Pengamat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa, memproyeksikan emiten berbasis emas berpeluang menjadi pilihan menarik bagi investor pada tahun 2026. Prospek ini muncul di tengah bayang-bayang ketidakpastian global yang diperkirakan masih akan membayangi perekonomian dunia.
Menurut Reydi, dalam kondisi ketidakpastian, emas secara tradisional diminati investor sebagai instrumen perlindungan nilai atau safe haven. Hal ini dapat mendorong peningkatan minat terhadap emiten yang memiliki keterkaitan langsung dengan komoditas emas di pasar modal.
Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
“Emiten berbasis emas berpeluang menarik di 2026, terutama apabila ketidakpastian global masih berlangsung. Emas umumnya akan dipilih investor untuk menyiasati keadaan tersebut dengan menjadikannya safe haven,” ujar Reydi kepada tim redaksi Mureks, Kamis (1/1/2026).
Ia menambahkan, peningkatan minat investor terhadap emas berpotensi mendongkrak permintaan komoditas tersebut. Kondisi ini dinilai dapat membuka ruang bagi emiten terkait emas untuk mencatatkan kinerja yang lebih baik.
“Hal ini akan meningkatkan permintaan emas ke depan dan meningkatkan margin emiten yang terkait emas di IHSG,” kata Reydi.
Selain emas, Reydi juga menyoroti beberapa sektor lain yang dinilai memiliki peluang keuntungan. Sektor tersebut meliputi komoditas energi sebagai lindung nilai ketidakpastian global, sektor keuangan yang berpotensi terdorong pelonggaran suku bunga, serta sektor konsumer ritel yang ditopang oleh daya beli domestik.
Pelemahan Harga Emas dan Perak di Akhir Tahun 2025
Namun, di penghujung tahun 2025, harga emas dan perak dunia justru mengalami pelemahan. Penurunan ini terjadi pada perdagangan Rabu (31/12/2025) setelah investor melakukan aksi ambil untung menyusul reli tahunan yang historis.
Tekanan terhadap harga logam mulia juga datang dari langkah CME Group. Bursa komoditas tersebut kembali menaikkan margin kontrak berjangka logam mulia untuk kedua kalinya dalam sepekan.
Menurut pantauan Mureks dari CNBC, Kamis (1/1/2026), harga emas di pasar spot turun 0,1% ke level USD 4.339,89 per ounce pada pukul 08.50 waktu AS (ET). Pelemahan ini memperpanjang tren penurunan menjelang pergantian tahun, setelah emas mencetak level terendah dalam sepekan pada sesi sebelumnya.
Sementara itu, harga perak spot anjlok tajam 5,6% ke USD 72,15 per ounce. Penurunan ini memangkas sebagian keuntungan setelah perak sempat menembus USD 80 per ounce di awal pekan, level tertinggi yang belum pernah dicapai sebelumnya.
Kinerja Luar Biasa Logam Mulia Sepanjang 2025
Meskipun terkoreksi, pergerakan tersebut terjadi di penghujung tahun yang luar biasa bagi logam mulia. Sepanjang tahun 2025, harga emas telah melonjak lebih dari 64%.
Kinerja ini menempatkan emas pada jalur kinerja tahunan terbaik sejak 1979, sekaligus mencatatkan tiga tahun berturut-turut di zona positif. Reli emas ditopang oleh berbagai faktor, mulai dari pemangkasan suku bunga AS, ketegangan tarif perdagangan, hingga kuatnya permintaan dari produk exchange-traded fund (ETF) serta bank sentral global.
Kinerja perak bahkan jauh melampaui emas pada tahun 2025. Logam ini, yang beberapa hari terakhir mengalami volatilitas tinggi, diperkirakan membukukan kenaikan hampir 150% secara tahunan, terbaik sejak 1979.
Lonjakan harga perak dipicu oleh kombinasi pasokan yang ketat, tingginya permintaan dari India, kebutuhan industri, serta kebijakan tarif.
Dampak Kebijakan Margin CME Group
Di sisi lain, CME Group, salah satu bursa perdagangan komoditas terbesar di dunia, menyatakan pada Selasa bahwa margin untuk kontrak berjangka emas, perak, platinum, dan paladium akan kembali dinaikkan setelah penutupan perdagangan Rabu.
Dalam pernyataannya, CME menyebut keputusan tersebut diambil “as per the normal review of market volatility to ensure adequate collateral coverage” atau sebagai bagian dari peninjauan rutin terhadap volatilitas pasar guna memastikan kecukupan jaminan.
Kebijakan ini berarti para trader harus menyetor dana jaminan lebih besar saat membuka posisi. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi risiko gagal bayar ketika kontrak jatuh tempo.
Sebelumnya, kenaikan margin yang dilakukan CME di awal pekan juga sempat memicu penurunan tajam harga emas dan perak berjangka pada perdagangan Senin.






