Fiksi

Kisah Inspiratif Desire Oktavia: Perjuangan Menembus Gerbang Perguruan Tinggi Penuh Haru

Pada Minggu, 11 Januari 2026, sebuah karya sastra yang menyentuh hati berjudul “Aku dan Masa Depanku” dari menjadi sorotan. Puisi yang dipublikasikan pada 10 Januari 2026 pukul 21:07 WIB ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cerminan perjuangan seorang individu dalam mengejar impian , sebuah perjalanan yang penuh dedikasi dan ketekunan.

Dalam puisinya, Desire menggambarkan betapa beratnya proses belajar yang ia jalani. “Tumpukan buku-buku itu menjulang tinggi hingga menembus angkasa,” tulisnya, melukiskan gunung pengetahuan yang harus ia taklukkan. Setiap hari adalah pertarungan, di mana ia harus “memecahkan berbagai persoalan melebihi kapabilitasku,” sebuah pengakuan akan tantangan yang kerap melampaui batas kemampuannya.

Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Perjalanan ini tidak luput dari pengorbanan emosional dan fisik. Desire secara gamblang menceritakan, “Tetesan air mata dan keringat berlomba jatuh memenuhi pipiku.” Rasa penat yang “merujam ke dalam daksa” menjadi teman setia dalam setiap langkah. Namun, di balik kelelahan itu, tersimpan semangat pantang menyerah. “Tak pernah ku keluhkan rasaku sedetikpun,” tegasnya, menunjukkan ketabahan luar biasa.

Harapan menjadi lentera yang tak pernah padam. Keyakinan akan masa depan yang cerah selalu membimbingnya, seperti yang ia ungkapkan, “Karena ku tau akan ada pelangi indah yang menanti setelah hujan deras tiba.” Di tengah keheningan malam, ia menundukkan diri, memohon kepada Sang Pencipta, “Hingga menyongsong fajar sujudku tak pernah kulepaskan.” Doa-doa itu, ia berharap, “terdengar hingga ke antariksa.”

Dukungan keluarga juga menjadi pilar penting dalam perjuangannya. Desire tak lupa memohon restu dari kedua orang tuanya, mengutip, “Ayah Bunda, doa ku mungkin tidak lengkap tanpa bantuan doamu.” Kalimat ini menyoroti betapa kuatnya ikatan batin dan peran doa orang tua dalam mencapai sebuah cita-cita.

Setelah melewati badai perjuangan, “pelangi itu datang kepadaku,” sebuah metafora untuk keberhasilan yang dinanti. Semua letih dan pengorbanan terbayar lunas. “Gerbang perguruan tinggi yang kunanti siap ku tapaki!” serunya penuh sukacita, menandai babak baru dalam kehidupannya. Mureks merangkum, kisah Desire Oktavia ini adalah bukti nyata bahwa ketekunan, doa, dan restu orang tua adalah kunci untuk membuka pintu impian.

Dengan semangat baru, Desire Oktavia menyatakan kesiapannya, “Aku siap menjalani babak baru kehidupanku!” Kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak calon mahasiswa yang tengah berjuang, mengingatkan bahwa setiap tetes keringat dan air mata adalah investasi berharga untuk masa depan yang lebih cerah.

Mureks