Sabtu, 10 Januari 2026, menjadi penanda hadirnya sebuah karya puisi yang sarat makna, berjudul ‘Salju Pertama di Januari’. Puisi ini dipersembahkan oleh Dahayu, seorang penulis komunitas, yang berhasil merangkai kata-kata menjadi sebuah narasi emosional tentang ingatan dan kerinduan yang tak terduga.
Dalam puisinya, Dahayu menggambarkan momen ketika butiran salju pertama turun di awal tahun, memicu serangkaian pertanyaan dan refleksi pribadi. Ia menuliskan, “Butiran salju turun di hadapanku mengapa? mengapa ia datang sekarang tepat ketika diriku sudah tak ingat lagi bagaimana ia menemani kekosongan yang rasanya sudah pudar, memburam.”
Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!
Penggalan bait tersebut secara gamblang menunjukkan kejutan dan kebingungan sang penyair akan kembalinya sebuah memori atau perasaan yang dianggap telah lama hilang. Salju, yang seringkali menjadi simbol kemurnian atau awal yang baru, di sini justru menjadi pemicu ingatan akan kekosongan masa lalu yang kini kembali menyapa.
Puisi ini melanjutkan dengan penggambaran salju sebagai entitas yang kembali menyapa setelah lama terabaikan. “Butiran salju menyapaku kembali menjadi yang pertama di awal tahun tepat ketika aku memalingkan rasa mengira ia telah lenyap dimusnah begitulah kata orang-orang kemarin,” demikian Dahayu menuturkan, mengisyaratkan adanya penolakan atau upaya melupakan yang kini dihadapkan pada kenyataan.
Puncak emosi dalam puisi ini tergambar saat salju memeluk erat, seolah menyampaikan kerinduan. “Butiran salju memelukku erat berbisik ia merindu pada mataharinya dan aku, diam tak beranjak selangkah pun entah mengapa ia harus tiba menemuiku menjadi salju pertama di Januari.” Baris ini menyiratkan hubungan mendalam antara salju dan mataharinya, yang bisa diinterpretasikan sebagai kerinduan akan sesuatu yang esensial atau bagian dari diri yang hilang. Penulis sendiri, dalam puisinya, memilih untuk diam, menerima kehadiran tak terduga ini.
Puisi ‘Salju Pertama di Januari’ ini merupakan salah satu karya yang ditulis oleh penulis komunitas dan telah melalui proses peninjauan cermat oleh tim redaksi. Catatan Mureks menunjukkan, karya-karya seperti ini memperkaya khazanah sastra digital dengan sentuhan personal dan reflektif dari berbagai penulis.






