Nasional

Terjebak Panik, Manusia Justru Mendekati Bahaya: Mengapa Otak Kita Berkhianat?

Pernahkah Anda menyaksikan seekor tikus yang terjebak di sudut ruangan? Ketika dihadapkan pada ancaman, alih-alih melarikan diri menuju pintu yang terbuka lebar, tikus itu justru sering kali berlari kencang menerjang ke arah kaki manusia. Tindakan yang tampak nekat dan tidak logis ini, ternyata, juga kerap dilakukan manusia dalam skenario tekanan ekstrem.

Dalam kehidupan sehari-hari, anomali serupa sering kita jumpai. Misalnya, pengemudi yang panik justru menginjak gas saat melihat rintangan di depan, atau investor yang menyuntikkan dana lebih besar ke skema ponzi di tengah desas-desus kebangkrutan. Secara logika, rasa takut seharusnya menjadi alarm pelindung, namun ketika berubah menjadi kepanikan buta, ia justru merusak kompas yang menuntun kita pada keselamatan.

Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Inilah paradoks yang jarang disadari: terkadang, bukan bahaya itu sendiri yang menghancurkan kita, melainkan reaksi primitif kita terhadap bahaya tersebut.

Saat Amigdala Mengambil Alih: Ketika Logika Mendadak Padam

Dalam kondisi stabil, tindakan manusia dikendalikan oleh prefrontal cortex, bagian otak yang bertanggung jawab atas logika, kendali diri, dan pengambilan keputusan strategis. Namun, dalam hitungan milidetik saat rasa takut ekstrem muncul, sistem ini mengalami “mati lampu”.

Kendali otak dialihkan sepenuhnya ke Amigdala, pusat emosi dan insting bertahan hidup yang sudah ada sejak zaman purba. Masalahnya, Amigdala tidak didesain untuk berpikir panjang atau menganalisis data; ia hanya mengenal respons fight-or-flight.

Menurut pakar neurosains Joseph LeDoux, dalam kondisi amygdala hijack (pembajakan amigdala), otak mengalami disorientasi arah yang parah. Akibatnya, tubuh bergerak impulsif tanpa tahu ke mana harus pergi. Kita menjadi seperti tikus yang terjepit: terlalu panik untuk berpikir, sehingga gerakan acak ke arah mana pun—bahkan ke arah ancaman—terasa seperti satu-satunya cara untuk merasa “sedang berusaha selamat”.

Target Fixation: Bahaya Terkunci pada Pandangan

Selain pembajakan otak, psikologi mengenal fenomena yang disebut target fixation. Saat takut, perhatian kita secara biologis terkunci pada sumber ancaman. Pandangan menyempit (tunnel vision), perhatian terfokus pada satu titik, dan secara mekanis tubuh cenderung mengikuti arah mata.

Fenomena ini sering menjadi penyebab utama kecelakaan fatal di jalan raya. Banyak pengendara menabrak pohon di pinggir jalan bukan karena mereka tidak melihatnya, melainkan karena mereka terlalu fokus memperhatikan pohon tersebut agar tidak menabraknya. Karena mata terkunci pada pohon, tangan secara tidak sadar mengarahkan kemudi ke titik yang sama. Kita tidak lagi fokus pada jalan keluar, tetapi pada hal yang paling kita takuti.

Relevansi dalam Hidup Modern: Dari Hubungan hingga Finansial

Di era modern, “mendatangi bahaya” tidak selalu berarti berlari ke arah api atau pemangsa. Bentuknya jauh lebih halus, tetapi dampaknya sama merusaknya bagi masa depan kita.

  • Dalam relasi: Seseorang yang memiliki abandonment issues (takut ditinggalkan) justru sering kali bersikap terlalu posesif dan intimidatif. Secara tidak sadar, kepanikannya justru menciptakan situasi yang membuat pasangannya merasa tidak nyaman dan benar-benar pergi. Ia mendatangi “bahaya” yang ia takuti dengan tangannya sendiri.
  • Dalam finansial: Saat melihat tren pasar anjlok, alih-alih tenang dan menganalisis, banyak orang melakukan panic selling atau justru terjebak dalam gambler’s fallacy—mengambil keputusan nekat untuk menutupi kerugian. Mereka berlari ke arah jurang karena tidak sanggup berdiri diam di tengah ketidakpastian.
  • Dalam karier: Kecemasan akan kegagalan sering kali membuat seseorang bekerja terlalu keras hingga burnout, yang pada akhirnya justru membuat kinerjanya hancur—tepat seperti kegagalan yang ia takuti sejak awal.

Cara Mengambil Kembali Kendali: Berhenti Menjadi “Tikus”

Tidak ada manusia yang kebal terhadap rasa panik. Namun, kita bisa melatih otak agar tidak kehilangan arah saat gelombang ketakutan datang. Mureks mencatat bahwa mengakui insting “tikus” yang bisa bertindak tanpa logika saat terdesak bukanlah sebuah kelemahan. Sebaliknya, itu adalah bentuk kedewasaan emosional yang tinggi.

Kita tidak bisa menghapus rasa takut dari DNA kita, tetapi kita bisa mengatur bagaimana kita meresponsnya. Keberanian sejati bukan soal siapa yang bergerak paling cepat saat bahaya datang. Keberanian sejati adalah kemampuan untuk tetap diam sejenak, bernapas di tengah badai, berpikir jernih, dan memilih arah yang benar meskipun seluruh tubuh berteriak untuk berlari tanpa arah.

Di dunia yang penuh ketidakpastian ini, jangan biarkan kepanikan menjadi kompas Anda. Kita bukan tikus yang kehilangan arah dalam labirin. Kita manusia—dan kita memiliki kekuatan untuk memilih langkah yang jauh lebih bijak daripada sekadar berlari ke arah bahaya.

Referensi penulisan: kumparan.com

Mureks