Nasional

Tetangga Ungkap Detik-detik Penemuan Jasad Sekeluarga di Warakas, Anak Korban Histeris

Kepanikan menyelimuti sebuah rumah kontrakan di kawasan Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Jumat (2/1/2026) pagi, menyusul penemuan tiga anggota keluarga dalam kondisi tak bernyawa dan satu lainnya kritis. Detik-detik tragis ini diwarnai teriakan histeris Khadafi, anak kedua dari Siti Soliha, yang pertama kali menemukan keluarganya.

Aryuni Wulan Febri (51), tetangga korban, menjadi saksi mata awal kejadian memilukan tersebut. Ia menceritakan momen kepulangan Khadafi yang berujung pada penemuan mengerikan itu.

Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id

“Waktu itu tanggal 2 pagi ya, kebetulan saya tanggal 31 itu kan nginep di rumah adik saya di Karawaci. Nah pulang tanggal 2 itu, naik grab mobil kan, pulang sekitar sampai kurang lebih setengah 8 itu. Saya sampai, saya belum masuk rumah, baru mau masuk rumah kebetulan anak kedua dari korban itu datang pulang bekerja,” cerita Aryuni saat ditemui di rumahnya, Sabtu (3/1).

Aryuni melanjutkan, ia sempat melihat Khadafi pulang namun tidak menyapa. Tak lama setelah Khadafi masuk ke rumah, teriakan histeris pun terdengar.

“Nah itu cuma saya lihat, cuma enggak menyapa, memang saya lihat aja gitu, oh masnya sebelah gitu. Pas sudah masuk, enggak lama sekitar 5 menit itu mas-nya teriak-teriak gitu. Saya kedengeran kan kirain saya mungkin berantem gitu,” tambah Wulan.

Mendengar teriakan tersebut, Aryuni segera keluar rumah. Khadafi, yang kala itu dalam kondisi panik, meminta pertolongan.

“Ibu minta tolong dong tolong, ibu saya keracunan gitu,” ujar Aryuni menirukan teriakan Khadafi.

Kondisi Khadafi yang histeris membuat Aryuni ikut merasakan kesedihan mendalam. “Kalau Khadafi-nya kan histeris terus, histeris, aku pengin bunuh diri enggak punya siapa siapa lagi gitu. Kita kan ikut sedih juga kan,” ungkapnya.

Saat masuk ke dalam rumah korban, Aryuni mengaku terkejut melihat kondisi para korban. Menurut pantauan Mureks, kondisi para korban sudah tidak bergerak dan mengeluarkan busa dari mulut.

“Pas saya lihat udah, adiknya, ibunya sama kakaknya di dalam kamar itu udah, kalau adiknya di ruang tamu itu udah pada berbusa, kaku gitu,” ungkap Aryuni.

Ia merinci posisi para korban saat pertama kali ditemukan. “Di kamar, kamar tidurnya masing-masing. Ibunya (Siti Soliha) di kamar pertama, kakaknya yang perempuan (Afiah Al Adilah Jamaludin) di kamar kedua. Kalau adiknya (Adnan Al Abrar Jamaludin) yang kecil itu di ruang tamu, udah tergeletak semua,” jelas Wulan.

Melihat kondisi yang mengerikan tersebut, Aryuni tidak berani menyentuh para korban. “Itu udah pada berbusa, kaku gitu. Kan saya takut,” ujarnya.

Karena panik dan takut, Aryuni segera keluar rumah dan menghubungi ketua RT setempat untuk meminta bantuan. “Jadi saya nggak berani gitu. Nggak berani pegang atau masih hidup apa nggak, saya nggak berani kan. Harus keluar, saya panggil Pak RT dulu biar tau kan. Jadi biar pihak yang bersangkutan lah biar ditelepon gitu,” katanya.

Tak berselang lama, pihak RT menghubungi ambulans dan kepolisian untuk menangani kejadian tersebut.

Mureks mencatat bahwa polisi hingga kini masih melakukan penyelidikan terkait penyebab kematian tiga korban dan menunggu hasil uji toksikologi dari proses autopsi yang telah dilakukan. Sementara itu, satu anggota keluarga lainnya, Abdullah Syauqi Jamaludin (23), yang juga berada di dalam rumah saat kejadian, hingga kini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Mureks