Keuangan

Tekanan Inflasi Desember 2025 Ancam Tabungan Rumah Tangga: Strategi Menghindari ‘Makan Tabungan’

Fenomena “makan tabungan” semakin menjadi sorotan di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok yang tak selalu diimbangi penyesuaian gaji. Kondisi ini menggambarkan situasi di mana pendapatan rumah tangga tergerus, memaksa mereka menggunakan tabungan jangka panjang untuk menutupi kebutuhan harian yang membengkak.

Inflasi Desember 2025 Dorong Kenaikan Harga Pangan

Tekanan terhadap keuangan rumah tangga ini didukung oleh data Badan Pusat Statistik (BPS). Mureks mencatat bahwa inflasi tahunan (year on year/yoy) pada Desember 2025 mencapai 2,92 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 109,92. Sementara itu, inflasi bulanan (month to month/mtm) pada periode yang sama tercatat 0,64 persen.

Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id

BPS menjelaskan, inflasi Desember 2025 utamanya dipicu oleh komponen harga pangan bergejolak (volatile food) yang mengalami inflasi 2,74 persen dan memberikan andil 0,45 persen terhadap inflasi umum. Komoditas yang paling dominan mendorong kenaikan harga antara lain cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, ikan segar, dan telur ayam ras.

Mengenali Gejala “Makan Tabungan” Sejak Dini

Ketika kenaikan harga banyak berasal dari kebutuhan dasar seperti makanan, ruang untuk mengencangkan ikat pinggang menjadi semakin sempit. Oleh karena itu, strategi untuk menghindari “makan tabungan” perlu dimulai dengan langkah terukur, yakni memahami sumber tekanan, memetakan arus kas, dan membangun sistem agar tabungan tidak beralih fungsi menjadi penutup defisit bulanan.

Beberapa gejala yang kerap muncul dan perlu diwaspadai sejak awal bulan meliputi:

  • Tabungan terpakai untuk belanja rutin, bukan hanya untuk keadaan darurat.
  • Saldo akhir bulan sering kali minus atau keteteran, yang kemudian “ditambal” dari rekening simpanan.
  • Pengeluaran impulsif meningkat akibat tergiur promo, Fear of Missing Out (FOMO), atau self-reward, padahal kebutuhan pokok juga ikut naik.

Perencana keuangan Rista Zwestika, seperti dikutip dari Antara, menyoroti kebiasaan yang cenderung spontan dan rentan tergiur promo serta tren gaya hidup. “Kebiasaan yang cenderung spontan dan rentan tergiur promo serta tren gaya hidup, sehingga banyak orang terjebak dalam siklus keuangan tanpa bisa menyisakan sebagiannya untuk simpanan atau tabungan,” ujar Rista. Jika gejala ini dibiarkan, tabungan akan berubah fungsi, bukan lagi sebagai bantalan risiko, melainkan “pengganti gaji” yang menutup selisih antara penghasilan dan biaya hidup.

Tekanan Biaya Hidup dan Ruang Menabung yang Menyempit

Sejumlah indikator menunjukkan bahwa kelompok simpanan kecil menghadapi tekanan signifikan. Data Bank Indonesia (BI) pada November 2025 menunjukkan bahwa rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi (average propensity to consume ratio), proporsi pembayaran cicilan/utang (debt to income ratio), dan proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (saving to income ratio) relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya. Angka-angka tersebut masing-masing sebesar 74,6 persen, 11,0 persen, dan 14,4 persen.

Proporsi konsumsi terhadap pendapatan relatif stabil, dipengaruhi oleh peningkatan proporsi konsumsi pada kelompok pengeluaran Rp 3,1 juta hingga Rp 4 juta dan di atas Rp 5 juta. Peningkatan ini diiringi penurunan pada kelompok pengeluaran Rp 2,1 juta hingga Rp 3 juta. Sementara itu, proporsi konsumsi pada kelompok pengeluaran Rp 1 juta hingga Rp 2 juta relatif stabil di angka 76,5 persen.

Adapun porsi pendapatan yang ditabung mengalami peningkatan pada kelompok pengeluaran Rp 3,1 juta hingga Rp 4 juta (14,3 persen) dan Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta (14,6 persen). Namun, kelompok dengan pengeluaran di atas Rp 5 juta justru mengalami penurunan porsi tabungan menjadi 15,9 persen.

Di sisi lain, menurut Mureks, data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan Indeks Menabung Konsumen (IMK) pada September 2025 berada di level 77,3, turun 1,6 poin dari posisi bulan sebelumnya. Hal ini sejalan dengan pelemahan Indeks Intensitas Menabung (IIM) pada periode yang sama, yakni turun 3,6 poin ke level 67,1. Data ini mengindikasikan adanya tantangan yang lebih besar bagi masyarakat untuk mempertahankan atau meningkatkan kebiasaan menabung mereka.

Mureks