Kebiasaan duduk berjam-jam telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup modern, mulai dari bekerja di depan komputer, rapat panjang, hingga bersantai di depan televisi atau gawai. Sering dianggap sebagai aktivitas pasif yang aman, namun pandangan ini keliru. Para ahli kesehatan memperingatkan bahwa duduk terlalu lama, yang dikategorikan sebagai pola hidup sedentari, menyimpan berbagai risiko serius bagi tubuh dan mental.
Dampak Gaya Hidup Sedentari yang Mengintai
Melansir dari laman Prevention, sejumlah dokter dan peneliti telah mengidentifikasi berbagai bahaya yang mengintai akibat kebiasaan duduk berkepanjangan. Dampaknya tidak hanya terasa dalam jangka pendek, tetapi juga dapat menumpuk dan memengaruhi kualitas hidup secara signifikan di masa mendatang. Mureks merangkum, setidaknya ada enam bahaya utama yang perlu diwaspadai:
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
-
Depresi dan Kecemasan
Duduk dalam waktu lama, khususnya saat bekerja, memiliki korelasi kuat dengan kesehatan mental. Sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Mental Health and Physical Activity menunjukkan, semakin banyak waktu yang dihabiskan dalam posisi duduk, semakin tinggi pula risiko seseorang mengalami depresi dan kecemasan. Ironisnya, risiko ini tetap meningkat meskipun individu tersebut rutin berolahraga. Ini mengindikasikan bahwa aktivitas fisik teratur saja tidak cukup jika sebagian besar waktu lainnya dihabiskan untuk duduk. Sebaliknya, individu yang lebih sering bergerak sepanjang hari cenderung memiliki suasana hati yang lebih stabil dan merasa lebih bahagia.
-
Nyeri Punggung dan Leher
Keluhan pada punggung dan leher merupakan dampak paling umum dari kebiasaan duduk terlalu lama. Gregory Billy, M.D., seorang profesor ortopedi dan rehabilitasi di Penn State University, menjelaskan bahwa “duduk selama empat jam saja sudah dapat memberi tekanan pada bantalan tulang di punggung bawah.” Risiko ini semakin besar jika posisi duduk dilakukan dengan postur yang buruk, seperti membungkuk atau leher terlalu menunduk, yang bahkan dapat memicu gangguan serius seperti hernia nukleus pulposus.
-
Risiko Kanker
Penelitian juga menemukan kaitan antara kebiasaan duduk berkepanjangan dengan peningkatan risiko kanker, terutama kanker usus besar dan kanker endometrium. Peningkatan risiko ini tetap terlihat bahkan setelah faktor olahraga diperhitungkan. Diduga, duduk terlalu lama memicu peradangan, kenaikan berat badan, serta perubahan metabolisme tubuh. Tinjauan dalam Journal of the National Cancer Institute melaporkan bahwa setiap tambahan waktu duduk dua jam per hari meningkatkan risiko kanker usus besar hingga 8 persen dan kanker endometrium hingga 10 persen.
-
Obesitas, Diabetes, dan Penyakit Jantung
Dampak signifikan lainnya adalah pada kesehatan metabolik. Selain mengurangi pembakaran kalori, kebiasaan ini dapat mengganggu kerja hormon insulin dalam memindahkan gula darah ke dalam sel, seperti dijelaskan oleh dr. Alter. Akibatnya, kadar gula darah cenderung meningkat, yang berujuk pada peningkatan risiko diabetes. Lebih lanjut, kadar kolesterol jahat dan penanda peradangan dalam tubuh bisa naik, metabolisme lemak terganggu, serta fungsi pembuluh darah menurun. Semua faktor ini secara kolektif berkontribusi pada peningkatan risiko obesitas dan penyakit jantung.
-
Tulang Menjadi Rapuh
Aktivitas fisik seperti berjalan atau berdiri memberikan tekanan yang esensial bagi tulang, merangsang tubuh untuk memperbarui jaringan tulang lama dengan yang baru agar tetap kuat. Namun, saat terlalu sering duduk, rangsangan tersebut berkurang, membuat proses pembaruan tulang menjadi tidak optimal. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan tulang menjadi rapuh dan meningkatkan risiko osteoporosis, terutama pada individu yang memasuki usia lanjut.
-
Gumpalan Darah
Salah satu bahaya serius yang patut diwaspadai adalah terbentuknya gumpalan darah. Posisi duduk yang berkepanjangan dapat memperlambat aliran darah di kaki, diperparah dengan kemungkinan menurunnya kadar protein yang berfungsi mencegah pembekuan darah. Sebuah studi di British Medical Journal menemukan bahwa wanita yang duduk lebih dari 40 jam per minggu memiliki risiko lebih dari dua kali lipat mengalami gumpalan darah yang dapat berpindah ke paru-paru, dibandingkan mereka yang hanya duduk kurang dari 10 jam per minggu.
Meskipun duduk sulit dihindari sepenuhnya dalam aktivitas sehari-hari, risiko-risiko tersebut dapat diminimalisir dengan kebiasaan sederhana. Para ahli menyarankan untuk berdiri atau berjalan sejenak setiap satu jam, melakukan peregangan ringan, serta tetap aktif sepanjang hari. Dengan demikian, tubuh tetap bergerak dan kesehatan dapat terjaga secara lebih optimal.






