Hiburan

Terjebak dalam Labirin Duka: Luto, Permata Horor 2025 dengan Sentuhan Stanley Parable dan P.T.

Sabtu, 10 Januari 2026 menjadi penanda bagi para penggemar horor untuk kembali menyelami sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Luto, sebuah permata horor psikologis yang dirilis pada tahun 2025, berhasil mencuri perhatian dengan perpaduan unik antara narasi ala The Stanley Parable dan atmosfer mencekam layaknya P.T. Game ini bukan sekadar menakutkan, melainkan sebuah perjalanan emosional yang membingungkan, menakutkan, namun juga menyentuh.

Terjebak dalam Labirin Pikiran dan Duka

Inti dari Luto adalah simulasi perasaan terperangkap dalam rumah sendiri, bukan secara fisik, melainkan secara psikologis. Pemain akan mengendalikan Sam, seorang protagonis yang berulang kali mencoba keluar dari rumahnya namun selalu gagal. Setiap upaya melarikan diri selalu dihalangi, dan waktu seolah melompat tanpa penjelasan. “Anda mencoba keluar pada hari Senin, tetapi sekarang hari Kamis, dan Anda berada di kamar mandi tanpa bisa menjelaskan waktu yang hilang,” demikian gambaran disorientasi yang dialami Sam.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id

Pengalaman ini diperkuat oleh narator yang omnipresent, yang semakin antagonis seiring dengan upaya Sam untuk melarikan diri. Lingkungan rumah yang sekilas normal, menyimpan rahasia di balik dinding, menciptakan ketegangan dan kengerian yang mendalam. Catatan Mureks menunjukkan, game ini secara cerdik memanfaatkan trik lingkungan untuk membuat pemain merasa tidak aman dan terus mempertanyakan realitas.

Grief: Tema Sentral yang Menguras Emosi

Andrea Shearon, penulis ulasan, menyebut Luto sebagai “sebuah game tentang duka.” Pernyataan ini mungkin terdengar biasa, terutama di tahun yang sama dengan rilisnya Clair Obscur: Expedition 33 yang juga mengangkat tema kesedihan. Namun, Luto, dalam durasi lima hingga enam jam permainannya, sangat piawai dalam mensimulasikan apa yang terjadi saat seseorang menghadapi kehilangan yang tak tertahankan.

Pengalaman pribadi Shearon saat memainkan game ini cukup intens. Ia mengaku “berakhir dengan hidung meler dan menangis tersedu-sedu” setelah menyelesaikan game dalam dua sesi singkat selama liburan. Ini menunjukkan betapa kuatnya dampak emosional yang ditawarkan Luto kepada pemainnya.

Narator Tak Terpercaya dan Realitas yang Bergeser

Salah satu elemen paling menarik dari Luto adalah interaksi antara Sam, narator, dan persepsi pemain. Ketika hari-hari bergeser dari Senin ke Rabu, suara narator yang terlepas dari tubuh tetap melanjutkan penceritaan seolah menemukan ruangan rahasia atau dinding dengan penggambaran kematian adalah bagian normal dari rutinitas Sam. Ini menciptakan perasaan tidak nyaman, mirip dengan pengalaman depresi di mana seseorang bergerak dari satu ruangan ke ruangan lain tanpa mengingat tujuannya.

Mureks merangkum, ketegangan antara Sam, narator, dan keyakinan pemain mencapai titik di mana sulit untuk mengidentifikasi siapa narator yang paling tidak dapat diandalkan. Keraguan dan perasaan “ruangan ini tidak terlihat seperti ini sebelumnya” menjadi sumber ketakutan utama, bahkan mengalahkan jumpscare tradisional.

Sebuah Pintu yang Layak Dibuka

Meskipun labirin disorientasi Luto berhasil menanamkan ketidakpastian hingga momen terakhir, rumah duka Sam tetap terasa tidak nyaman dan rumit. Namun, ketidaknyamanan inilah yang justru disambut baik oleh para pemain. Bagi mereka yang mencari petualangan horor yang mendalam dan menggugah pikiran, Luto tersedia di Steam dan menawarkan pengalaman yang bisa diselesaikan dalam satu atau dua sesi.

Mureks