Internasional

Wamen ESDM Yuliot: “Insya Allah Capaian 605 Ribu Barel Tercapai Tahun Ini”

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan optimistis realisasi produksi terangkut (lifting) minyak nasional pada tahun 2025 akan mencapai target yang telah ditetapkan, yakni sebesar 605 ribu barel per hari (bph). Keyakinan ini disampaikan di tengah proses konsolidasi data akhir capaian lifting yang sedang berlangsung.

Wakil Menteri ESDM Yuliot memastikan bahwa pihaknya bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) tengah merampungkan data tersebut. “Jadi untuk capaian lifting 2025 kan kita lagi konsolidasikan target kita untuk tahun 2025 ini kan 605 ribu barel itu per hari. Jadi kan data akhir itu kan lagi dikonsolidasikan oleh SKK Migas. Insya Allah capaian 605 itu tercapai tahun ini,” ujar Yuliot saat ditemui di Kementerian ESDM pada Jumat (2/1/2026).

Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.

Yuliot mengakui, sebelumnya realisasi lifting sempat mengalami penurunan akibat gangguan teknis. Salah satu insiden terjadi pada fasilitas produksi ExxonMobil di wilayah Cepu, yang mengalami kebocoran. Namun, gangguan tersebut telah berhasil ditangani dengan cepat. “Ya kemarin itu kan juga ada kendala, ada kebocoran di ExxonMobil di Cepu. Tapi dua hari itu sudah bisa diperbaiki. Jadi ini kembali ke produksi normal kembali,” jelasnya.

Strategi Pemerintah Kejar Target Lifting Minyak

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia telah membeberkan tiga strategi utama pemerintah untuk mengejar target lifting minyak 605.000 bph pada tahun 2025. Strategi ini dirancang untuk memaksimalkan potensi sumber daya minyak dan gas bumi di Indonesia.

  1. Peningkatan Produksi Melalui Enhanced Oil Recovery (EOR)

    Metode ini fokus pada intervensi teknologi pada sumur-sumur eksisting. Bahlil menjelaskan, “Yang pertama sumur-sumur yang ada sekarang, kita harus intervensi dengan teknologi. Dengan EOR, salah satu diantara teknologi yang menjadi pilihan.”

  2. Percepatan Produksi dari Lapangan Migas dengan Persetujuan POD

    Pemerintah berupaya mempercepat produksi dari lapangan-lapangan migas yang sudah mendapatkan persetujuan Plan of Development (POD). Menurut Mureks, terdapat lebih dari 300 lapangan yang masih dalam proses persetujuan POD. Bahlil mencontohkan Blok Masela yang sudah puluhan tahun mangkrak meski POD telah disetujui. Ia bahkan mengancam akan memutus kontrak Inpex selaku operator Blok Masela jika tidak segera memulai produksi. “Saya kasih surat peringatan. Kalau ente nggak mau, saya cabut izinnya, peringatan pertama. Begitu surat cinta keluar, langsung tender FEED-nya. Dan target produksi kita itu di 2028-2029. Artinya memang, mengelola energi kita nggak bisa dengan hanya wajah yang disukai semua orang,” tegas Bahlil.

  3. Pemanfaatan Sumur Tidak Aktif (Idle Wells) dan Sumur Tua

    Strategi terakhir adalah peningkatan produksi melalui pemanfaatan sumur-sumur yang selama ini tidak aktif (idle wells) serta sumur-sumur tua yang masih memiliki potensi. Bahlil mengungkapkan, “Bapak-Ibu semua, total sumur kita di luar sumur masyarakat, di luar sumur masyarakat, total sumur kita itu kurang lebih sekitar 40 ribu sumur. 39, hampir 40 ribu sumur.” Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 16.700 hingga 17.000 sumur yang berproduksi, sebagian besar merupakan sumur tua peninggalan zaman Belanda. “Dan sumur-sumur ini sebagian besar menjadi sumur-sumur yang usianya lebih tua daripada saya. Itu di saat jaman Belanda. Bahkan sebelum Indonesia Merdeka usia sumur ini. Di sisi yang lain ada sumur-sumur yang idle. Ada kurang lebih sekitar 14.000 yang sudah terverifikasi, kurang lebih sekitar 7.000 sampai 8.000 sumur,” pungkasnya.

Mureks