Nasional

Tekanan Patriarki dan Krisis Kesehatan Mental Pria di Indonesia: Mengapa Pria Enggan Mencari Bantuan?

Budaya patriarki yang mengakar kuat di Indonesia menempatkan laki-laki dalam posisi dominan sebagai pemimpin dan penopang ekonomi keluarga. Namun, tuntutan peran maskulin tradisional ini justru memicu krisis kesehatan mental yang serius di kalangan pria. Tekanan untuk selalu tampil kuat dan tegar seringkali membuat mereka enggan mencari bantuan, memperparah kondisi psikologis yang dialami.

Sistem patriarki secara implisit menuntut pria untuk selalu kuat, tegar, dan tidak menunjukkan kelemahan, baik secara emosional maupun psikologis. Kondisi ini kerap membuat mereka enggan mengungkapkan perasaan atau mencari pertolongan saat menghadapi stres, kecemasan, depresi, atau masalah kesehatan mental lainnya. Stereotip ‘pria harus kuat dan mandiri’ menciptakan stigma terhadap kerentanan, mendorong mereka untuk memendam emosi dan menyelesaikan masalah sendirian. Di Indonesia, dengan norma sosial dan budaya yang cenderung konservatif, tekanan ini terasa semakin berat. Pria sering merasa bahwa kegagalan dalam memenuhi peran tradisional, seperti menjadi pencari nafkah utama atau kepala keluarga, adalah aib atau tanda kelemahan. Mureks mencatat bahwa, akibatnya, angka gangguan kesehatan mental pada pria kemungkinan besar lebih tinggi dari yang dilaporkan, karena keengganan mereka untuk mengakui masalah atau mencari penanganan profesional.

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Selain itu, budaya patriarki turut berkontribusi pada pembagian peran rumah tangga yang tidak seimbang, menciptakan beban dan tekanan hidup yang tidak merata. Banyak pria menghadapi ekspektasi sosial dan ekonomi yang besar, namun minim dukungan emosional atau ruang untuk mengekspresikan perasaan mereka.

Dampak Tekanan Patriarki pada Kesehatan Mental dan Kehidupan Sosial

Tekanan dari tuntutan peran maskulin ini berdampak langsung pada kesehatan mental pria, meningkatkan risiko depresi, kecemasan, bahkan bunuh diri. Berbagai studi, baik global maupun lokal, konsisten menunjukkan bahwa pria memiliki kecenderungan lebih rendah untuk mencari bantuan kesehatan mental dibandingkan wanita. Ini menjadi isu serius dalam konteks kesehatan masyarakat.

Secara sosial, tekanan patriarki juga menciptakan jarak emosional dalam hubungan interpersonal, baik di lingkungan keluarga maupun komunitas. Pria yang tidak terbiasa terbuka mengenai perasaan atau masalahnya seringkali mengalami hambatan komunikasi, memicu kesalahpahaman dan ketegangan. Kondisi ini turut memengaruhi pola interaksi antar anggota keluarga, berkontribusi pada konflik, serta menyulitkan pembentukan ikatan emosional yang sehat.

Solusi Mengatasi Dampak Tekanan Patriarki terhadap Kesehatan Mental

Menghadapi masalah ini membutuhkan pendekatan multidimensional yang melibatkan perubahan budaya, pendidikan, dan kebijakan kesehatan mental. Berikut beberapa ide dan solusi yang dapat diupayakan:

  • Pendidikan dan Kesadaran Gender Inklusif. Institusi pendidikan dapat mengintegrasikan kurikulum yang menekankan kesetaraan gender dan pentingnya ekspresi emosional. Langkah ini diharapkan membentuk generasi muda yang lebih terbuka dan memahami bahwa kekuatan juga berarti berani mengakui kerentanan.
  • Pengurangan Stigma Kesehatan Mental Pria. Kampanye nasional dan inisiatif komunitas perlu menyoroti pentingnya kesehatan mental laki-laki. Tokoh publik, termasuk selebriti dan tokoh agama, dapat berperan aktif menyuarakan bahwa mencari bantuan adalah bentuk kekuatan, bukan kelemahan.
  • Fasilitasi Ruang Ekspresi Emosional. Organisasi sosial dan komunitas dapat menyediakan ruang aman bagi pria untuk berbagi pengalaman dan perasaan tanpa takut dihakimi, seperti grup dukungan atau sesi konseling khusus pria.
  • Pelatihan Tenaga Kesehatan dan Psikolog. Tenaga medis dan konselor harus dibekali pelatihan untuk mengenali kebutuhan spesifik pria dalam layanan kesehatan mental, termasuk pendekatan yang sensitif terhadap tekanan sosial patriarki.
  • Kebijakan Pemerintah yang Gender-Sensitif. Pemerintah dapat mendorong pengembangan program kesehatan mental yang mempertimbangkan konteks gender, termasuk pelatihan bagi aparat kesehatan dan penyedia layanan masyarakat untuk mengurangi beban psikologis pria.

Sistem patriarki di Indonesia secara signifikan memengaruhi cara pria memandang diri dan berinteraksi dengan lingkungan. Tekanan untuk memenuhi peran maskulin tradisional tanpa ruang untuk mengekspresikan kerentanan telah berdampak negatif pada kesehatan mental mereka. Melalui pendidikan inklusif, pengurangan stigma, serta penyediaan dukungan emosional dan layanan kesehatan mental yang sensitif gender, Indonesia dapat mulai mengatasi persoalan ini. Kesadaran dan perubahan budaya yang berkelanjutan sangat krusial agar pria dapat mencapai kesehatan mental yang optimal dan membangun hubungan sosial yang lebih harmonis.

Mureks