Tren

Ruben Amorim Dipecat, Daftar Panjang Manajer Gagal Kembalikan Kejayaan Sir Alex di Manchester United

Manchester United kembali membuat keputusan mengejutkan di kursi kepelatihan. Pada Senin, 5 Januari 2026, klub secara resmi mengumumkan pemecatan Ruben Amorim dari jabatannya sebagai manajer. Keputusan ini dirilis langsung dari Old Trafford, menyusul performa tim yang tertahan di peringkat keenam Premier League dan pernyataan emosional Amorim pasca-laga kontra Leeds United di pekan ke-20 Liga Inggris 2025/2026.

Manajemen klub menilai perubahan mendesak diperlukan. Pemecatan ini menambah panjang daftar pelatih yang gagal mengembalikan dominasi Manchester United pasca-era legendaris Sir Alex Ferguson.

Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.

Dalam pernyataan resminya, Manchester United mengonfirmasi berakhirnya masa jabatan Amorim yang dimulai sejak November 2024. Klub menyatakan, “Ruben Amorim telah meninggalkan jabatannya sebagai Pelatih Kepala Manchester United. Ruben diangkat pada November 2024 dan berhasil membawa tim ke final Liga Europa di Bilbao pada bulan Mei.”

Sejak Sir Alex Ferguson pensiun pada 2013, kursi manajer di Old Trafford terus berganti tanpa menemukan stabilitas jangka panjang. Menurut Mureks, total ada sepuluh manajer, termasuk pelatih interim, yang mencoba peruntungan di Manchester United namun gagal mengembalikan aura kejayaan yang pernah dibawa Ferguson.

David Moyes

David Moyes menjadi sosok pertama yang ditunjuk sebagai penerus Sir Alex Ferguson pada Juli 2013. Harapan besar langsung dibebankan kepadanya untuk menjaga dominasi Manchester United. Namun, performa tim justru menurun tajam di bawah asuhannya. Moyes hanya bertahan kurang dari satu musim sebelum dipecat pada April 2014.

Selama melatih, Moyes memimpin 51 pertandingan dengan rasio kemenangan 52,94 persen. Manchester United mencetak 86 gol dan kebobolan 54 gol dalam periode tersebut.

Ryan Giggs

Ryan Giggs kemudian ditunjuk sebagai pelatih sementara setelah kepergian Moyes. Legenda klub itu memimpin tim dalam empat laga sisa musim 2013/2014. Giggs mampu memberikan efek positif meski dalam waktu singkat. Ia membawa United meraih dua kemenangan dari empat pertandingan.

Dalam periode singkatnya, United mencetak delapan gol dan hanya kebobolan tiga kali. Rasio kemenangan Giggs tercatat di angka 50 persen.

Louis van Gaal

Manchester United lalu menunjuk Louis van Gaal sebagai manajer permanen pada Juli 2014. Pelatih asal Belanda itu datang dengan reputasi besar di sepak bola Eropa. Van Gaal berhasil mempersembahkan trofi Piala FA pada musim 2015/2016. Namun, gaya bermain yang dinilai membosankan memicu kritik berkepanjangan.

Ia memimpin 103 pertandingan dengan rasio kemenangan 52,43 persen. United mencetak 158 gol dan kebobolan 98 gol selama masa kepemimpinannya.

Jose Mourinho

Jose Mourinho mengambil alih kursi manajer pada Mei 2016. Kehadirannya membawa harapan baru dengan pendekatan pragmatis khas sang pelatih. Mourinho mempersembahkan tiga trofi, termasuk Liga Europa 2016/2017. Ia juga membawa United finis sebagai runner-up Premier League.

Dalam 144 laga, Mourinho mencatat rasio kemenangan 58,33 persen. Manchester United mencetak 244 gol dan kebobolan 121 gol sebelum ia dipecat pada Desember 2018.

Ole Gunnar Solskjaer

Ole Gunnar Solskjaer ditunjuk sebagai pelatih interim sebelum kemudian diangkat permanen. Ia membawa atmosfer positif dan gaya bermain menyerang. Di bawah Solskjaer, United bisa bersaing di papan atas Premier League. Namun, kegagalan meraih trofi besar menjadi catatan penting.

Solskjaer memimpin 168 pertandingan dengan rasio kemenangan 54,17 persen. United mencetak 323 gol dan kebobolan 165 gol selama masa jabatannya.

Michael Carrick

Michael Carrick ditunjuk sebagai caretaker setelah pemecatan Solskjaer. Ia memimpin tim dalam tiga pertandingan penting. Hasilnya cukup menjanjikan dengan dua kemenangan dan satu hasil imbang. Carrick bahkan belum pernah merasakan kekalahan.

Dalam tiga laga tersebut, United mencetak enam gol dan kebobolan tiga kali. Rasio kemenangannya tercatat mencapai 66,67 persen.

Ralf Rangnick

Ralf Rangnick datang sebagai manajer interim pada Desember 2021. Ia membawa filosofi gegenpressing yang diharapkan bisa mengubah identitas tim. Namun, implementasi tak berjalan mulus di lapangan. Manchester United tampil inkonsisten hingga akhir musim.

Rangnick memimpin 29 pertandingan dengan rasio kemenangan 37,93 persen. United mencetak dan kebobolan jumlah gol yang sama, yakni 37 gol.

Erik ten Hag

Erik ten Hag diangkat sebagai manajer pada Mei 2022 dengan reputasi sukses bersama Ajax. Ia membawa pendekatan disiplin dan struktur permainan yang jelas. Ten Hag sempat mempersembahkan gelar domestik dan membangun ulang skuad. Namun, performa yang naik turun membuat posisinya tertekan.

Ia memimpin 128 pertandingan dengan rasio kemenangan 54,69 persen. United mencetak 217 gol dan kebobolan 165 gol sebelum ia hengkang pada Oktober 2024.

Ruud van Nistelrooy

Ruud van Nistelrooy dipercaya sebagai pelatih interim setelah kepergian Ten Hag. Mantan striker legendaris itu langsung memberi dampak instan. United tampil tajam dan solid dalam periode singkat tersebut. Van Nistelrooy membawa tim tak terkalahkan dalam empat laga.

Dari empat pertandingan, United mencetak 11 gol dan hanya kebobolan tiga kali. Rasio kemenangannya mencapai 75 persen.

Ruben Amorim

Ruben Amorim ditunjuk sebagai manajer pada November 2024 dengan ekspektasi tinggi. Ia sempat membawa Manchester United ke final Liga Europa di musim pertamanya, yaitu pada Mei 2025 di Bilbao. Namun, performa liga yang tidak konsisten menjadi sorotan utama, membuat United tertahan di peringkat keenam Premier League hingga Januari 2026.

Dalam 63 pertandingan, Amorim hanya menang 24 kali dengan rasio kemenangan 38,10 persen. Angka ini menjadi salah satu yang terendah di antara manajer pasca-Ferguson. Klub akhirnya mengumumkan pemecatannya pada 5 Januari 2026.

Mureks