Liburan seharusnya menjadi waktu untuk bersantai dan memulihkan diri, namun bagi Frances Daniels, seorang penulis senior di Tom’s Guide, musim liburan justru menjadi pemicu insomnia akut. Selama 10 hari menginap di rumah keluarganya saat Natal, ia berulang kali terbangun dengan perasaan lesu, meskipun awalnya mengira itu hanya efek malam pertama.
Daniels, yang sebelumnya meyakini insomnia hanya memiliki satu akar penyebab, mulai menyadari kompleksitas masalah tidur setelah pengalamannya. Ia kemudian mencari jawaban dari tiga pakar tidur terkemuka: Denise Iordache, terapis tidur dan pendiri JoySpace Therapy; Dr. Lindsay Browning, ahli tidur dari Trouble Sleeping; serta Dr. Seeta Shah, ahli tidur di Panda London.
Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id
Insomnia: Bukan Sekadar Satu Masalah, Melainkan Kombinasi Faktor
Mureks merangkum, para ahli sepakat bahwa insomnia jarang muncul begitu saja. Perubahan hormonal, pola makan, konsumsi kafein, bahkan waktu dalam setahun dapat memainkan peran besar dalam jadwal tidur seseorang. Daniels berharap para ahli dapat mengungkap satu sumber masalah yang bisa segera ia atasi, namun ia justru menyadari bahwa kurang tidur seringkali disebabkan oleh kombinasi beberapa masalah.
Berikut adalah lima faktor yang berkontribusi pada insomnia Daniels selama liburan, yang juga dapat menjadi pelajaran bagi banyak orang:
1. Tidur di Ranjang yang Lebih Tinggi dari Biasanya
Di kehidupan sehari-hari, Daniels tidur di ranjang platform rendah, hanya sekitar 34 cm dari lantai. Namun, saat kembali ke kamar masa kecilnya, ranjangnya telah diganti dengan ranjang bekas kakaknya yang memiliki kompartemen penyimpanan di bawahnya, membuatnya tidur hampir 30 cm lebih tinggi dari ranjangnya sendiri.
Menurut Dr. Shah, perbedaan ketinggian ini dapat memicu perasaan disorientasi. “Sleeping on a bed that is higher than what you’re accustomed to can subtly affect sleep, especially in the first few nights,” jelasnya. “A higher bed can change your sense of spatial orientation and balance, which may increase alertness when getting in and out of bed. For some people, this unfamiliar height can trigger mild anxiety or a feeling of instability, leading to lighter or more fragmented sleep.”
2. Perbedaan Jenis Kasur
Di rumah, Daniels menggunakan kasur busa memori EGOHOME Black 12″ setinggi 30 cm. Namun, di rumah keluarga, ia tidur di kasur pegas tradisional setebal 20 cm. Perbedaan ini terasa signifikan, bahkan membuatnya terbangun dengan nyeri di punggung bawah, betis, dan pergelangan kaki.
Dr. Browning menekankan pentingnya kasur yang mendukung gaya tidur seseorang agar tulang belakang tetap dalam posisi netral. “It is important to have a mattress that supports your sleeping style, allowing your spine to maintain a neutral position,” ujarnya. “If the mattress you are on is much harder or softer than the one you are used to, this can affect spinal alignment making you feel uncomfortable in bed, disrupting sleep.”
Iordache menambahkan bahwa ketidakbiasaan kasur baru juga menciptakan ketidaknyamanan fisik. “Your body has a physical ‘memory’ of your mattress at home, its pressure points, firmness, and how it absorbs heat,” kata Iordache. “Moving to a different mattress, even a high-quality one, creates a sensory mismatch.”
3. Perubahan Waktu Makan Malam
Daniels adalah penganut puasa intermiten dan menemukan bahwa makan malam lebih awal sangat membantu tidurnya. Namun, saat liburan bersama keluarga, ia harus beradaptasi dengan jadwal makan dan kebiasaan orang lain, yang seringkali berarti makan malam lebih larut dan camilan sosial.
Dr. Browning menjelaskan bahwa ritme sirkadian kita, meskipun dipengaruhi oleh cahaya, juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti aktivitas, suhu, dan waktu makan. “Our circadian rhythm is primarily influenced by light but it is also affected by other factors such as activity, temperature and meal timing. Eating too late can cause sleeping problems because large or particularly rich meals too close to bedtime can increase body temperature as well as causing gastric issues,” jelasnya.
Peningkatan suhu tubuh ini, yang dialami Daniels, bertentangan dengan sinyal tidur alami tubuh. “In the evening, there is a typical drop in core body temperature of around 33.8°F,” kata Dr. Browning. “This helps with sleep onset, and eating too close to bedtime can interfere with this drop in temperature.”
4. Peningkatan Interaksi Sosial
Daniels mengakui dirinya bukan tipe yang sangat sosial dan membutuhkan waktu untuk mengisi ulang ‘baterai sosialnya’ setelah bekerja atau acara. Selama periode liburan, ia merasa harus lebih aktif bersosialisasi dengan orang-orang yang sudah lama tidak ditemui, yang seringkali membuatnya kembali ke kebiasaan “prokrastinasi balas dendam waktu tidur” ketika akhirnya ia memiliki waktu untuk dirinya sendiri.
Menurut Dr. Shah, interaksi sosial yang positif sekalipun dapat menjaga otak dalam keadaan lebih waspada, mengurangi kemampuan untuk menenangkan diri secara efisien sebelum tidur. “Increased socialising often leads to later bedtimes, greater cognitive stimulation, and elevated stress or excitement levels, all of which can delay sleep onset,” kata ahli tidur itu. “Social activities may also involve caffeine, alcohol, or screen exposure, which further suppress melatonin and disrupt sleep architecture.”
5. Perubahan Lingkungan Masa Kecil
Daniels menegaskan bahwa hubungannya dengan keluarga baik-baik saja, dan rumah mereka sangat ramah. Namun, ia menemukan dirinya seolah terhipnotis oleh kamar tidur masa kecilnya dan kembali ke kebiasaan remajanya, termasuk pola tidur lama seperti tidur berlebihan dan begadang.
“When you step into your childhood bedroom, you may subconsciously slip into teenage sleep patterns, which often involve staying up later and sleeping in,” kata Iordache. “If that room isn’t currently associated with your adult routine of productivity and structured rest, your internal clock may lose its anchor, leading to the erratic schedule you may have experienced in the past.”
Pengalaman Frances Daniels ini menunjukkan bahwa tidur adalah proses yang sangat personal dan kompleks, dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling terkait. Memahami bagaimana lingkungan dan kebiasaan kita memengaruhi tidur adalah langkah pertama untuk mengatasi masalah insomnia, terutama saat berada di luar rutinitas harian.






