Tren

Psikolog UGM: Orang Tua Wajib Bijak Digital Dampingi Gen Z dan Alpha Hadapi Risiko Online

Psikolog Universitas Gajah Mada (UGM), Tina Afiatin, menekankan pentingnya peran orang tua untuk menjadi bijak digital dalam mendidik generasi Z dan generasi Alpha. Pernyataan ini disampaikan mengingat kedua generasi tersebut mendominasi penggunaan internet di Indonesia, dengan total mencapai 229,4 juta jiwa.

“Dalam mendidik generasi digital, kita harus menjadi bijak digital, bukan digital immigrant yang resisten terhadap perubahan, dan bukan pula digital native yang naif terhadap risiko, melainkan individu yang bijaksana dalam memanfaatkan teknologi untuk kemajuan yang lebih bermartabat,” ujar Tina dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat (10/1/2026).

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Menurut catatan Mureks, data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025 menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia telah mencapai 80,66 persen atau sekitar 229,4 juta jiwa. Angka ini didominasi oleh pengguna dari Generasi Z, Generasi Y, dan Generasi Alpha.

Tantangan dan Risiko Era Digital

Tina Afiatin mengemukakan bahwa transformasi digital memang membawa manfaat luar biasa, namun juga menyimpan risiko signifikan jika tidak dikelola secara bijak. Oleh karena itu, diperlukan sinergi eko-sistemik yang terencana, berkelanjutan, dan saling menguatkan antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan media.

Ia juga memaparkan sejumlah tantangan perkembangan individu yang muncul di era digital, antara lain:

  • Perubahan pola perkembangan kognitif.
  • Dinamika sosio-emosional.
  • Proses pembentukan identitas diri.
  • Paparan konten tidak sehat.
  • Berbagai risiko online yang dapat berdampak pada kesehatan mental dan karakter anak.

“Dalam konteks ini, keluarga perlu ditempatkan sebagai basis utama perkembangan individu. Perlu juga ada transformasi pola pengasuhan dari pendekatan kontrol menuju kolaborasi, penguatan resiliensi keluarga, serta peran strategis ayah dalam pengasuhan digital,” jelas Tina.

Hal tersebut, menurutnya, sejalan dengan komitmen Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN dalam memperkuat fungsi keluarga melalui berbagai program pembangunan keluarga dan pengasuhan berbasis siklus kehidupan.

“Sinergi adalah kunci, bukan dalam arti menyeragamkan, melainkan menyatukan peran dengan tetap menjaga karakter dan otonomi masing-masing keluarga,” pungkas Tina Afiatin.

Mureks