Nasional

Melawan Kecemasan Berbicara: Kisah Mahasiswa Unpam Bangun Kepercayaan Diri di Ruang Kelas

Berbicara di depan kelas kerap menjadi momok bagi sebagian mahasiswa. Lebih dari sekadar mengeluarkan suara, aktivitas ini menuntut keberanian untuk melawan rasa takut dan kepercayaan diri yang harus dibangun secara perlahan. Pengalaman ini dirasakan betul oleh Muh Daniel Fazli, seorang mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Pamulang.

Awal Mula Kecemasan di Ruang Diskusi

Bagi Daniel, menyampaikan pendapat di kelas adalah tantangan yang terasa sangat berat. Setiap kali dosen membuka sesi diskusi, jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Berbagai pikiran negatif berkecamuk di kepalanya: kekhawatiran akan pendapat yang keliru, ucapan yang terbata-bata, hingga ketakutan suaranya tidak didengar atau dianggap tidak penting. Rasa takut ini, menurut Daniel, sering kali membuatnya memilih diam, meskipun sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia sampaikan.

Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!

Ia kerap sudah menyusun kalimat-kalimat dalam pikiran, namun semuanya seakan menghilang ketika kesempatan berbicara datang. Tangannya terasa dingin, suaranya tertahan di tenggorokan, dan keberanian yang sempat muncul kembali runtuh oleh keraguan. Diam terasa lebih aman dibandingkan harus mengambil risiko berbicara dan merasa malu di hadapan teman-teman sekelas.

Titik Balik dan Kesadaran Akan Proses Belajar

Seiring waktu, Daniel mulai menyadari bahwa diam terus-menerus justru membuatnya semakin terjebak dalam ketakutan itu sendiri. Ia mengamati teman-teman lain yang berani mengemukakan pendapat mereka, meskipun tidak selalu sempurna. Dari pengamatan tersebut, Daniel belajar bahwa kelas bukanlah ruang untuk mencari siapa yang paling benar, melainkan tempat untuk belajar bersama, termasuk belajar menyampaikan pikiran dengan jujur.

Mureks mencatat bahwa fenomena kecemasan berbicara di depan umum, terutama di lingkungan akademik, adalah hal yang umum terjadi. Namun, keberanian untuk menghadapi dan melampauinya seringkali menjadi kunci penting dalam pengembangan diri mahasiswa.

Langkah Kecil Menuju Keberanian

Perubahan dalam diri Daniel tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia memulainya dari hal-hal kecil, seperti mencoba menjawab pertanyaan sederhana atau menyampaikan pendapat singkat, meskipun suaranya masih terdengar ragu. Setiap kali berhasil berbicara, ada rasa lega dan bangga yang perlahan tumbuh dalam dirinya. Ia mulai memahami bahwa kesalahan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan bagian dari proses belajar yang tak terpisahkan.

Pelan-pelan, kepercayaan dirinya mulai terbentuk. Daniel tidak lagi terlalu sibuk memikirkan penilaian orang lain, melainkan fokus pada apa yang ingin ia sampaikan. Ia belajar menerima bahwa berbicara dengan terbata-bata bukanlah aib, dan memiliki pendapat yang berbeda bukanlah kesalahan. Yang terpenting baginya adalah keberanian untuk mencoba.

Berdamai dengan Rasa Gugup

Kini, meskipun rasa gugup itu masih sesekali datang, Daniel tidak lagi membiarkannya menguasai dirinya sepenuhnya. Ia belajar berdamai dengan rasa takut dan menjadikannya sebagai pengingat bahwa ia sedang berusaha keluar dari zona nyaman. Kelas yang dulu terasa menakutkan, kini perlahan berubah menjadi ruang belajar yang memberinya keberanian dan kepercayaan diri.

Pengalaman ini mengajarkan Daniel bahwa setiap orang memiliki suara yang layak untuk didengar. Keberanian untuk berbicara, menurutnya, bukan tentang menjadi yang paling lantang, melainkan tentang kejujuran dalam menyampaikan isi pikiran dan keyakinan untuk menghargai diri sendiri. Ia percaya bahwa rasa takut tidak harus dihilangkan sepenuhnya untuk bisa melangkah. Cukup dengan berani berjalan bersamanya, seseorang sudah selangkah lebih maju dari diri yang kemarin.

Daniel berharap, jika ada yang masih ragu untuk berbicara hari ini, mereka akan percaya bahwa keberanian itu bisa tumbuh, asalkan mau memberi kesempatan pada diri sendiri untuk mencoba.

Mureks