilnya adalah hiperinflasi. Harga barang di Amerika akan melonjak bukan karena kelangkaan barang, melainkan karena banjirnya uang yang selama ini tertahan oleh sistem Petrodollar.
Ancaman Terhadap Pembiayaan Utang AS
Saat ini, utang nasional AS telah mencapai angka yang fantastis di tahun 2026. AS mampu membayar bunga utang ini karena permintaan global terhadap obligasi pemerintah AS (Treasury) tetap tinggi. Negara-negara yang memiliki surplus dolar dari hasil penjualan minyak biasanya menginvestasikan kembali dolar tersebut ke dalam surat utang AS. Dengan menangkap Maduro, AS sebenarnya sedang melakukan beberapa hal:
- Forced Re-investment: Memastikan bahwa pendapatan dari 303 miliar barel minyak Venezuela di masa depan akan kembali masuk ke sistem perbankan New York dan surat utang AS.
- Defensive Monopoly: Menghancurkan model “Petroyuan” sebelum Tiongkok mampu mengamankan kontrak jangka panjang yang bisa meruntuhkan dominasi obligasi AS.
Perang Melawan Harga Marginal
Dalam ekonomi minyak, harga ditentukan di “margin”. Meskipun Venezuela hanya menyumbang persentase tertentu dari produksi harian, cadangannya yang masif menentukan ekspektasi harga jangka panjang. Jika 18% cadangan dunia ini diperdagangkan di luar sistem dolar, kontrol Federal Reserve terhadap stabilitas moneter global akan berakhir. Penangkapan Maduro adalah upaya untuk memastikan bahwa Oil Benchmarking—seperti Brent atau WTI—tetap berada dalam denominasi dolar, mencegah munculnya indeks harga berbasis Yuan atau emas di Amerika Latin.
Saat Nicolás Maduro duduk di kursi terdakwa di pengadilan federal New York pada 5 Januari 2026, yang sedang diadili sebenarnya bukan hanya seorang individu. Di sana juga sedang diadili hak bangsa-bangsa untuk menentukan mata uang mereka sendiri. Tim redaksi Mureks merangkum, Amerika Serikat telah memilih jalur militeristik—seperti halnya dengan apa yang mereka lakukan di Timur Tengah—untuk mempertahankan hegemoni moneter yang sudah lahir dari era Nixon.
Penangkapan Maduro bukan sekadar aksi polisi dunia menangkap penjahat narkotika; ini adalah intervensi moneter yang dipersenjatai (weaponized monetary intervention). Washington menyadari bahwa jika cadangan minyak terbesar di dunia jatuh ke dalam sistem pembayaran non-dolar, era “uang gratis” bagi Amerika Serikat akan berakhir. Tanpa kontrol atas Venezuela, dolar hanyalah kertas tak berharga; dengan kontrol atas Venezuela, dolar dapat tetap terjaga statusnya sebagai emas hitam.






