Tawa riang anak-anak memecah keheningan sore di Kompleks Rumah Hunian Danantara, Aceh Tamiang, Sabtu (10/1/2026). Pemandangan penuh harapan dan ceria terpancar dari wajah para orang tua, menandai babak baru setelah lebih dari sebulan hidup dalam keterbatasan tenda pengungsian.
Setelah bencana banjir bandang yang melanda pada akhir November lalu, ribuan warga Aceh Tamiang terpaksa meninggalkan rumah mereka yang tersapu air. Kini, pemerintah melalui BUMN telah membangun hunian sementara yang menjadi tempat berteduh baru bagi mereka.
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Anak-anak menjadi potret paling jujur dari kebahagiaan itu. Mereka berlarian, bermain ayunan di taman bermain yang tersedia, sesuatu yang sebelumnya tak pernah mereka rasakan selama tinggal di tenda darurat. Beberapa anak bahkan tak kuasa menahan kegembiraan, melompat-lompat di atas kasur yang sudah rapi dan bersih di dalam hunian. Rasa aman akhirnya kembali menyelimuti.
Rika Jahara, salah satu warga yang kini menghuni rumah sementara tersebut, tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya. Dengan mata berbinar, ia mengungkapkan kebahagiaannya.
“Senang sekali saya, senang. Rasanya jangan dipindah lagi. Terima kasih pemerintah sudah dikasih tempat tinggal kami. Soalnya rumah kita tidak ada lagi. Terima kasih pemerintah,” ujarnya penuh haru.
Hunian sementara ini jauh dari kesan darurat. Setiap unit dirancang fungsional dengan satu pintu dan satu jendela untuk sirkulasi udara. Di dalamnya sudah tersedia dua tempat tidur, lemari, kipas angin, hingga meja makan. Akses jalan antarblok dilapisi rumput buatan yang menambah kesan asri, lengkap dengan pot tanaman penghijauan di setiap pintu.
Tak hanya itu, setiap unit juga dilengkapi meteran listrik mandiri dan akses wifi gratis dari Telkom Indonesia, memastikan warga tetap terhubung dengan dunia luar. Infrastruktur pendukung lainnya pun tersedia, termasuk klinik kesehatan yang berada tak jauh dari hunian.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang, Dokter Mustakif, memastikan layanan kesehatan berjalan optimal bagi para penghuni.
“Di belakang kami, ini ada klinik kesehatan. Tiap hari dan tanpa ada hari libur, baik anak kecil, bayi, sampai dengan lansia, dengan yang penyintas ataupun yang beresiko, termasuk ibu hamil nanti,” jelasnya.
Kisah Siti Rahma: Dari Rumah Tersapu Banjir ke Hunian Layak
Detik-detik banjir bandang pada akhir November lalu masih membekas di ingatan Siti Rahma. Kala itu, warga Kampung Sukajadi, Kabupaten Aceh Tamiang tersebut masih tinggal di sebuah hunian yang nyaman di sisi sungai. Firasat serupa kembali ia rasakan sesaat sebelum bencana terjadi.
Awalnya, ia mengira luapan air sungai yang terjadi saat itu hanya bersifat sementara, seperti kejadian-kejadian sebelumnya. Namun, air ternyata tak kunjung surut. Air sungai kian meninggi, dan pada akhirnya mengubah hidupnya 180 derajat.
“Saat malam tiba, rumah kita sudah tersapu banjir. Rumah kami sudah tidak ada lagi,” ujar Siti.
Situasi mencekam itu memaksa Siti dan keluarganya mengungsi ke Posko Pengungsian Jembatan Kuala Simpang. Selama sebulan, mereka bertahan dalam keterbatasan, dengan satu harapan sederhana: bisa kembali memiliki tempat untuk berkumpul bersama keluarga.
Untungnya, harapan Siti akhirnya terwujud. Pada Kamis (8/1), Siti dan keluarganya telah beranjak dari posko pengungsian dan berpindah menempati hunian sementara (huntara) yang jauh lebih layak. Bagi Siti, hari itu menjadi salah satu momen paling membahagiakan sejak bencana terjadi. Ia tak henti mengucap syukur atas tempat berteduh yang kini bisa ia sebut rumah, meski bersifat sementara.
“Kami alhamdulilah, senang sekali karena dapat rumah hunian sementara dari bapak Presiden,” ungkapnya.
Siti adalah salah satu penghuni dari 600 hunian sementara yang telah dibangun Danantara Indonesia bersama BUMN Karya. Catatan Mureks menunjukkan, pembangunan 600 unit hunian sementara ini menjadi angin segar bagi ribuan warga terdampak.
Kegembiraan dan rasa syukur tak hanya terucap dari mulut Siti. Yati, warga lainnya, juga ikut memanjatkan syukur karena bisa kembali berteduh di tempat yang nyaman.
“Alhamdulilah, kami senang sekali karena bisa berteduh sama keluarga,” ujar Yati.






