Nasional

Trump: “Lebih Baik Jangan Mulai Menembak,” Ancam Serang Iran di Tengah Gelombang Demo

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan ancaman keras untuk menyerang Iran di tengah gejolak demonstrasi besar-besaran yang melanda negara tersebut sejak akhir 2025. Trump menegaskan bahwa Iran sedang menghadapi masalah besar dan memperingatkan para pemimpinnya agar tidak menembaki para pengunjuk rasa.

Ancaman ini disampaikan Trump pada Jumat (9/1) waktu setempat, menyusul meluasnya aksi protes yang dipicu oleh krisis ekonomi parah dan anjloknya nilai mata uang rial Iran. “Iran sedang dalam masalah besar. Tampaknya rakyat Iran sedang merebut beberapa kota yang beberapa minggu lalu tidak ada yang menyangka hal itu mungkin terjadi,” ujar Trump, seperti dikutip dari AFP.

Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Gelombang demonstrasi ini telah menarik berbagai lapisan masyarakat, termasuk para pemilik toko dan pedagang yang turun ke jalan pada Senin (29/12/2025) untuk memprotes kondisi ekonomi yang memburuk. Aksi protes dilaporkan terjadi di ibu kota Teheran dan sejumlah kota besar lainnya di Iran.

Trump secara eksplisit memperingatkan pemerintah Iran terkait penanganan demonstran. “Lebih baik kalian jangan mulai menembak karena kami juga akan mulai menembak. Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, kami akan ikut campur,” tegasnya.

Meskipun demikian, Trump mengklarifikasi bahwa “ikut campur” tidak berarti mengerahkan pasukan darat. “Itu tidak berarti mengerahkan pasukan darat, tetapi itu berarti menyerang mereka dengan sangat, sangat keras di titik lemah mereka,” imbuhnya.

Untuk meredam aksi protes, pemerintah Iran dilaporkan telah memutus akses internet dan jaringan telepon di beberapa wilayah. Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menuduh Amerika Serikat dan kelompok oposisi Iran berada di balik demonstrasi tersebut.

Dalam catatan Mureks, laporan independen dari kelompok pemantau hak asasi manusia Iran, HRANA, menyebutkan bahwa sejak demonstrasi pecah pada Desember lalu, sebanyak 62 orang telah tewas. Korban jiwa mencakup baik anggota aparat keamanan maupun demonstran.

Menyikapi situasi ini, para pemimpin Prancis, Inggris, dan Jerman pada Jumat malam mengeluarkan pernyataan bersama. Mereka mengecam kematian para demonstran dan mendesak aparat keamanan Iran untuk menahan diri dari tindakan kekerasan.

Mureks