Nasional

Wajah Baru Radikalisme: Mengintai Generasi Z, Perempuan, dan Anak-anak Lewat Ruang Digital

Penyebaran paham radikalisme dan terorisme kini menghadapi metamorfosis signifikan. Jika sebelumnya target utama adalah individu dewasa dan laki-laki, kini kelompok ekstremis secara masif membidik generasi muda, kaum perempuan, dan anak-anak, memanfaatkan celah di ruang digital.

Pergeseran ini menjadi sorotan utama dalam diskusi publik, termasuk dalam program “Sarapan Bubur Pedas” (Saran dan Pandangan, Bual-bual Urusan Politik, Edukasi Kesadaran Sosial) Seri ke-8 yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) di Podcast Tribun Batam, Batam. Tema “Kewaspadaan Dini Terhadap Paham Radikalisme dan Terorisme di Kalangan Generasi Muda” menjadi relevan menyusul insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta baru-baru ini.

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Radikalisme Digital: Lebih dari 63 Persen Penyebaran di Ruang Maya

Fenomena kekerasan ekstrem oleh remaja bukanlah hal baru. Laporan Nasional BNPT tahun 2023 secara tegas mencatat bahwa lebih dari 63 persen proses penyebaran paham ekstremisme kini terjadi di ruang digital. Media sosial dan platform pesan tertutup menjadi kanal utama yang dimanfaatkan para pelaku.

Radikalisme, sebagai paham atau aliran yang menghendaki perubahan sistem sosial dan politik secara drastis atau ekstrem, seringkali menjadi hulu dari terorisme. Terorisme sendiri didefinisikan sebagai penggunaan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk menciptakan suasana teror atau ketakutan secara luas guna mencapai tujuan politik, ideologis, atau keagamaan.

Dulu, radikalisme kerap dikaitkan dengan aliran keagamaan eksklusif. Namun, wajah radikalisme dan terorisme telah berubah. Kajian BRIN periode 2022-2023 mengonfirmasi perubahan pola ini, menemukan bahwa kelompok ekstremis secara aktif memperluas target menuju Gen Z, perempuan muda, dan anak-anak, sejalan dengan strategi global yang dikenal sebagai youth centric radicalisation.

Modus Perekrutan Bergeser ke Media Sosial dan Game Online

Metode perekrutan tidak lagi konvensional melalui pengajian atau penyebaran buku “keras”. Kini, para perekrut mengikuti perkembangan era digital, memanfaatkan media sosial, game online, konten digital, dan ruang-ruang virtual yang sulit diawasi oleh orang tua maupun guru.

Faktanya, di beberapa wilayah, generasi Z, perempuan, dan anak-anak sudah mulai terpapar paham radikalisme. Laporan Unesco tahun 2023 menyebutkan bahwa remaja berusia 12-18 tahun adalah kelompok paling rentan terhadap ekstremisme digital, terutama yang berbentuk konten video pendek, forum game, dan grup chat privat.

Data Anti Teror Polri dan KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) tahun 2024-2025 menunjukkan kecenderungan serupa. Generasi muda (Gen Z & Alpha), perempuan, dan anak-anak bukan hanya terpapar pasif, melainkan aktif dijadikan target perekrutan oleh jaringan radikal dan ekstremis.

Kasus SMAN 72 Jakarta pada November 2025 menjadi alarm keras. Seorang siswa terpapar konten ekstrem kekerasan berbasis internet dan merakit bahan peledak setelah terinspirasi tayangan “true crime” dan komunitas kekerasan online. Temuan ini menegaskan bahwa radikalisasi kini tidak melulu soal agama, tetapi juga ekstremisme kekerasan yang tumbuh dari ruang digital.

Densus 88 baru-baru ini mengungkap jaringan yang merekrut anak-anak berusia 10-18 tahun melalui game online dan Instagram. Mureks mencatat bahwa sebanyak 110 anak teridentifikasi telah didekati atau direkrut. Para perekrut memanfaatkan fitur chat di dalam game untuk membangun kedekatan emosional sebelum menanamkan paham radikal. Temuan lapangan ini selaras dengan laporan UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime) 2023 yang menyebut bahwa perekrutan melalui game online menjadi tren global karena interaksi antarpemain berlangsung tanpa pengawasan dan bersifat personal.

Peran Perempuan dan Keluarga dalam Jaringan Radikal

Dinamika serupa terjadi pada grup perempuan. Peran mereka bukan sekadar pendukung, tetapi sudah menjadi “Pengantin”, pelaku bom bunuh diri atau bagian dari operasi. Perempuan dianggap punya keuntungan taktis karena stereotip “tidak berbahaya” membuat mereka lebih mudah lolos saat pemeriksaan keamanan.

Unit keluarga juga masih menjadi sel radikalisasi yang efektif, seperti yang ditegaskan dalam kasus pasangan suami istri di Kalimantan Timur pada Juli 2025. Istri sering kali memiliki peran setara dalam merencanakan atau menyembunyikan aktivitas kelompok ekstremis.

Mengapa Generasi Muda, Perempuan, dan Anak-anak Jadi Sasaran?

Kelompok radikal menargetkan ketiga golongan ini dengan alasan strategis:

  • Anak muda (Gen Z/Alpha): Memiliki rasa ingin tahu tinggi, sedang mencari jati diri, dan sangat “melek” teknologi namun terkadang belum memiliki filter informasi yang kuat. Survei Kominfo-BSSN 2023 menemukan bahwa 72 persen remaja Indonesia aktif di dunia digital tanpa pengawasan orang tua, menjadikan mereka kelompok dengan paparan tertinggi terhadap manipulasi digital.
  • Perempuan: Dianggap lebih mudah menembus target karena label sosial yang seringkali meremehkan potensi ancaman dari mereka.
  • Anak-anak: Merupakan lahan doktrin yang subur, calon “kader biologis” sekaligus “kader ideologis” yang dapat dibentuk sejak dini.

Modus Baru Radikalisasi Hibrida dan Propaganda Halus

Kewaspadaan orang tua perlu ditingkatkan terhadap modus baru radikalisasi hibrida, yaitu perpaduan antara paham agama yang menyimpang dengan konten kekerasan umum seperti “school shooting” dan komunitas kriminal digital. Selain itu, propaganda halus kini masuk melalui isu-isu sosial yang dekat dengan anak muda (ketidakadilan, anti-kemapanan, asosial) sebelum dibelokkan ke arah kekerasan.

Perpindahan aktivitas ke grup chat tertutup, seperti Telegram, Discord, atau fitur chat dalam game, juga menjadi tantangan serius karena sulit dipantau orang tua maupun guru.

Fenomena ini menuntut kewaspadaan lebih serius dari semua pihak. Peran serta orang tua dan sekolah sangat diperlukan dalam mengawasi aktivitas digital anak-anak. Radikalisme dan terorisme mungkin berubah wajah, namun esensinya tetap sama: memanfaatkan celah kerentanan manusia.

Menjaga generasi muda tetap dalam jalur moderasi, kewargaan, dan nalar sehat adalah tugas bersama antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara. Seperti yang diungkapkan salah satu host podcast, “Ngeri juga ya pak dampak radikalisme dan terorisme saat ini. Bukan hanya generasi muda yang disasar, tapi juga kaum perempuan dan anak-anak. Saya baru tahu sekarang tu.”

Mureks