Film “Kokuho” (2025) berhasil menarik perhatian dunia perfilman internasional setelah masuk dalam daftar pendek nominasi Oscar 2026 untuk kategori Film Fitur Internasional Terbaik. Karya sinema ini menawarkan eksplorasi mendalam tentang irisan antara eksistensi skena kriminal bawah tanah Jepang dengan krisis identitas, sebuah tema yang diangkat melalui karakter utama yang lahir dari keluarga yakuza namun memiliki bakat di seni pertunjukan kabuki.
Keunikan “Kokuho” dalam mengaitkan dunia kriminal dengan pergulatan identitas ternyata bukan hal baru dalam genre film gangster Asia. Sejumlah sineas sebelumnya telah mencoba menelusuri isu serupa dengan pendekatan yang tak kalah provokatif dan menarik. Dalam ringkasan Mureks, berikut adalah empat film lain yang patut disimak karena keberaniannya membahas krisis identitas di tengah kerasnya dunia kriminal.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
Menjelajahi Krisis Identitas dalam Sinema Kriminal Asia
1. Mahjong (1996)
Disutradarai oleh Edward Yang, “Mahjong” adalah film Taiwan yang berlatar tahun 90-an, masa ketika Taiwan mengalami transformasi signifikan akibat masuknya kapitalisme dan globalisasi. Film ini mengisahkan petualangan sekelompok anak muda anggota geng kriminal lokal yang ditugaskan melindungi anak bos mereka yang terlilit utang. Kehadiran karakter imigran dari negara Barat memperkaya konflik budaya dan isu identitas yang menjadi inti cerita.
- Genre: Neo-noir, Komedi
- Pemain: Chang Chen, Lawrence Ko, Virginie Ledoyen
- Sutradara: Edward Yang
2. Sleepless Town (1998)
Diadaptasi dari novel karya Hase SeishÅ«, “Sleepless Town” membawa penonton menelusuri gang-gang di Kabukicho, Shinjuku, Jepang, sebuah kawasan hiburan malam yang juga menjadi “melting pot” berbagai kebangsaan. Kisah berpusat pada Ken’ichi Ryuu, seorang anggota gangster keturunan Jepang-Taiwan. Latar belakangnya ini memberinya keuntungan sekaligus kemalangan; kemampuan bilingualnya memudahkannya berbaur dengan komunitas kriminal Tiongkok dan Jepang, namun ia menjadi salah satu yang pertama dicurigai saat terjadi skema pengkhianatan.
- Genre: Neo-noir, Romantis
- Pemain: Takeshi Kaneshiro, Mirai Yamamoto, Eric Tsang
- Sutradara: Lee Chi Ngai
3. Brother (2000)
Film yakuza klasik “Brother” karya Takeshi Kitano juga menjadikan isu identitas sebagai sumber konflik utama. Cerita berpusat pada Aniki, seorang anggota geng kriminal yang terpaksa eksil ke Amerika Serikat karena sebuah kasus di Tokyo. Berharap mendapat bantuan dari adik tirinya di Los Angeles, Aniki justru harus berurusan dengan geng kriminal lokal yang menaungi sang adik, memicu perasaan teralienasi dan ketidaknyamanan. Film ini disebut sebagai salah satu karya terbaik Kitano dari segi intrikasi cerita dan sinematografi.
- Genre: Neo-noir, Aksi
- Pemain: Takeshi Kitano, Omar Epps, Claud Maki
- Sutradara: Takeshi Kitano
4. A Family (2021)
“A Family” menyoroti Kenji Yamamoto, seorang pemuda yang lahir di keluarga yakuza dan disumpah untuk meneruskan tradisi serta bisnis keluarganya. Namun, perubahan zaman membuatnya mulai meragukan kemampuannya menepati janji tersebut. Film ini merupakan drama kontemplatif yang menyeimbangkan drama keluarga dengan adegan aksi, menyajikan berbagai subplot menarik dari perspektif anggota keluarga Kenji lainnya, termasuk para perempuan.
- Genre: Neo-noir, Drama
- Pemain: Go Ayano, Hiroshi Tachi, Machiko Ono
- Sutradara: Michihito Fujii
5. Kokuho (2025)
Seperti Kenji dalam film sebelumnya, Kikuo di “Kokuho” juga lahir di tengah keluarga yakuza. Namun, nasibnya berubah drastis setelah ia menjadi yatim piatu akibat pembunuhan orang tuanya. Kikuo kemudian diasuh oleh seorang aktor kabuki, yang membawanya menekuni kesenian tersebut. Seiring bertambahnya usia, keputusan ini mulai menampakkan konsekuensi yang kompleks, menguji kembali identitasnya di antara dua dunia yang berbeda.
- Genre: Coming-of-age, Sejarah
- Pemain: Ryo Yoshizawa, Ryusei Yokohama, Ken Watanabe
- Sutradara: Lee Sang Il
Krisis identitas merupakan isu universal yang dialami banyak manusia, baik karena latar belakang etnik, keluarga, maupun lingkungan. Ketika pergulatan ini beririsan dengan dunia kelompok kriminal yang penuh intrik, kompleksitas cerita dalam film-film tersebut pun semakin memuncak. Tidak mengherankan, penyertaan isu identitas ini berhasil mendongkrak keseruan dan kedalaman narasi dalam genre film gangster Asia.






