Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington siap siaga untuk merespons apabila pemerintah Iran melakukan pembunuhan terhadap para demonstran yang tengah berunjuk rasa di negara tersebut.
Melalui pernyataan di Truth Social pada Jumat (2/1), Trump menegaskan bahwa AS akan bertindak untuk menyelamatkan para pedemo jika Iran melepaskan tembakan dan membunuh mereka.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Ancaman Tegas dari Washington
“Jika Iran menembak dan membunuh para pedemo secara brutal, yang telah menjadi kebiasaan mereka, Amerika Serikat akan datang untuk menyelamatkan demonstran,” kata Trump, seperti dikutip AFP.
Ia melanjutkan, “Kami sudah siap dan siaga.”
Peringatan keras ini datang di tengah gelombang demonstrasi yang mengguncang Iran sejak Minggu (28/12). Aksi massa ini dipicu oleh sanksi internasional yang secara signifikan melemahkan perekonomian negara.
Krisis Ekonomi Memicu Gelombang Protes
Pada Minggu (28/12), nilai tukar rial Iran terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencapai level terendah sepanjang sejarah, yakni 1,42 juta per dolar. Menurut Mureks, kondisi ini memperparah tekanan ekonomi yang telah lama dirasakan warga.
Warga Iran, khususnya para pedagang, mengeluhkan ketidakmampuan mereka bersaing di pasaran akibat krisis ini, ditambah dengan sikap pemerintah yang dinilai abai terhadap masalah tersebut.
Demonstrasi yang awalnya berfokus pada krisis moneter ini kemudian meluas dan berubah menjadi desakan untuk perubahan rezim Ayatollah Ali Khamenei. Para demonstran di berbagai kota Iran meneriakkan slogan-slogan anti-rezim dan menuntut kembalinya sistem monarki.
Mereka menyerukan agar pemerintahan Iran dipegang oleh Reza Pahlavi, Putra Mahkota terakhir dari Kerajaan Iran sekaligus Kepala Dinasti Pahlavi yang kini diasingkan dari Iran.
Eskalasi Kekerasan dan Korban Jiwa
Pasukan keamanan Iran, yang bertugas mengawasi aksi demo, mulai melepaskan tembakan saat unjuk rasa memasuki hari kelima dan berujung ricuh. Di beberapa lokasi demo, mobil-mobil dan gedung dilaporkan dibakar.
Media Iran, Iran International, melaporkan bahwa hingga Kamis (1/1), tujuh orang tewas dalam demo berdarah tersebut. Tiga pedemo dilaporkan tewas dalam unjuk rasa di Kota Azna, sementara empat lainnya meninggal dalam bentrokan di wilayah lain.
Respons Pemerintah Iran
Presiden Masoud Pezeshkian telah meminta masyarakat untuk tenang dan mendesak pemerintah agar segera menanggapi kekhawatiran rakyat.
“Jika masyarakat tidak puas, kitalah yang harus disalahkan. Jangan menyalahkan Amerika atau siapa pun. Kita harus melayani dengan baik agar masyarakat puas dengan kita,” kata Pezeshkian, seperti dikutip kantor berita IRNA.
Kementerian Dalam Negeri Iran melalui Wakil Menteri Dalam Negeri Bidang Keamanan dan Penegakan Hukum, Ali-Akbar Pourjamshidian, pada Senin (29/12) mewanti-wanti bahwa demonstrasi terbesar sejak 2022 ini dipicu oleh propaganda eksternal. Ia menyebut isu volatilitas mata uang Iran didorong oleh “rekayasa musuh Iran”.
Aksi demo warga Iran ini sendiri diketahui mendapat dukungan penuh dari Pahlavi, serta Amerika Serikat dan Israel.






