JAKARTA – Perum Bulog mencatat rekor penyerapan Gabah Kering Panen (GKP) dari petani sepanjang tahun 2025. Angka 4.537.490 ton GKP yang berhasil diserap menjadi yang tertinggi sejak Bulog didirikan pada tahun 1968, menandai capaian krusial dalam memperkuat stabilitas pangan nasional.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengungkapkan prestasi ini dalam jumpa pers bertajuk Capaian Krusial Bulog 2025 dan Langkah Strategis 2026 di Jakarta, Jumat (2/1). “Pengadaan gabah kering panen 4.537.490 ton sepanjang tahun 2025, ini pengadaan yang tertinggi selama Bulog berdiri dari tahun 1968. Jadi ini top perform-nya Bulog,” tegas Rizal.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Menurut Mureks, penyerapan gabah yang masif ini memiliki peran vital. Saat Bulog aktif menyerap, petani tidak tertekan oleh fluktuasi harga saat panen raya, sehingga pendapatan mereka lebih terjamin. Di sisi lain, langkah ini juga krusial bagi ketahanan pangan nasional, karena pasokan beras lebih terkendali dan gejolak harga di tingkat konsumen dapat diredam secara efektif.
Rizal menambahkan, capaian penyerapan GKP yang tinggi ini juga menjadi indikator positif peningkatan produksi domestik. Hal ini sekaligus menunjukkan efektivitas kebijakan pemerintah dalam memperkuat sektor hulu pertanian dan memastikan hasil panen petani terserap optimal oleh negara.
Selain GKP, Bulog juga mencatat pengadaan Gabah Kering Giling (GKG) sebesar 6.863 ton dan pengadaan beras dalam negeri mencapai 765.504 ton sepanjang 2025. Secara keseluruhan, total pengadaan setara beras mencapai 3.191.969 ton nasional, angka yang menurut Rizal juga menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Bulog. Ini mencerminkan konsistensi penguatan cadangan pangan nasional melalui optimalisasi penyerapan hasil pertanian dalam negeri secara berkelanjutan.
Keberhasilan kinerja Bulog ini, lanjut Rizal, tidak terlepas dari sinergi lintas sektor. Dukungan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta keterlibatan aparat TNI-Polri dan pemangku kepentingan pertanian di tingkat lapangan nasional menjadi kunci. “Ini suatu capaian yang luar biasa. Ini kami bisa mencapai ini bukan karena Bulog sendiri, ini dibantu TNI-Polri, kemudian seluruh stakeholder pemerintah,” ucap Rizal.
Pendampingan intensif kepada petani melalui penyuluh pertanian lapangan (PPL) juga menjadi faktor penting. Kolaborasi dengan berbagai pihak memungkinkan Bulog hadir langsung di sentra produksi, mempercepat proses pengadaan, serta mengurangi potensi penurunan harga gabah di tingkat petani secara signifikan. Tingginya penyerapan gabah sepanjang 2025 ini turut memperkuat posisi cadangan beras pemerintah, sehingga negara memiliki bantalan stok yang memadai untuk stabilisasi harga dan penyaluran pangan.






