Kota Tebing Tinggi, sebuah wilayah di Sumatera Utara, dikenal dengan karakteristik penduduk serta kondisi geografisnya yang menarik. Kota ini menonjol dengan tingkat kepadatan yang cukup tinggi dan letak geografis yang strategis, menjadikannya pusat aktivitas penting di regional. Artikel ini akan mengulas secara ringkas profil kependudukan dan kondisi geografis Tebing Tinggi berdasarkan data resmi pemerintah setempat.
Jejak Sejarah dan Hari Jadi Kota Tebing Tinggi
Berdasarkan informasi dari laman resmi Pemerintah Kota Tebing Tinggi, wilayah ini mulai dihuni sekitar tahun 1864, dengan pemukiman awal tersebar di sepanjang Sungai Padang dan Sungai Bahilang. Perkembangan pemukiman ini tidak lepas dari peran Datuk Bandar Kajum, seorang bangsawan dari Bandar Simalungun. Ia mulanya menetap di Tanjung Marulak sebelum memindahkan huniannya ke sebuah tebing tinggi di tepi Sungai Padang akibat konflik dengan Kerajaan Raya. Dari lokasi inilah nama Tebing Tinggi diyakini berasal.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Setelah serangkaian konflik bersenjata dan intervensi Belanda, wilayah kekuasaan Datuk Bandar Kajum kemudian dilebur ke dalam Kerajaan Deli melalui perjanjian di muara Sungai Bahilang. Sebelum dikenal sebagai Tebing Tinggi, kawasan ini merupakan bagian dari Kerajaan Padang, sebuah kerajaan otonom yang memiliki pusat perdagangan sungai di Bandar Sakti dan dihuni oleh masyarakat multietnis.
Mureks mencatat bahwa berdasarkan kajian tokoh masyarakat yang kemudian menjadi dasar hukum, tanggal 1 Juli 1917 ditetapkan sebagai hari jadi Kota Tebing Tinggi. Tanggal ini menandai transisi wilayah tersebut menjadi kota administratif, sebuah tonggak penting dalam sejarah perkembangannya.
Kondisi Geografi Kota Tebing Tinggi
Kondisi geografi Tebing Tinggi memiliki pengaruh signifikan terhadap gaya hidup penduduknya. Letak yang strategis dan bentuk wilayah yang relatif datar memberikan keuntungan tersendiri bagi masyarakat dalam berbagai aspek.
Letak Geografis dan Batas Wilayah
Kota Tebing Tinggi berjarak sekitar 78 kilometer dari Kota Medan, menempatkannya pada posisi geografis yang strategis untuk mendukung konektivitas dan akses transportasi antarwilayah. Menurut dokumen Kota Tebing Tinggi dalam Angka 2024, kota ini berbatasan langsung dengan wilayah perkebunan di Kabupaten Serdang Bedagai. Di sebelah utara, berbatasan dengan PTPN III Kebun Rambutan; di timur dengan PT Socfindo Kebun Tanah Besih; di selatan dengan PTPN III Kebun Pabatu; dan di barat dengan PTPN III Kebun Bandar Bejambu.
Topografi dan Luas Wilayah
Secara topografi, Kota Tebing Tinggi berada di dataran rendah Pulau Sumatra, dengan ketinggian berkisar antara 18 hingga 34 meter di atas permukaan laut. Luas wilayah kota ini mencapai 38,438 km², termasuk perluasan wilayah seluas 59,9 hektar di Kecamatan Rambutan. Kondisi ini membuat Tebing Tinggi relatif mudah dikelola dan memiliki tingkat aksesibilitas yang baik bagi masyarakat.
Iklim dan Sumber Daya Alam
Kota Tebing Tinggi memiliki iklim tropis dengan tingkat curah hujan yang relatif tinggi. Sepanjang tahun 2023, tercatat sebanyak 104 hari hujan dengan curah hujan antara 16–224 mm. Menurut Mureks, kondisi iklim ini sangat mendukung pemanfaatan sumber daya alam yang didominasi oleh sektor pertanian, yang mencakup sekitar 45,55 persen dari total penggunaan lahan dan menjadi salah satu tumpuan ekonomi utama masyarakat.
Profil Penduduk Kota Tebing Tinggi
Jumlah dan kepadatan penduduk Tebing Tinggi tercatat cukup menonjol dibandingkan kota-kota lain di Sumatera Utara, mencerminkan dinamika demografi yang unik.
Jumlah dan Kepadatan Penduduk
Berdasarkan data resmi Kota Tebing Tinggi dalam Angka 2024, pada tahun 2023, jumlah penduduk Kota Tebing Tinggi mencapai 178.914 jiwa. Dengan luas wilayah yang terbatas, tingkat kepadatan penduduknya mencapai sekitar 4.654,61 jiwa per km². Kepadatan yang tergolong tinggi ini dipengaruhi oleh luas wilayah kota yang relatif kecil serta komposisi penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin, yang turut membentuk dinamika sosial dan ekonomi kota.
Komposisi Penduduk Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin
Data Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kota Tebing Tinggi tahun 2023 dalam TTDA 2024 menunjukkan bahwa penduduk kota ini terdiri dari berbagai kelompok umur, dari anak-anak hingga lansia. Jumlah penduduk laki-laki tercatat sebanyak 89.025 jiwa, sementara perempuan sebanyak 89.889 jiwa, dengan total 178.914 jiwa. Rasio jenis kelamin yang relatif seimbang ini mencerminkan distribusi demografi yang stabil dan membentuk struktur masyarakat yang beragam serta dinamis.
Persebaran Penduduk di Lima Kecamatan
Kota Tebing Tinggi terbagi menjadi lima kecamatan, dengan tingkat kepadatan penduduk yang relatif merata meskipun terdapat perbedaan signifikan antarwilayah. Data TTDA 2024 menunjukkan bahwa pada tahun 2023, kepadatan tertinggi berada di Kecamatan Tebing Tinggi Kota, mencapai 6.860,35 jiwa/km². Disusul oleh Kecamatan Rambutan dengan 6.710,36 jiwa/km² dan Bajenis dengan 4.420,58 jiwa/km². Sementara itu, Kecamatan Padang Hulu (3.978,15 jiwa/km²) dan Padang Hilir (3.607,55 jiwa/km²) memiliki kepadatan yang lebih rendah. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pusat kota menjadi kawasan dengan konsentrasi aktivitas ekonomi dan penduduk tertinggi.
Kesimpulan
Kota Tebing Tinggi memiliki latar belakang sejarah yang kaya serta kondisi geografis dan kependudukan yang saling terkait erat. Letaknya yang strategis, topografi dataran rendah, dan iklim tropis secara kolektif mendukung aktivitas pertanian dan mobilitas penduduk. Dengan jumlah penduduk yang relatif besar dan kepadatan tinggi pada wilayah yang terbatas, Tebing Tinggi terus berkembang sebagai kota yang dinamis, ditopang oleh struktur masyarakat yang beragam dan peran pentingnya dalam aktivitas sosial serta ekonomi regional.
Referensi penulisan: m.kumparan.com






