Tren

Diet Karnivora Viral untuk Penurunan Berat Badan: Benarkah Solusi Instan atau Hanya Tren Berisiko?

Tren diet ekstrem kembali mencuri perhatian publik, kali ini melalui pola makan karnivora yang secara ketat hanya mengandalkan konsumsi produk hewani. Diet ini semakin populer di berbagai platform media sosial dan forum kebugaran, terutama karena klaimnya yang menjanjikan secara cepat tanpa perlu menghitung kalori atau menghindari lemak.

Namun, di balik popularitasnya, muncul pertanyaan besar mengenai efektivitas dan keamanan untuk jangka panjang. Dunia medis menilai pendekatan ini perlu dikaji lebih dalam sebelum dapat dijadikan solusi penurunan berat badan yang berkelanjutan.

Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id

Mengenal Diet Karnivora

Melansir dari Medical News Today, diet karnivora adalah pola makan yang secara eksklusif berfokus pada produk hewani. Ini mencakup daging merah, unggas, ikan, makanan laut, telur, serta produk susu. Secara ketat, diet ini mengecualikan semua jenis buah, sayuran, biji-bijian, dan sumber karbohidrat nabati lainnya.

Pendekatan ini seringkali dianggap sebagai versi ekstrem dari diet rendah karbohidrat. Sebuah artikel yang diterbitkan pada tahun 2018 mencatat bahwa diet rendah karbohidrat, termasuk diet karnivora, secara teoretis dapat membantu penurunan berat badan. Mekanismenya adalah dengan menurunkan kadar gula darah dan mendorong tubuh masuk ke kondisi ketosis, yaitu keadaan di mana tubuh mulai membakar lemak sebagai sumber energi utama.

Efektivitas dan Keterbatasan Penelitian

Meskipun banyak pelaku diet karnivora mengaku merasakan manfaat, hingga saat ini belum ada penelitian konklusif yang secara ilmiah membuktikan bahwa diet ini aman dan efektif sebagai metode penurunan berat badan. Studi yang tersedia masih memiliki banyak keterbatasan, baik dari sisi desain maupun validitas data.

Salah satu data yang seringkali dikutip berasal dari survei yang dilakukan pada tahun 2021. Survei ini melibatkan 2.029 orang yang telah menjalani diet karnivora selama enam bulan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 928 peserta dilaporkan mengalami kondisi kelebihan berat badan atau obesitas. Hampir 90 persen dari mereka mengaku berat badannya membaik atau obesitasnya berkurang.

Namun, catatan Mureks menunjukkan bahwa survei ini memiliki kelemahan besar. Seluruh data yang dikumpulkan didasarkan pada penilaian mandiri peserta, tanpa adanya pemeriksaan medis atau pengukuran objektif yang terverifikasi. Parameter seperti berat badan yang terukur secara klinis, kadar kolesterol, atau indikator kesehatan lainnya tidak disertakan. Artinya, hasil tersebut belum bisa dijadikan bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung klaim efektivitas diet karnivora.

Di tengah meningkatnya kasus obesitas dan kesadaran akan gaya hidup sehat, banyak orang memang rela mencoba metode diet yang terdengar tidak biasa. Namun, penting bagi masyarakat untuk selalu mengedepankan bukti ilmiah dan konsultasi dengan ahli gizi atau dokter sebelum memutuskan untuk mengikuti pola makan ekstrem seperti diet karnivora.

Mureks