Internasional

APRISINDO Desak Pemerintah Negosiasi Tarif Ekspor Sepatu 0% ke AS Demi Daya Saing Global

Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) mendesak pemerintah untuk menekan tarif resiprokal ekspor alas kaki ke Amerika Serikat (AS) hingga 0%. Saat ini, tarif sebesar 19% dinilai terlalu memberatkan dan membuat industri alas kaki nasional kurang kompetitif di pasar global.

Direktur Eksekutif APRISINDO, Yoseph Billie Dosiwoda, mengapresiasi langkah pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Namun, ia menegaskan bahwa perjuangan untuk sektor padat karya ini belum boleh berhenti. “Untuk industri alas kaki yang padat karya, kami berharap tarif resiprokal ke AS bisa 0% atau jauh di bawah 19% agar lebih kompetitif dibanding Vietnam, Kamboja, Pakistan, Bangladesh, India, hingga China,” ujar Yoseph dalam keterangannya, Sabtu (3/1/2026).

Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Dorongan ini muncul di tengah kabar bahwa perjanjian tarif resiprokal Indonesia-AS hampir rampung. Namun, skema tarif nol persen disebut baru menyasar komoditas berbasis sumber daya alam tropis, sementara sektor manufaktur padat karya masih menghadapi tarif yang relatif tinggi.

Yoseph mengungkapkan, tarif 19% untuk alas kaki telah berlaku sejak 7 Agustus 2025. Sebelumnya, tarif berada di level 10%, bahkan sempat muncul wacana kenaikan hingga 32% pada periode April dan Juli 2025. “Faktanya, sejak tarif 19% berlaku, tekanan ke industri sangat terasa,” kata Yoseph.

Tekanan tersebut tercermin pada kinerja ekspor. Mureks mencatat bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor alas kaki Indonesia ke AS pada Agustus hingga September 2025 tercatat turun 23,14%. Menurut APRISINDO, penurunan ini berkorelasi langsung dengan melemahnya pesanan dari pasar AS akibat tarif masuk yang lebih tinggi.

“Kalau pesanan turun, dampaknya ke produktivitas dan tenaga kerja tidak bisa dihindari. Risiko lay-off jadi sangat nyata, seperti yang sudah terjadi di sektor tekstil,” ujar Yoseph, menyoroti potensi dampak sosial dari kondisi ini.

APRISINDO menilai ada sejumlah faktor lain yang membuat posisi industri alas kaki Indonesia lebih berat dibanding negara pesaing. Salah satunya adalah kenaikan upah pekerja yang masih tinggi pada akhir 2025, sementara Vietnam tercatat tidak menaikkan upah selama dua tahun terakhir. “Biaya produksi kita juga masih tinggi, mulai dari listrik, gas, impor bahan baku, sertifikasi mesin, hingga PPN jasa subkontrak dan perizinan,” jelas Yoseph.

Di tengah tantangan eksternal dan biaya produksi, pengusaha lokal juga berupaya beradaptasi. Usmar Ismail (42), pendiri merek sepatu lokal, membagikan pengalamannya saat pandemi. “Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan para pengusaha untuk bisa bertahan di tengah pandemi covid-19, yang pertama adalah terus melakukan inovasi dan tanggap terhadap kebutuhan market online,” jelasnya Usmar Ismail. Ia menambahkan pentingnya menguasai keunikan produk dan cekatan menangani keluhan pelanggan untuk membangun loyalitas.

Di sisi lain, perluasan pasar melalui perjanjian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dengan tarif 0% masih harus menunggu proses ratifikasi yang diperkirakan baru rampung pada kuartal I-2027. Kondisi ini membuat pasar AS tetap menjadi tumpuan penting dalam jangka pendek.

APRISINDO juga menyoroti berbagai biaya non-produksi yang terus membebani pelaku usaha. Menurut Yoseph, relasi tripartit antara pemerintah, industri, dan pekerja perlu dijaga agar tercipta perlindungan yang saling menguntungkan dan berkelanjutan. “Negara memang perlu hadir melindungi industri sampai cukup kuat bersaing global, seperti teori infant industry yang dikemukakan Friedrich List,” ujarnya.

Dengan lebih dari 960 ribu tenaga kerja yang terserap di industri alas kaki, APRISINDO menilai penurunan tarif ekspor ke AS menjadi kunci menjaga sektor ini tetap tumbuh. “Tujuan kami jelas, tarif ke AS harus lebih rendah dari negara pesaing agar produktivitas dan serapan tenaga kerja bisa stabil. Industri alas kaki ini masih sunrise dan menjadi penyangga penting ekonomi nasional,” pungkas Yoseph.

Mureks