Maskapai nasional TransNusa mengumumkan pembukaan rute penerbangan langsung Darwin, Australia menuju Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pulang pergi, yang akan dimulai pada Februari 2026. Langkah strategis ini diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara ke destinasi pariwisata unggulan Indonesia.
Perluasan Jaringan Internasional
Direktur Utama TransNusa, Bayu Sutanto, menjelaskan bahwa rencana penerbangan langsung ini akan dimulai pada akhir Februari atau awal Maret 2026. Pernyataan tersebut disampaikan Bayu usai bertemu Gubernur NTB di Kantor Gubernur NTB di Mataram pada Jumat (9/1/2026).
Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id
Bayu menegaskan fokus TransNusa saat ini adalah memperluas jaringan penerbangan internasional, khususnya ke rute-rute yang berpotensi mendatangkan banyak wisatawan mancanegara. “Untuk Lombok ini yang pertama kita buka. Rutenya Lombok-Darwin Australia. Kita buka akhir Pebruari atau awal Maret. Selain Darwin, juga kita akan membuka rute Lombok-Perth. Itu jangka pendek di tahun ini,” ujar Bayu.
Selain rute Australia, TransNusa juga berencana membuka penerbangan langsung dari Lombok ke Kuala Lumpur, Malaysia, dan Singapura. Menurut Bayu, negara-negara tersebut memiliki potensi wisatawan yang besar. “Karena di negara-negara ini wisatawan-nya banyak yang datang, sehingga kita ambil limpahan-nya,” katanya.
Ia menambahkan, banyak turis yang masuk ke Bali dari negara lain, yang kemudian ingin menjelajahi Lombok. “Termasuk, penerbangan yang sudah kita buka dari Bali ke Lombok, sebagian besar penumpangnya turis. Artinya, turis yang masuk ke Bali dari negara lain, karena pintu gerbang turis itu ada di Jakarta dan Denpasar dengan kondisi Bali yang sudah padat mereka juga ingin lihat Lombok yang terdekat,” jelas Bayu.
Dalam jangka panjang, TransNusa juga membidik rute ke Korea Selatan, Jepang, Cina, Hong Kong, dan Taiwan. Namun, prioritas utama untuk sementara adalah Australia-Lombok dan negara-negara ASEAN. “Karena Australia ini dekat, mungkin juga negara ASEAN karena wisatawan-nya banyak juga. Contoh Thailand, Vietnam, Kuala Lumpur, karena Malaysia ini cukup banyak, karena Lombok ini rumah kedua bagi TransNusa setelah Bali,” ungkap Bayu.
Potensi dan Dukungan Pemerintah Daerah
Bayu Sutanto menilai potensi jumlah penumpang atau wisatawan ke Lombok sangat besar, tercermin dari tingginya load factor penumpang saat ini. Ia juga menyebutkan diskusi dengan Gubernur NTB mengenai kemungkinan membuka koneksi penerbangan dari Yogyakarta ke Lombok. “Tadi, kami dengan gubernur bagaimana membuka koneksi penerbangan dari Yogyakarta. Karena kita sudah terbang ke Yogyakarta. Ini sama dengan daerah lain yang kita terbangi,” ucapnya.
Mengenai harga tiket, Bayu menyatakan akan bergantung pada harga pasar dan permintaan, mengingat biaya operasional yang tinggi, terutama harga bahan bakar pesawat (aftur). “Sepanjang kita bisa akomodasi kita jual sesuai kondisi, karena pesawat ini yang mahal harga bahan bakarnya (aftur),” terangnya.
Untuk pola kerja sama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB, Bayu mengharapkan dukungan dari pemerintah daerah dan pelaku dunia usaha setempat, khususnya dalam hal biaya promosi untuk menarik wisatawan. “Kalau kami hanya fasilitator mengangkut. Begitu juga dengan bandara kami kerja sama,” ujarnya.
Catatan Mureks menunjukkan, untuk penerbangan langsung ini, TransNusa akan menggunakan pesawat Comac C909 dengan kapasitas 95 penumpang. Pada tahap awal, penerbangan akan dilakukan 4 kali dalam seminggu. Jika permintaan tinggi, frekuensi akan ditingkatkan menjadi 2 hingga 3 kali sehari, mencontoh rute Denpasar-Perth yang dilayani 3 kali.
Harapan Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid
General Manager Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (Bizam), Aidil Philip Julian, mengapresiasi dukungan Pemprov NTB dalam mengembangkan NTB sebagai destinasi wisata. “Adanya kesinambungan rute ini, sejalan dengan untuk menghubungkan konektivitas transportasi antar destinasi wisata,” kata Aidil.
Pihaknya berharap, pembukaan rute baru ini akan menjadikan Lombok sebagai destinasi utama kunjungan wisatawan di Indonesia. “Jadi, kita berharap Lombok tidak hanya menjadi destinasi limpahan tetapi menjadi destinasi utama seperti daerah lain yang sudah maju pariwisata-nya,” tandas Aidil.






