Fiksi

Puisi Akromah Zonic: Menggugat Objektifikasi Tubuh Perempuan dalam Setiap Lekuk dan Pandangan

Sebuah karya sastra yang menggugah, berjudul “Perempuan dan Tubuhnya” karya , resmi dirilis pada Jumat, 10 Januari 2026, pukul 22:36 WIB. Puisi ini secara tajam menyoroti isu objektifikasi dan pengawasan yang terus-menerus dialami perempuan dalam masyarakat, memprovokasi refleksi mendalam tentang nilai dan martabat.

Menggambarkan Tekanan Sosial dan Dehumanisasi

Melalui bait-baitnya, Zonic menggambarkan bagaimana “Kobaran pandang menyoroti tubuh perempuan” dan “Ke mana ia pergi, gerombolan mata elang itu mengikuti”. Gambaran ini secara lugas menunjukkan tekanan sosial dan tatapan menghakimi yang kerap membayangi setiap gerak perempuan. Bahkan, “Samar-samar tawa mereka terdengar di belakang” mengindikasikan adanya ejekan atau perendahan yang menyertai pengawasan tersebut.

Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.

Puisi ini juga mengkritik pandangan yang mereduksi perempuan menjadi sekadar objek. “Tubuh berjalan dianggap benda mati,” tulis Zonic, menggambarkan dehumanisasi yang terjadi. Perempuan, yang seharusnya bebas menikmati hidup, justru “berusaha menikmati sedikit dari banyak hal yang sebenarnya bisa dinikmati” karena ancaman objektifikasi. Lebih jauh, Zonic menyoroti bahaya eksploitasi, di mana mereka yang memandang dengan “kelaparan” akan “melahapnya jika ada kesempatan,” dan bahkan “mengubur jiwanya hidup-hidup jika melawan.”

Nilai Tak Tergantikan dan Ketahanan Tubuh Perempuan

Dalam ringkasan Mureks, puisi ini juga mengajak pembaca untuk merenungkan nilai intrinsik tubuh perempuan. Zonic menantang, “Coba berdiri tanpa sehelai busana Engkau pasti terpana pada pantulan cerminmu sendiri Tiap inci lekuk tubuhmu begitu seksi.” Ini adalah ajakan untuk mengakui keindahan dan keunikan tubuh dari sudut pandang diri sendiri, bukan dari pandangan orang lain yang merendahkan. Namun, ironisnya, “Begitulah para mangsa menatapmu, bahkan ketika semuanya tersembunyi,” menunjukkan bahwa objektifikasi tidak mengenal batasan pakaian atau privasi.

Pesan kuat lainnya yang disampaikan puisi ini adalah tentang nilai tak terhingga dari tubuh perempuan. “Tubuh perempuan terlalu berharga untuk sebuah angka,” tegas Zonic, menolak segala bentuk komodifikasi atau penawaran kehormatan. Bahkan dalam menghadapi kekerasan atau penodaan, puisi ini menegaskan ketahanan dan keindahan yang abadi: “Dinodai pun tak akan hilang keindahannya.”

Puisi “Perempuan dan Tubuhnya” ini dilengkapi dengan ilustrasi siluet seorang perempuan sedang menari, yang bersumber dari pexels.com/Antoni Shkraba Studio. Karya ini merupakan bagian dari kontribusi penulis komunitas dan telah melalui proses peninjauan ketat oleh tim redaksi, memastikan standar kualitas, kredibilitas, dan kepercayaan yang tinggi.

Mureks