Internasional

Skytrain Jakarta-Tangsel-Jonggol: Kemenhub Pastikan Kajian Berjalan, Targetkan Mobilitas Efisien

Proyek ambisius pembangunan Skytrain yang akan menghubungkan Jakarta dengan Tangerang Selatan dan Jonggol, Bogor, kini memasuki tahap kajian kelayakan (feasibility study/FS). Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memastikan bahwa konsep transportasi massal ini tengah dimatangkan untuk menarik minat investor dan menjadi solusi mobilitas perkotaan.

Skytrain ini dirancang sebagai pengumpan (feeder) bagi Moda Raya Terpadu (MRT) di Lebakbulus menuju Tangerang Selatan, serta Lintas Raya Terpadu (LRT) dari Harjamukti menuju Mekarsari dan Cariu di Jonggol, Bogor. Pemerintah saat ini fokus pada pematangan konsep dan kerangka investasi, belum pada fase konstruksi.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id

Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kementerian Perhubungan, Risal Wasal, menjelaskan bahwa kajian teknis menjadi fondasi utama. “Saat ini sedang dilakukan FS (feasibility study), FS daripada pihak ketiga. Konsep ini ber-KPBU (Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha) atau PPP (Project Public-Private Partnerships), tidak menggunakan dana pemerintah tapi investasi mereka yang kita butuhkan nanti adalah bagaimana kita membantu mereka untuk mudah dalam pembangunan layanannya,” ujar Risal kepada CNBC Indonesia pada Senin (5/1/2026).

Seiring dengan kajian yang berjalan, pemerintah juga tengah meninjau ulang aspek regulasi yang berpotensi menghambat proyek. Beberapa aturan dinilai perlu disesuaikan agar pembangunan infrastruktur Skytrain lebih fleksibel, terutama terkait pemanfaatan ruang publik. Penyesuaian regulasi ini krusial untuk meringankan beban investor di tahap awal. “Saat ini ada beberapa regulasi yang kita minta di-review, itu adalah sebagian ada di Kemendagri terkait dengan PM 90 2019 tentang fasos fasum hingga nanti bagaimana kalau tiang-tiang tersebut menggunakan fasos fasum. Jadi saat ini untuk feeder LRT, feeder MRT sedang di-FS-kan,” tambah Risal.

Berbeda dengan MRT yang memerlukan pembebasan lahan luas, Skytrain tidak membutuhkan banyak ruang karena menggunakan tiang-tiang seperti jalur LRT. Mureks mencatat bahwa proyek ini tidak hanya diproyeksikan sebagai moda tambahan, tetapi sebagai solusi komprehensif atas masalah mobilitas harian masyarakat. Pemerintah berharap moda ini dapat menjawab kebutuhan perjalanan jarak pendek yang selama ini masih bergantung pada kendaraan pribadi.

“Harapannya bagaimana masyarakat itu mudah bergerak melakukan pekerjaannya atau melakukan usaha. Yang kedua tadi kita bicara first mile last mile, bagaimana kita memberikan first mile yang murah bagi masyarakat, aman, nyaman, berkeselamatan. Yang ketiga dengan itu kita berharap mereka berpindahlah dari private car, dari kendaraan pribadi ke public transport. Yang dampak dari situ kita bisa harapkan kemacetan bisa hilang, kita menjadi ke langit biru,” papar Risal. Dampak lanjutan dari peningkatan konektivitas ini diharapkan tidak hanya terbatas pada sektor transportasi. Kelancaran mobilitas diyakini akan membuka lebih banyak peluang ekonomi di daerah-daerah penyangga Jakarta. “Lalu ekonomi berputar karena begitu mudahnya masyarakat bergerak hingga mereka bisa meningkatkan ekonomi mereka masing-masing,” pungkasnya.

Mureks