Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, menutup perdagangan Rabu, 31 Desember 2025, dengan pelemahan. Namun, di balik koreksi akhir tahun tersebut, pasar saham AS secara keseluruhan mencatatkan kinerja yang solid sepanjang 2025, didorong oleh sektor teknologi.
Tekanan jual yang dominan di penghujung tahun memicu indeks utama bergerak di zona merah, seiring dengan aksi ambil untung yang dilakukan investor. Indeks S&P 500 turun 0,74% dan ditutup pada level 6.845,50. Nasdaq Composite melemah 0,76% ke posisi 23.241,99, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 303,77 poin atau 0,63% menjadi 48.063,29.
Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Pelemahan ini memperpanjang tren penurunan Wall Street selama empat sesi berturut-turut. Kendati demikian, koreksi yang terjadi tergolong terbatas dan tidak menghapus capaian impresif sepanjang tahun.
Kinerja Impresif Sepanjang 2025
Sepanjang tahun 2025, S&P 500 berhasil menguat 16,39%, menandai kenaikan dua digit untuk tahun ketiga berturut-turut. Nasdaq Composite bahkan melonjak 20,36%, terutama didorong oleh optimisme terhadap sektor kecerdasan buatan (AI). Sementara itu, Dow Jones mencatatkan kenaikan tahunan 12,97%, meskipun pertumbuhannya sedikit tertahan oleh minimnya eksposur saham teknologi.
Mureks mencatat bahwa kinerja tersebut menegaskan ketahanan Wall Street di tengah berbagai tekanan global sepanjang tahun lalu.
Capaian positif Wall Street pada 2025 juga mencerminkan pemulihan signifikan dari tekanan hebat yang sempat terjadi pada awal April. Kala itu, pasar saham global terguncang usai pengumuman kebijakan tarif besar-besaran oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
S&P 500 sempat terperosok hampir 19% dari puncak tertingginya pada Februari dan nyaris memasuki wilayah bear market. Indeks tersebut bahkan sempat ditutup di bawah level 5.000 untuk pertama kalinya sejak April 2024.
Namun, pasar perlahan bangkit seiring meningkatnya keyakinan bahwa kebijakan tarif akan disesuaikan. Keith Buchanan, senior portfolio manager di Globalt Investments, menilai pasar telah mengambil pelajaran penting dari gejolak tersebut. “Pemerintah telah memetik pelajaran bahwa pasar lebih mampu menyerap tarif yang lebih cerdas, lebih spesifik, serta diterapkan secara bertahapm,” kata Buchanan.
Prospek Pasar Saham di Tahun 2026
Buchanan menambahkan, pasar saham kini mampu melihat lebih jauh ke depan, termasuk menghadapi potensi perubahan kebijakan tarif pada 2026. “Berkat pengalaman tahun 2025, pasar kini mampu mengantisipasi setiap perubahan tarif di tahun 2026, dengan keyakinan bahwa pemerintah akan mengingat pelajaran dari tahun 2025 dan sektor korporasi Amerika mampu beradaptasi dengan cepat demi menjaga margin keuntungan mereka,” ujarnya.
Meski demikian, pelemahan di akhir tahun tetap memicu kewaspadaan pelaku pasar. Penurunan ini terjadi pada periode yang secara historis dikenal menguntungkan, yakni lima hari perdagangan terakhir tahun berjalan dan dua hari pertama tahun berikutnya, yang kerap disebut sebagai reli Santa Claus.
Aksi ambil untung yang terjadi belakangan juga dinilai dapat menjadi sinyal meningkatnya volatilitas ke depan. Sejumlah analis yang disurvei CNBC memperkirakan S&P 500 masih berpeluang mencatatkan kenaikan dua digit pada 2026.
Namun, banyak yang menilai Wall Street berpotensi bergerak terbatas, sembari menunggu pertumbuhan laba emiten menyusul valuasi yang sudah tinggi.






