Seorang perempuan bernama Khairun Nisa menjadi sorotan publik setelah aksinya berpura-pura sebagai pramugari Batik Air dalam penerbangan Palembang–Jakarta terbongkar. Penyamaran mencengangkan ini terungkap ketika kru pesawat mencurigai seragam yang dikenakannya tidak sesuai dengan standar resmi maskapai.
Kasi Humas Polresta Bandara Soekarno-Hatta, Ipda Septian, menjelaskan bahwa kecurigaan awak pesawat muncul karena corak rok yang dikenakan Nisa berbeda dengan seragam pramugari Batik Air yang dikeluarkan PT Lion Group. Informasi ini segera disampaikan kepada pihak keamanan penerbangan (aviation security) sebelum pesawat mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Kamis (8/1).
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Setibanya di bandara, Nisa langsung dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Dari pemeriksaan awal, diketahui bahwa ia bukanlah kru maskapai, melainkan penumpang biasa yang membeli tiket dan duduk di kursi penumpang selama penerbangan. Nisa sempat bersikeras mengaku sebagai pramugari Batik Air, bahkan menunjukkan kartu identitas yang ternyata sudah kedaluwarsa.
Latar Belakang Penyamaran: Korban Penipuan Loker
Kasat Reskrim Polresta Bandara Soetta, Kompol Yandri Mono, mengungkapkan latar belakang di balik aksi penyamaran tersebut. Nisa disebut nekat berpura-pura menjadi pramugari karena ingin menyenangkan hati orang tuanya.
Menurut Yandri, Nisa merupakan warga Palembang yang pada awal 2025 datang ke Jakarta dengan izin kepada ibunya untuk mendaftar sebagai pramugari. Di ibu kota, ia bertemu seseorang yang menjanjikan bisa memasukkannya menjadi pramugari dengan syarat menyerahkan sejumlah uang.
Dalam proses tersebut, Nisa diminta membayar Rp30 juta. Namun, setelah uang diserahkan, orang yang menjanjikan pekerjaan itu tidak lagi bisa dihubungi. Karena malu gagal dan tidak ingin mengecewakan orang tuanya, Nisa akhirnya mengaku sudah diterima bekerja sebagai pramugari.
Ipda Septian menambahkan, saat berangkat dari Palembang, Nisa bahkan diantar langsung oleh orang tuanya. Karena waktu keberangkatan mepet, ia tidak sempat mengganti pakaian yang dikenakan. Penampilannya yang menyerupai pramugari membuatnya sempat diduga sebagai extra crew oleh petugas.
Kecurigaan kru pesawat semakin kuat ketika Nisa terlihat gelagapan saat ditanya soal pendidikan dan diklat pramugari. Ia tidak mampu menjawab dengan meyakinkan, serta tidak mampu menjawab beberapa pertanyaan standar seputar tugas dan prosedur awak kabin. Jawaban yang tidak sinkron dengan SOP pramugari inilah yang memicu kecurigaan lebih lanjut, ditambah motif rok yang tidak sesuai standar seragam Batik Air.
Yandri menyampaikan, Nisa juga sempat membuat unggahan palsu di media sosial agar keluarganya percaya bahwa dirinya telah bekerja sebagai pramugari. Aksi tersebut murni dilakukan karena tekanan psikologis dan rasa malu, bukan dengan niat jahat.
Pihak kepolisian memastikan Nisa tidak ditahan karena tidak ditemukan unsur pidana. Hanya pakaian dan barang terkait yang diamankan untuk keperluan klarifikasi. Pihak Batik Air pun disebut tidak mempermasalahkan kejadian tersebut.
Mureks mencatat bahwa pihak kepolisian mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap modus penipuan berkedok rekrutmen pramugari. Ia menegaskan, proses resmi penerimaan kru maskapai harus mengikuti aturan dan jalur yang telah ditetapkan oleh perusahaan penerbangan.






