Tren

Virgil van Dijk Optimistis, Namun Liverpool Dihadang Misi Mustahil di Kandang Arsenal

Liverpool masih terguncang setelah gagal mempertahankan keunggulan di menit-menit akhir saat bertandang ke Fulham. Hasil imbang tersebut memperpanjang daftar masalah sang juara bertahan, tepat ketika ujian terberat sudah menanti di depan mata: lawatan ke markas pemuncak klasemen Premier League, Arsenal, di Emirates Stadium pada Jumat, 9 Januari 2026.

Di tengah suasana keraguan yang melingkupi Anfield, kapten Liverpool, Virgil van Dijk, mencoba menegaskan bahwa timnya tak seharusnya gentar menghadapi The Gunners. Namun, keyakinan bek asal Belanda itu kontras dengan kecemasan besar yang dirasakan para pendukung.

Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Optimisme Van Dijk di Tengah Ancaman Emirates

Kegagalan mengamankan kemenangan di Craven Cottage masih membekas ketika Liverpool bersiap menghadapi Arsenal. Meski demikian, Virgil van Dijk menegaskan bahwa tak ada alasan bagi timnya untuk mendekati laga ini dengan rasa takut. Bek asal Belanda itu menekankan bahwa Liverpool akan mempelajari kekuatan Arsenal setelah masa pemulihan. Ia mengakui kualitas skuad tuan rumah, baik pemain inti maupun opsi dari bangku cadangan, terutama rekor kandang mereka yang sempurna di semua kompetisi musim ini.

“Kami tahu mereka sangat kuat di kandang. Ini akan menjadi pertarungan besar, tapi juga tantangan yang menyenangkan. Semua orang seharusnya menantikannya. Hanya dengan cara itu kami bisa mencoba meraih hasil,” kata Van Dijk, menegaskan sikap optimistis di ruang ganti Liverpool.

Namun, Arsenal datang sebagai pemimpin klasemen Premier League dan belum terkalahkan di kandang musim ini. Bagi Liverpool, lawatan ke London utara kali ini terasa jauh berbeda dibanding pertemuan empat bulan lalu.

Dari “Mentality Monsters” ke Keruntuhan Kolektif

Kemenangan Liverpool atas Arsenal di Anfield pada akhir Agustus 2025 lalu sempat memperkuat narasi bahwa hanya sedikit yang berubah dari musim sebelumnya. Meski pertahanan terlihat rapuh di awal musim, Liverpool masih dianggap memiliki mental juara. Dominik Szoboszlai kala itu menjadi pembeda lewat tendangan bebasnya. Gary Neville menilai Liverpool memiliki keunggulan mental yang belum dimiliki Arsenal, sementara Roy Keane menyebut kemampuan menang saat bermain buruk sebagai ciri tim juara.

Namun, realitas berkata lain. Liverpool justru mengalami kemunduran drastis hingga pertahanan gelar mereka praktis berakhir sebelum pertengahan November. Mureks mencatat bahwa mereka kini tertinggal 14 poin dari Arsenal, sebuah jarak yang terasa mencolok mengingat dominasi Liverpool musim lalu.

Prioritas Transfer yang Dipertanyakan

Akar masalah Liverpool tak lepas dari keputusan di bursa transfer. Sehari setelah mengalahkan Arsenal, klub menyepakati dua rencana transfer besar: kesepakatan senilai 125 juta pounds untuk Alexander Isak dari Newcastle dan perekrutan Marc Guehi dari Crystal Palace seharga 35 juta pounds.

Hanya satu yang terealisasi, dan bukan yang paling krusial. Liverpool sudah lebih dulu merekrut Hugo Ekitike dengan nilai 69 juta pounds, sehingga investasi masif untuk seorang penyerang tengah sebenarnya bukan kebutuhan mendesak. Sementara itu, kebutuhan akan bek tengah justru terabaikan. Ibrahima Konate sudah sulit diandalkan dan memasuki tahun terakhir kontraknya, sementara masalah cedera Joe Gomez bukan hal baru. Upaya menekan harga Guehi hingga hari terakhir bursa justru berujung kegagalan, memperparah krisis di lini belakang.

Ancaman Arsenal yang Siap Menghukum

Pelatih Arne Slot juga tak sepenuhnya menampik kritik bahwa permainan Liverpool kini terasa membosankan. Ia memilih “menggunakan kata yang berbeda”, sembari menyoroti absennya beberapa pemain penting dan pendekatan lawan yang kerap bertahan dalam.

Namun, Arsenal dipastikan tak akan mengulangi pendekatan pasif seperti di Anfield. Dengan Martin Odegaard yang kembali bugar dan Declan Rice tampil dominan, tekanan dari lini tengah tuan rumah berpotensi menjadi mimpi buruk bagi Liverpool. Ancaman semakin besar lewat Bukayo Saka di sisi kanan Arsenal. Siapa pun yang mengisi pos bek kiri Liverpool, baik Andy Robertson maupun Milos Kerkez, akan menghadapi ujian berat.

Bagi banyak pendukung Liverpool, bayangan laga di Emirates bukan sekadar sulit, melainkan berpotensi menjadi malam yang sangat panjang dan penuh tantangan.

Mureks