Nasional

Transformasi Hijau Industri Biji Besi Indonesia: Adopsi Teknologi Ramah Lingkungan Tekan Emisi Karbon

Industri pertambangan dan pengolahan mineral di Indonesia kini berada di garis depan transformasi hijau. Meningkatnya tuntutan global terhadap produk industri rendah karbon mendorong sektor pemurnian bijih besi nasional untuk mengadopsi inovasi teknologi mutakhir yang lebih ramah lingkungan, menggantikan metode konvensional yang dinilai tidak lagi berkelanjutan.

Transisi Energi: Dari Batu Bara ke Hidrogen Hijau

Selama puluhan tahun, proses pemurnian bijih besi menjadi besi gubal (pig iron) sangat bergantung pada teknologi Blast Furnace yang menggunakan kokas (batu bara) sebagai agen pereduksi sekaligus sumber panas. Metode ini dikenal sebagai salah satu penyumbang emisi karbon dioksida (CO2) terbesar di sektor industri.

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Sebagai solusi, Indonesia mulai beralih ke teknologi Direct Reduced Iron (DRI) yang memanfaatkan sistem gas alam. Teknologi ini dapat dimodifikasi lebih lanjut menggunakan hidrogen hijau (green hydrogen). Menurut Mureks, teknologi DRI memungkinkan pemisahan oksigen dari bijih besi tanpa melalui proses pelelehan penuh, sehingga konsumsi energi dapat dipangkas secara signifikan. Hasilnya, jejak karbon per ton besi yang dihasilkan diperkirakan turun hingga di bawah 50% dibandingkan metode tradisional.

Implementasi Ekonomi Sirkular dan Pengolahan Limbah

Inovasi tidak hanya berhenti pada proses pembakaran, tetapi juga merambah pengelolaan sisa produksi. Dalam proses pemurnian tradisional, ampas bijih besi atau slag sering kali menjadi beban lingkungan. Namun, dengan teknologi sensor pemilah otomatis dan sistem pemurnian sekunder, slag kini dapat dikonversi menjadi material bernilai tinggi.

Limbah padat tersebut kini diolah menjadi agregat konstruksi yang memenuhi standar kekuatan beton untuk pembangunan infrastruktur nasional. Selain itu, sistem pemurnian air sirkuit tertutup (closed-circuit water system) telah mulai diterapkan di berbagai smelter. Sistem ini memastikan bahwa air yang digunakan dalam proses pendinginan mesin tidak mencemari sumber air tanah penduduk di sekitar area tambang.

Digitalisasi dan Efisiensi Operasional

Integrasi teknologi Internet of Things (IoT) juga memainkan peran krusial dalam efisiensi operasional. Melalui pemantauan suhu dan tekanan secara real-time berbasis kecerdasan buatan (AI), mesin pemurnian dapat bekerja pada titik optimal dengan pemborosan energi yang minimal. Sensor emisi yang terpasang di cerobong asap smelter kini terhubung langsung dengan sistem pengawasan digital, memastikan tingkat polutan tetap berada di bawah ambang batas yang ditetapkan pemerintah.

Dukungan Regulasi dan Proyeksi Pasar Global

Langkah inovatif ini sejalan dengan Peta Jalan Transisi Energi Indonesia dan komitmen Net Zero Emission 2060. Pemerintah memberikan dukungan melalui kebijakan harga gas industri yang kompetitif serta kemudahan impor mesin-mesin teknologi rendah karbon bagi perusahaan yang berkomitmen pada standar Environmental, Social, and Governance (ESG).

Dari sisi ekonomi, produk besi dan baja yang diproses dengan teknologi ramah lingkungan memiliki nilai tawar yang lebih tinggi di pasar internasional. Terutama di Uni Eropa yang mulai menerapkan mekanisme penyesuaian perbatasan karbon (Carbon Border Adjustment Mechanism). Dengan demikian, inovasi teknologi ini bukan hanya soal menjaga kelestarian alam, tetapi juga tentang memperkuat kedaulatan ekonomi Indonesia di tengah persaingan industri global yang semakin hijau.

Mureks