Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, secara resmi mengajak investor China untuk memperluas penanaman modal di Indonesia. Fokus utama investasi diarahkan pada sektor energi baru dan terbarukan (EBT), kendaraan listrik (EV), hingga pengembangan pusat data. Ajakan ini disampaikan dalam perayaan ulang tahun ke-20 China Chamber of Commerce in Indonesia (CCCI) di Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Todotua Pasaribu menyoroti potensi besar Indonesia di sektor EBT. “Indonesia memiliki potensi EBT yang sangat besar, mencapai sekitar 3.700 gigawatt dari sumber surya, angin, air, dan panas bumi,” ujar Todotua. Namun, ia menambahkan, “Kapasitas terpasang saat ini baru sekitar 15,2 gigawatt, masih jauh dari potensi kita. Ini juga membutuhkan kolaborasi dengan China, untuk teknologinya.”
Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id
Selain EBT, Todotua juga mengajak China untuk meningkatkan investasi di sektor kendaraan listrik. Catatan Mureks menunjukkan, sekitar 45 persen investasi China dalam lima tahun terakhir telah mengalir ke sektor pengolahan logam. Investasi ini krusial dalam mendukung posisi strategis Indonesia sebagai pemasok penting untuk industri kendaraan listrik global. Proyek-proyek tersebut mencakup pengembangan bauksit, alumina, tembaga, timah, serta berbagai mineral lainnya.
Sektor hilirisasi komoditas lain juga menjadi target investasi. Salah satu proyek pengolahan kelapa di Morowali, Sulawesi Selatan, ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan 2026. Di sektor kelautan, Indonesia yang merupakan produsen rumput laut terbesar dunia, menawarkan peluang besar bagi investasi China yang berbasis teknologi dan penguatan kapasitas industri.
Sektor ekonomi digital, khususnya pusat data, juga menjadi area pengembangan prioritas. Nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan tumbuh signifikan, dengan potensi kapasitas pusat data diperkirakan mencapai 1,1 gigawatt. Lokasi potensial untuk pengembangan ini meliputi Jawa, Jakarta, dan Kalimantan.
Tak hanya itu, sektor kesehatan, termasuk perangkat medis dan layanan kesehatan, turut terbuka lebar bagi investasi asing.
Todotua Pasaribu menegaskan bahwa pemerintah Indonesia menyambut baik investasi dari China yang mampu membawa teknologi canggih, meningkatkan kualitas industri, dan memberikan nilai tambah signifikan bagi perekonomian nasional. “Kita tahu bahwa kemajuan tidak bukan dibangun dari satu siklon, mari lanjutkan kerja sama kita dalam satu pemikiran,” tegasnya.
Hubungan antara Indonesia dan China sendiri semakin erat, ditandai dengan penguatan komitmen dan kemitraan strategis yang terus dibangun oleh kedua negara.






