Tren

Alexander Zverev Akui Masih Tertinggal Jauh dari Dominasi Alcaraz dan Sinner di Puncak Tenis Dunia

Petenis peringkat tiga dunia, Alexander Zverev, secara terbuka mengakui bahwa dirinya masih memiliki “banyak pekerjaan rumah” untuk menyamai dominasi Carlos Alcaraz dan Jannik Sinner di puncak tenis global. Pernyataan ini disampaikan Zverev di sela-sela keikutsertaannya dalam ajang United Cup di Sydney, akhir pekan lalu.

Petenis Jerman berusia 28 tahun itu memang menutup musim 2025 di peringkat ketiga dunia, tepat di belakang Alcaraz dan Sinner. Namun, menurut Mureks, jarak poinnya dengan dua pemain teratas tersebut terpaut lebih dari 6.000 angka, menunjukkan kesenjangan performa yang signifikan. “Tentu saja, peringkat satu dan dua sekarang cukup jauh di depan. Itu tidak terjadi pada akhir 2024, ketika saya finis sebagai nomor dua dunia (di belakang Sinner),” ujar Zverev, seperti dikutip AFP. Ia menambahkan, “Saya merasa harus mengejar cukup banyak, tapi begitu juga dengan pemain lain di tur.”

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Musim 2025 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi Zverev. Ia hanya berhasil meraih satu gelar juara di Munich dan bergulat dengan berbagai masalah cedera sepanjang tahun. Meskipun sempat mencapai final Australian Open sebelum dikalahkan Sinner, performanya di tiga Grand Slam lainnya serta di ATP Finals jauh dari harapan.

Kendati demikian, Zverev tetap menilai 2025 sebagai sebuah kemajuan, mengingat kondisi yang ia hadapi. “Saya punya banyak masalah fisik, cedera datang sepanjang musim. Jadi, bagi saya, finis di peringkat tiga dunia tetap sesuatu yang patut dibanggakan,” kata Zverev. Ia juga tidak menampik bahwa musim tersebut “bukan musim yang saya inginkan. Gelar-gelar besar yang saya incar juga tidak datang.”

Selain masalah fisik, Zverev juga mengungkapkan perjuangannya dengan kesehatan mental. Ia bahkan mengambil jeda selama satu bulan setelah tersingkir di putaran pertama Wimbledon. “Saya liburan, menghabiskan waktu dengan teman-teman, lalu kembali berlatih. Saya mengubah suasana,” tuturnya. Ia melihat kekalahan di Wimbledon sebagai titik balik: “Kalah di putaran pertama Wimbledon, tentu saya tidak ingin itu terjadi, tapi dalam satu sisi justru membantu karena saya bisa memulai ulang. Itu menjadi titik balik.”

Kini, Zverev memimpin tim Jerman di ajang United Cup sebagai turnamen pembuka musim 2026, sebelum bertolak ke Melbourne Park untuk kembali mengejar gelar Grand Slam pertamanya, ambisi yang hingga kini masih belum terwujud. Berbeda dengan Zverev, Alcaraz dan Sinner memilih jalur persiapan yang lain, hanya akan tampil dalam laga ekshibisi di Korea Selatan sebelum Australian Open. Skenario ini, menurut Zverev, kurang cocok untuk dirinya. “Beberapa pemain seperti Jannik dan Carlos mampu langsung tampil di Australian Open dan bermain hebat sejak awal,” jelas Zverev. “Saya merasa diri saya lebih seperti mesin diesel. Saya perlu waktu untuk panas dulu, baru kemudian bisa bermain tenis terbaik. Karena itu, saya perlu turnamen pemanasan.”

Mureks