Fiksi

Di Balik Keheningan Malam: Kisah Batin Seseorang yang Ingin Tenggelam Namun Enggan Mati

Di tengah keheningan malam musim dingin, sebuah gambaran batin yang mendalam terlukis di tepi danau yang tenang. Seseorang, mengenakan pakaian serba hitam, tampak mengayunkan kakinya perlahan di permukaan air. Telapak kakinya yang biru-biru samar memancarkan keraguan sekaligus kegelisahan yang mendalam, seolah bergelut dengan keputusan besar.

Narasi puisi karya Imas Hanifah N, yang dipublikasikan pada Sabtu, 10 Januari 2026, ini menggambarkan sebuah kontemplasi eksistensial. Di dalam benak individu tersebut, yang jauh dari sunyi, tergambar kekacauan batin. Gelas-gelas berjejer namun retak, piring-piring tertata namun pecah, wastafel penuh sampah, lemari kaca dipenuhi kecoak, dan meja-meja yang tinggal cerita tanpa nama-nama. Ini adalah metafora kuat tentang kehancuran internal dan kekosongan yang dirasakan.

Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.

Pergulatan Antara Keinginan dan Penolakan

Dalam alur cerita yang mengalir, muncul pertanyaan-pertanyaan yang tak terucap, “Bagaimana ia bisa sampai kemari tanpa tersesat?” dan “Bagaimana ia bisa sampai kemari tanpa ditemani?”. Pertanyaan ini menyoroti isolasi dan kebingungan akan perjalanan hidup yang telah dilalui. Ia sendiri tidak ingat kapan ia berangkat atau kapan ia harus kembali, sebuah indikasi kehilangan arah dan identitas.

Di hadapan kecipak air yang dimainkan anak-anak katak, keinginan untuk tenggelam semakin kuat, namun disertai penolakan untuk mati. “Ia semakin ingin tenggelam, tapi tidak ingin mati,” demikian bunyi narasi tersebut. Sebuah paradoks yang menggambarkan keinginan untuk mengakhiri penderitaan tanpa benar-benar mengakhiri keberadaan. Keinginan untuk berenang pun muncul, tetapi tanpa hasrat untuk bergerak ke sana ke sini, mencerminkan kelelahan dan ketidakberdayaan.

Musim Dingin yang Tidak Pasti dan Urgensi Kembali

Puisi ini juga menangkap “percakapan rahasia antara teratai dan telaga atau berudu dengan induknya,” sebuah simbolisasi koneksi alami yang mungkin terasa jauh atau terputus dari individu tersebut. Percakapan ini, menurut catatan Mureks, kemudian dihapus oleh rintik-rintik hujan dan dikaburkan oleh badai, menunjukkan kerapuhan dan ketidakpastian dalam mencari makna atau dukungan.

Musim dingin yang tidak pasti ini menjadi latar belakang yang kuat bagi urgensi untuk kembali. “Ia harus segera kembali, sebelum benar-benar kehilangan dirinya sendiri,” sebuah seruan untuk menemukan kembali jati diri sebelum terlarut dalam kehampaan. Kondisi ini menegaskan bahwa musim yang tidak pasti bukan hanya tentang cuaca, melainkan juga tentang kondisi batin yang rapuh dan membutuhkan penyelamatan diri.

Karya Imas Hanifah N dari Tasikmalaya pada tahun 2026 ini, meskipun berbentuk puisi, memberikan gambaran mendalam tentang pergulatan batin yang universal, mengajak pembaca untuk merenungkan makna kehilangan dan harapan di tengah ketidakpastian.

Mureks