Puisi berjudul “Pengecut Sepanjang Zaman” karya Elisabet Sibuea yang dipublikasikan pada 10 Januari 2026, pukul 20:27 WIB, menyajikan sebuah potret tajam tentang karakter individu yang diselimuti ego dan kemalasan. Karya ini menggambarkan sosok yang, meskipun telah menempuh pendidikan jauh, justru kembali dengan membawa ego yang membengkak.
Dalam bait-baitnya, Sibuea secara lugas menyoroti kontradiksi antara potensi dan realitas. Ia menulis, “Tubuhnya pergi belajar sejauh-jauhnya, Namun yang pulang adalah egonya.” Kalimat ini mengindikasikan bahwa perjalanan mencari ilmu tidak selalu berbanding lurus dengan perkembangan karakter positif, melainkan bisa memperkuat sisi negatif seseorang.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Sosok “pengecut” yang digambarkan juga ditandai dengan keengganan untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan tenaga, namun sangat mudah melampiaskan agresi. “Tangannya tidak kuat mengangkat air, Menampar tidak butuh banyak tenaga,” tulis Sibuea, melanjutkan dengan pernyataan tegas, “Jelas mana yang dia pilih menjadi hobinya.” Ini menggambarkan pilihan sadar untuk mengambil jalan pintas kekerasan daripada usaha yang konstruktif.
Lebih lanjut, puisi ini mengkritik kemalasan dan kurangnya tanggung jawab. “Kakinya tidak kuat mengikuti rotasi bumi, Lagipula tidak ada yang memarahi jika berbaring sepanjang hari,” demikian bunyi bait yang menggambarkan individu yang pasif dan tidak menghadapi konsekuensi atas kemalasannya. Catatan Mureks menunjukkan, penggambaran ini relevan dengan fenomena sosial di mana individu tertentu dapat menghindari tanggung jawab tanpa teguran berarti.
Puncak dari kritik Sibuea terletak pada ambisi sosok ini untuk melanggengkan karakternya. “Dia ingin berbagai ras mewarisi darahnya dan membentuk pengecut sepanjang zaman,” ungkap puisi tersebut. Ini bukan sekadar kritik terhadap satu individu, melainkan peringatan akan bahaya penyebaran mentalitas pengecut yang berpotensi merusak tatanan sosial.
Ironisnya, individu dengan moralitas rendah ini justru berambisi untuk memimpin. “Hidup menjadi kepala, dengan moral di bawah kaki,” tutup Sibuea, memberikan gambaran akhir tentang sosok yang mendambakan kekuasaan tanpa didasari integritas moral. Puisi ini menjadi refleksi mendalam tentang nilai-nilai kepemimpinan dan integritas di tengah masyarakat.






