Beijing diprediksi akan terus mempercepat modernisasi militernya dan memperluas kehadiran di laut lepas sepanjang tahun 2026, berpotensi menggusur dominasi Amerika Serikat (AS) sebagai kekuatan maritim global. Prediksi ini muncul setelah China berhasil meluncurkan sejumlah kapal perang canggih dan memperluas jangkauan operasionalnya di Pasifik selama setahun terakhir.
Saat ini, Angkatan Laut China telah menjadi yang terbesar di dunia berdasarkan jumlah lambung kapal, dengan lebih dari 370 unit kapal dan kapal selam, termasuk tiga kapal induk. Pentagon, melalui laporan tahunannya, secara konsisten memperingatkan bahwa Beijing memiliki ambisi kuat untuk menggusur posisi AS sebagai negara adidaya militer global.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Kapal Induk Fujian dan Inovasi Maritim China
Salah satu pencapaian paling signifikan adalah pengoperasian CNS Fujian, kapal induk tercanggih China yang dilengkapi sistem katapel. Teknologi mutakhir ini memungkinkan peluncuran pesawat yang lebih berat dan mematikan, termasuk jet tempur siluman J-35.
“Hal ini menunjukkan pergeseran China menuju kekuatan udara laut yang lebih tahan banting dan berjarak tempuh jauh,” ujar Tom Shugart, analis dari Center for a New American Security, kepada Newsweek pada Jumat, 2 Januari 2026.
Selain itu, China juga telah memulai uji coba kapal serbu amfibi Type 076. Kapal ini terbilang unik karena kemampuannya meluncurkan drone dan pesawat menggunakan katapel, diprediksi akan memainkan peran kunci dalam mendukung operasi ekspedisi di Laut China Selatan atau sekitar Kepulauan Senkaku.
Mureks mencatat bahwa keberhasilan China mengelilingi Australia dan melakukan operasi kapal induk ganda di Pasifik Barat menunjukkan peningkatan kenyamanan mereka dalam beroperasi jauh dari daratan utama. Meskipun belum memiliki jaringan pangkalan global seperti AS, Pentagon menilai Beijing tengah mempertimbangkan sejumlah negara di Afrika, Asia, Karibia, dan Pasifik sebagai lokasi pangkalan potensial untuk memproyeksikan kekuatan udara dan lautnya.
“Pada 2026, China kemungkinan akan memperluas durasi dan frekuensi penempatan armadanya, bahkan hingga melintasi Garis Batas Penanggalan Internasional,” jelas Alex Luck, analis maritim yang berbasis di Australia.
Target Kesiapan Militer dan Ambisi Kapal Induk
Modernisasi besar-besaran ini sejalan dengan peringatan Pentagon bahwa China menargetkan kesiapan militer untuk memenangkan perang atas Taiwan pada akhir 2027. Selain kapal perang konvensional, China terus mengembangkan kapal tongkang pendarat modular dan menggunakan kapal sipil dalam latihan amfibi guna memfasilitasi invasi melintasi Selat Taiwan.
Di sisi lain, Pentagon juga meluncurkan klaim mengejutkan bahwa China bertujuan memiliki total sembilan kapal induk. Jika target ini tercapai, jumlah tersebut akan melampaui armada kapal induk AS yang saat ini ditempatkan di Pasifik, yakni sebanyak enam unit.
Menanggapi ekspansi maritim China, Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump mulai memacu program “Golden Fleet” (Armada Emas). Program ini bertujuan mempercepat pembangunan kapal perang baru, termasuk kapal frigat yang dijadwalkan meluncur pada 2028, demi mempertahankan supremasi angkatan laut AS di kawasan Pasifik.
Menanggapi kekhawatiran internasional, Juru bicara Kedutaan Besar China di Washington D.C., Liu Pengyu, menyatakan bahwa pengembangan militer China tidak ditujukan kepada pihak ketiga manapun. “Tujuannya semata-mata untuk menjaga kedaulatan nasional, keamanan, dan kepentingan pembangunan,” tegas Liu.






